Loading

Ketik untuk mencari

Palestina

Hamas Bongkar Pengkhianatan Abbas: Rencana Licik ke Lebanon Gagal Sebelum Terlaksana

Netizen Arab Murka Abbas Berencana Bantu Padamkan Kebakaran Israel

POROS PERLAWANAN — Sejumlah faksi Perlawanan Palestina dan kelompok nasionalis Lebanon kini tengah bersiaga menghadapi potensi dampak kunjungan Presiden Otoritas Palestina, Mahmoud Abbas ke Beirut, yang dijadwalkan pada 21 Mei mendatang. Kekhawatiran mereka berakar dari dugaan kuat bahwa kunjungan tersebut bukan sekadar agenda diplomatik, melainkan bagian dari skenario regional untuk melikuidasi sisa-sisa kekuatan Perlawanan Palestina di Lebanon.

Kepada Tehran Times pada Selasa 13 Mei, sumber internal Hamas mengungkap bahwa pihaknya telah mencium adanya koordinasi terselubung antara Abbas, Washington, Riyadh, dan sejumlah unsur di Beirut untuk mempercepat proses pelucutan senjata faksi-faksi Perlawanan Palestina di Lebanon. Langkah inilah yang disebut sebagai “rekomendasi keamanan” Otoritas Palestina kepada Pemerintah Lebanon.

Serangan Politik dan Keamanan Terhadap Hamas

Ketegangan meningkat setelah Dewan Pertahanan Tertinggi Lebanon mengeluarkan pernyataan resmi yang secara tidak langsung menargetkan Hamas dengan dalih menjaga “keamanan nasional Lebanon”. Presiden Lebanon, Joseph Aoun pun menegaskan bahwa negaranya “tidak dapat terus membayar harga” dari konflik Palestina, seraya mengeklaim tetap mendukung perjuangan Palestina.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Lebanon, Youssef Rajji, disebut sedang mengupayakan penutupan kantor-kantor Hamas di Beirut dan wilayah lain. Langkah tersebut, menurut sumber diplomatik, selaras dengan tekanan dari Kedutaan Besar AS dan Arab Saudi di Beirut, serta menjadi bagian dari kampanye untuk mengklasifikasikan Hamas sebagai organisasi teroris, selevel dengan Jund al-Sham dan Usbat al-Ansar.

Operasi Propaganda dan Roket Palsu

Puncak skenario ini, menurut narasumber Hamas, adalah insiden peluncuran roket dari Lebanon ke Palestina utara yang diduduki Zionis pada awal Mei. Sumber tepercaya menyebut bahwa peluncuran tersebut merupakan aksi rekayasa, dirancang untuk memprovokasi aparat Lebanon guna mengkriminalisasi Hamas menjelang kedatangan Abbas.

Namun, Hamas segera membongkar skema tersebut dan menyatakan siap bekerja sama dengan tentara Lebanon. Mereka menyatakan komitmen untuk menyerahkan siapa pun anggota yang terlibat, asalkan proses hukum tidak digunakan sebagai alat politisasi atau pemaksaan syarat sepihak.

Skenario Besar: Pelucutan Perlawanan dan Permukiman Pengungsi

Menurut pengamat regional dan data yang dihimpun dari berbagai sumber intelijen lokal, rencana ini merupakan bagian dari proyek jangka panjang AS untuk:

1. Melucuti seluruh senjata faksi Perlawanan Palestina di Lebanon,
2. Mengubah status kamp pengungsi Palestina menjadi wilayah sipil yang terintegrasi,
3. Memaksa warga Palestina untuk berasimilasi secara permanen di Lebanon,
4. Menfasilitasi migrasi paksa sebagian pengungsi ke negara-negara ketiga sebagai buruh murah.

Sumber Palestina juga mengaitkan rencana ini dengan kebijakan rezim de facto HTS di Suriah, yang disebut telah membatasi penuh gerak politik dan sosial faksi-faksi Perlawanan Palestina, terutama di wilayah-wilayah pengungsian seperti Yarmouk.

Abbas dalam Agenda Dekonstruksi Palestina

Kehadiran Abbas di Beirut dipandang oleh banyak faksi sebagai bagian dari konsesi sistematis terhadap agenda Zionis-AS. Dalam konteks ini, Hamas dan kelompok-kelompok Perlawanan menganggap Otoritas Palestina tidak lagi mewakili aspirasi rakyat Palestina, melainkan justru menjadi alat untuk “mendisiplinkan” Perlawanan dan menghapus identitas nasional Palestina dari kamp-kamp pengungsian.

Satu hal yang kini jelas, bahwa rencana pengkhianatan ini telah terbaca sebelum terlaksana. Kali ini, Kelompok-kelompok Perlawanan seperti Hamas tidak akan tinggal diam.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *