Iran Tegaskan Kepimpinanannya di Industri Nuklir di Tengah Tekanan Asing
POROS PERLAWANAN – Dilansir Al Mayadeen, Iran kembali menegaskan komitmennya untuk mengembangkan industri nuklirnya. Negeri Mullah menekankan bahwa pihaknya tetap menjadi kekuatan terdepan dalam teknologi nuklir sipil, meskipun ada upaya berkelanjutan untuk menggagalkan kemajuannya.
Mohammad Eslami, Kepala Organisasi Energi Atom Iran, mengatakan pada Senin 1 Desember bahwa kekuatan-kekuatan musuh “tidak ingin Iran hadir dalam industri nuklir,” namun negara tersebut tetap berada “di garis depan bidang ini.”
Eslami menekankan pentingnya melawan apa yang ia gambarkan sebagai “narasi bias” yang dipromosikan oleh musuh-musuh Iran selama bertahun-tahun terkait aktivitas nuklirnya. Ia mengatakan, respons terbaik adalah menyoroti pencapaian secara transparan dan terus melaksanakan proyek-proyek berdampak dan inovatif.
Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi menyatakan bahwa rakyat Iran telah “menghancurkan semua ilusi pendudukan Israel dan Washington.” Dia menegaskan bahwa Tehran melanjutkan program nuklirnya sesuai kerangka kerja Badan Energi Atom Internasional (IAEA) dan kewajiban internasional.
Araghchi menekankan, pendekatan Iran tetap berakar pada pengembangan yang legal dan damai, serta menolak tekanan politik apa pun yang bertujuan membatasi kemampuan teknologinya. Pernyataan ini muncul di tengah pengawasan Barat yang meningkat dan upaya untuk menekan Iran terkait pengembangan keahlian nuklirnya yang terus berkembang.
Araghchi pada November silam menyatakan bahwa Iran “tidak akan menerima penghapusan pengayaan uranium.” Menlu Iran menggambarkan program nuklir sebagai “simbol kebanggaan dan kedaulatan” bagi negara tersebut, dan mencatat bahwa Iran telah “membayar harganya dengan para syuhada dan pengorbanan yang besar.”
Araghchi menekankan bahwa setiap “perjanjian yang mencakup penghapusan pengayaan uranium akan dianggap sebagai pengkhianatan oleh Tehran” dan “tidak akan dapat diterima dalam keadaan apa pun.”
Dia menambahkan, kerja sama antara Iran dan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) terus berlanjut. Namun ia juga menjelaskan bahwa “kerja sama ini tidak mencakup inspeksi fasilitas yang menjadi sasaran serangan baru-baru ini,” sambil mencatat bahwa Iran tidak akan berinteraksi dengan Badan tersebut mengenai situs-situs yang dibom oleh Amerika Serikat dan Israel.
Dia menunjuk pada pekerjaan teknis IAEA baru-baru ini di pembangkit listrik nuklir Bushehr sebagai contoh kerja sama terkait fasilitas yang tidak diserang.
Komentar Araghchi mencerminkan posisi tegas Iran di tengah tekanan yang meningkat, saat Barat mendesak pembatasan lebih luas terhadap program nuklir damai Iran melalui manuver politik di IAEA dan sanksi yang terus berlanjut.
Pejabat Iran berargumen bahwa upaya ini bertujuan untuk memaksakan kondisi yang melanggar Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT), terutama hak Iran untuk pengayaan uranium, sambil mengabaikan ancaman keamanan yang dihadapi Iran setelah serangan langsung AS-Israel terhadap infrastruktur nuklirnya.
