IRGC: Kawasan akan Jadi ‘Neraka’ Jika Israel dan AS Nekat Serang Fasilitas Nuklir Iran
POROS PERLAWANAN – Komandan Divisi Dirgantara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Brigadir Jenderal Amir Ali Hajizadeh memperingatkan bahwa Iran akan memberikan respons yang menghancurkan atas setiap serangan terhadap situs nuklirnya, terlepas dari keberhasilan serangan tersebut.
“Jika Amerika Serikat dan Zionis mencoba menyerang pusat nuklir kami, api yang kami nyalakan di kawasan ini akan berada dalam skala dan cakupan yang tak terukur,” ujarnya dalam sebuah wawancara dengan media nasional yang disiarkan pada Selasa 18 Februari.
Baru-baru ini, media Barat, terutama The Washington Post, melaporkan dugaan rencana Israel yang didukung AS untuk menyerang situs nuklir Iran pada paruh pertama 2025.
Laporan ini muncul di tengah meningkatnya ancaman militer dari tokoh-tokoh penting AS dan Israel, termasuk Presiden Donald Trump, Penasihat Keamanan Nasional Mike Waltz, dan Perdana Menteri Benyamin Netanyahu. Trump secara terbuka mengeluarkan pernyataan provokatif tentang kemungkinan “menghancurkan” dan “mengebom habis-habisan Iran”. Sementara itu, Waltz mengulangi frasa diplomatik yang sering digunakan oleh pejabat AS, yakni “semua opsi tersedia di atas meja”, sedangkan Netanyahu menyerukan perlunya “menyelesaikan pekerjaan” terhadap Iran.
Namun, Hajizadeh menepis ancaman tersebut sebagai bentuk “perang psikologis”.
“Apa yang sebenarnya dicari musuh kita adalah intimidasi psikologis, bukan perang,” tegasnya.
Dia juga memperingatkan bahwa Iran memiliki cukup banyak target di Kawasan untuk serangan rudal berbiaya rendah.
Sambil mengejek kemampuan musuh, ia menyatakan: “Jika kami mengerahkan 500 atau 1.000 pesawat tanpa awak alih-alih 150, apa yang bisa mereka lakukan?”
Menurutnya, perang besar tidak akan terjadi karena musuh memahami harga dari tindakan ceroboh semacam itu.
Kesiapan Operasional dan Operasi True Promise III
Hajizadeh menegaskan bahwa Operasi True Promise III—serangan balasan langsung ketiga Iran terhadap Israel—akan segera dilaksanakan. Operasi ini mengikuti True Promise I pada April 2024, yang dilancarkan sebagai respons atas pengeboman konsulat Iran di Damaskus, dan True Promise II pada Oktober 2024, yang menargetkan pangkalan militer Israel setelah pembunuhan Pemimpin Hamas Ismail Haniyeh, Pemimpin Hizbullah Sayyid Hasan Nasrallah, dan Jenderal IRGC Abbas Nilforoushan.
Serangkaian operasi ini mengejutkan banyak analis militer dunia dan menunjukkan kemampuan Iran untuk mempertahankan kepentingannya di Kawasan.
“Zionis salah perhitungan dengan berasumsi bahwa Iran akan menghindari konfrontasi langsung,” kata Hajizadeh, merujuk pada serangan Tel Aviv pada April 2024.
Ia menambahkan bahwa operasi Iran dilakukan berdasarkan konsensus dan garis merah yang gagal dikenali oleh Israel. Hajizadeh mengungkapkan bahwa 75% rudal yang diluncurkan dalam True Promise II berhasil mencapai sasaran, membuat sistem pertahanan Israel kewalahan dan menunjukkan kegagalan jaringan radar mereka dalam mencegat rudal Iran.
Pergeseran Strategis dan Dampak Regional
Hajizadeh mengaitkan perkembangan terkini di Asia Barat dengan Operasi Badai Al-Aqsa—serangan Hamas pada Oktober 2023—yang ia sebut sebagai “kekalahan strategis yang tidak dapat diperbaiki bagi Israel”.
Meskipun banyak korban jiwa yang berjatuhan sejak saat itu, operasi tersebut memicu solidaritas global dengan Palestina dan mempercepat hilangnya legitimasi rezim Zionis di mata dunia.
Jenderal IRGC tersebut juga menyoroti kegagalan kapal perang AS yang dikerahkan di Mediterania dan Laut Merah untuk menghadapi serangan rudal Iran. Meskipun dikoordinasikan bersama pasukan AS dan Israel, jaringan radar regional terbukti tidak efektif menghadapi serangan Iran.
Menurut IRGC, sedikitnya sepuluh negara terlibat membantu Israel selama Operasi True Promise I. AS memainkan peran utama dengan mengoordinasikan upaya pertahanan udara multinasional dari Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar. Inggris mengerahkan jet tempur untuk menembak jatuh pesawat nirawak Iran di wilayah udara Irak dan Suriah, sementara Prancis mencoba mencegat rudal dan drone Iran menggunakan kapal Angkatan Lautnya. Yordania, yang menjadi tuan rumah Komando Pusat AS (CENTCOM), juga aktif mencegat proyektil Iran yang melewati wilayah udaranya. Namun faktanya, upaya mereka semua gagal.
Kemajuan Militer dan Inovasi Pertahanan
Hajizadeh memaparkan transformasi Iran dari importir senjata bekas menjadi pengekspor sistem pertahanan canggih, termasuk pesawat nirawak pertahanan “358” buatan dalam negeri. Pesawat ini mampu menempuh jarak hingga 120 km dengan tenaga penggerak mesin dan disebut-sebut telah menginspirasi pengembangan sistem serupa di luar negeri.
Ia juga menyatakan bahwa rudal balistik Iran kini memiliki jangkauan hingga 2.000 km, dan tidak ada hambatan teknis untuk memperluas jangkauan lebih jauh.
“Jika kami mengungkap kota rudal baru setiap minggu, akan dibutuhkan waktu dua tahun untuk menghabiskan seluruh persenjataan kami,” ujarnya, merujuk pada fasilitas rudal dan pesawat tanpa awak bawah tanah yang tersebar di seluruh negeri.
Selain itu, Iran saat ini sedang mengembangkan sistem pertahanan antibalistik yang dijadwalkan untuk dipasang di Teheran dan kota-kota besar lainnya pada 2026.
Di akhir wawancara, Hajizadeh menegaskan kembali kesiapan militer Iran, tetapi ia juga mengingatkan pentingnya fokus pada ketahanan ekonomi domestik.
“Tantangan utama kita bukanlah perang, tetapi terletak di dalam negeri. Kita harus memperkuat front ini agar mampu menghadapi segala situasi.”
