Ironi Trump yang Terperangkap dalam Rawa Strategis ‘Kaum Sarungan’ Yaman
POROS PERLAWANAN – Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, tampaknya semakin terperosok dalam lumpur strategi yang ia ciptakan sendiri di Yaman. Mungkin awalnya ia membayangkan bahwa beberapa kali serangan udara dan gertakan melalui Twitter sudah cukup untuk menundukkan kelompok Ansharullah (Houthi). Sayangnya, realitas tidak seindah fantasinya. Alih-alih menyerah, Houthi justru merespons dengan serangan balik yang membuat armada laut AS keteteran. Rudal-rudal pertahanan AS terus terkuras, dan yang tersisa bagi Trump kini hanyalah ancaman kosong yang semakin hari terdengar seperti kaset rusak.
Pernyataan Trump: Kemarahan atau Keputusasaan?
Mengutip laporan dari Al Jazeera pada Senin 17 Maret, Trump kembali memainkan skenario favoritnya: menyalahkan Iran. Dengan nada yang tampaknya lebih mencerminkan frustrasi daripada ketegasan, ia menuduh bahwa setiap peluru yang ditembakkan oleh Houthi sebenarnya adalah perbuatan Iran.
“Serangan apa pun akan ditanggapi dengan kekuatan yang lebih besar, dan Iran akan dimintai pertanggungjawaban,” tegasnya, seolah-olah dunia belum pernah mendengar ancaman serupa sebelumnya.
Mungkin Trump membayangkan Iran akan ketakutan dan segera menarik dukungannya kepada Houthi, tapi kenyataannya? Iran tetap tenang, dan Houthi tetap melancarkan serangan. Bagi Teheran, ancaman semacam ini tak lebih dari lagu lama yang sudah kehilangan daya kejutnya.
Strategi Militer dan Propaganda: Ketika Rencana Tak Sesuai Harapan
Trump mungkin berharap bahwa dengan mengerahkan kekuatan militer besar-besaran dan propaganda media, Houthi akan gentar. Namun, yang terjadi justru sebaliknya: Houthi semakin percaya diri, serangan mereka semakin terarah, dan yang paling mengkhawatirkan bagi Washington, mereka tampak siap bertarung dalam jangka panjang.
Sementara itu, Trump semakin kehilangan opsi. Setiap rudal yang ditembakkan untuk menangkis serangan Houthi berarti satu langkah lebih dekat menuju kehabisan amunisi. Tentu saja, AS masih punya banyak stok, tapi jika setiap serangan kecil dari Houthi memaksa AS mengeluarkan rudal pertahanan mahalnya, siapa yang lebih diuntungkan dalam jangka panjang?
Iran: Tidak Takut, Tidak Mundur
Trump tampaknya percaya bahwa dengan mengancam Iran, ia bisa menekan Teheran untuk menghentikan dukungannya kepada Houthi. Logika ini mungkin berfungsi di dunia imajinasi Trump, tetapi di dunia nyata, Iran bukanlah aktor yang mudah ditekan hanya dengan ancaman verbal. Jika AS benar-benar mendorong Iran ke sudut, maka mereka selalu punya opsi yang jauh lebih menyakitkan bagi Washington: menutup Selat Hormuz, yang akan melumpuhkan perdagangan minyak global dalam hitungan jam.
Lebih dari itu, Iran memiliki jaringan aliansi yang solid, baik di Yaman, Lebanon, maupun Irak. Jika Trump ingin bermain-main dengan ancaman, Iran bisa dengan mudah menggandakan tekanannya di berbagai Poros Perlawanan.
Masa Depan: Gertakan Tidak Lagi Berarti
Bagi AS, skenario terbaik mungkin adalah mencari cara untuk mundur dengan alasan yang bisa diterima publik, karena jelas bahwa strategi gertakan ini sudah kehilangan taringnya. Houthi tetap berdiri tegak, Iran tetap tidak terpengaruh, dan Trump? Ia semakin tampak seperti seorang pemain poker yang kehabisan kartu bagus tetapi masih pura-pura percaya diri.
Mungkin sudah waktunya bagi Washington untuk menerima kenyataan: di medan perang Yaman, bukan hanya kecanggihan senjata yang menentukan hasil, tetapi juga ketahanan dan strategi jangka panjang. Namun ironisnya, dalam dua hal itu, tampaknya bukan lagi AS yang memegang kendali, melainkan “Kaum Sarungan” Yaman. [PP/MT]
