Iran: Serangan Balasan Baru Dimulai, Israel Sengaja Tutupi Kerusakan
POROS PERLAWANAN — Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi mengecam keras sensor Militer Israel yang berupaya menutup informasi mengenai dampak serangan balasan Iran terhadap Wilayah Pendudukan. Ia menegaskan operasi militer Iran terhadap agresi Israel “baru saja dimulai”.
Dalam pernyataan melalui akun X pada Rabu 11 Maret, Araghchi menyebut Rezim Israel berusaha menyembunyikan dampak serangan rudal Iran terhadap wilayah yang diduduki Rezim tersebut.
“Netanyahu tidak ingin dunia melihat bagaimana Angkatan Bersenjata Iran menghukum Israel atas agresinya”, tulis Araghchi, seperti dilaporkan Press TV.
Ia menambahkan bahwa laporan dari lapangan menunjukkan kerusakan besar akibat serangan rudal Iran.
“Ini yang dilaporkan pasukan kami di lapangan: kehancuran besar akibat rudal kami, para pemimpin mereka panik, dan sistem pertahanan udara mereka dalam kekacauan”, lanjut Araghchi yang kemudian menegaskan, “Kami baru saja memulai”.
Konflik ini bermula pada 28 Februari ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan agresi militer terhadap Iran yang menewaskan Pemimpin Revolusi Islam, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei serta sejumlah Komandan Militer senior.
Sebagai respons, Iran meluncurkan gelombang serangan rudal dan drone yang menargetkan Wilayah Pendudukan Israel serta pangkalan militer Amerika Serikat di sejumlah negara Kawasan.
Rezim Israel dilaporkan menerapkan sensor militer ketat untuk membatasi penyebaran informasi terkait dampak serangan tersebut.
Meski demikian, sejumlah media berbahasa Ibrani mengakui adanya korban jiwa, yang menunjukkan bahwa serangan rudal Iran telah menimbulkan dampak signifikan terhadap Israel.
Dalam pernyataan lain, Araghchi juga menyebut pejabat Amerika Serikat memanipulasi pasar global dengan menyebarkan informasi yang tidak benar.
Menurutnya, langkah tersebut tidak akan mampu menahan dampak ekonomi dari konflik yang sedang berlangsung.
“Ini tidak akan menyelamatkan mereka dari tsunami inflasi yang mereka timbulkan terhadap rakyat Amerika”, tegas Araghchi.
Ia menilai pasar global kini menghadapi guncangan besar yang bahkan disebut lebih parah dibandingkan krisis energi besar sebelumnya, termasuk embargo minyak Arab 1973, Revolusi Islam Iran 1979, serta invasi Irak ke Kuwait pada 1990.
Araghchi juga menegaskan tentang tuduhan bahwa Iran berencana menyerang Amerika Serikat atau pasukan Amerika secara pre-emptive adalah tudingan yang tidak benar.
“Tujuan dari kebohongan ini hanya untuk membenarkan operasi ‘kesalahan besar’, petualangan berbahaya yang dirancang Israel dan dibayar oleh rakyat Amerika”.
