Loading

Ketik untuk mencari

Iran

Jenderal Naqdi: Amerika Lebih Mudah Kami Akses di Kawasan Ketimbang Israel

POROS PERLAWANAN — Wakil Koordinator Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Brigadir Jenderal Mohammad Reza Naqdi mengatakan bahwa posisi Amerika Serikat di Kawasan lebih mudah diakses dan lebih rentan dibandingkan Israel. Pernyataan itu disampaikannya saat tampil dalam program War Affair pada Senin 20 Oktober.

Menukil Kayhan pada Selasa 21 Oktober, Jenderal Naqdi mengatakan, “Dengan perangkat yang sangat mendasar, Amerika dapat berada di bawah tekanan berat di sini. Amerika sangat rentan di kawasan tersebut.”

Kemudian ia menambahkan bahwa bila dilihat dari aspek ekonomi, keamanan dalam negeri, pengiriman pasukan, hubungan dengan negara tetangga, dan relasi internasional secara keseluruhan, Amerika pada dasarnya tidak berada dalam posisi untuk memasuki perang berskala penuh.

Menurut petinggi IRGC tersebut, logika Amerika adalah masuk, menyerang, lalu segera mundur. “Perang ini bukan perang Israel; Israel adalah alat dan agen, tetapi ini adalah ‘perang Amerika’.” Ia juga mengeklaim sejumlah peristiwa selama konflik, termasuk kerusakan kapal-kapal AS di Laut Merah belum pernah terjadi sebelumnya bagi Amerika.

Al-Udeid sebagai Target Balasan

Menjelaskan alasan pemilihan Pangkalan Al-Udeid sebagai target operasi balasan, Jenderal Naqdi berkata: “Kami harus memilih tempat yang memiliki makna dan pesan yang jelas. Al-Udeid adalah markas besar pasukan AS di Kawasan; ini merupakan pangkalan komando AS terbesar di luar wilayah Amerika. Memilih titik ini berarti mendeklarasikan kehadiran yang berwibawa di lapangan. Jika terjadi agresi, inilah respons kami.” Ia menilai keputusan tersebut cerdas dan tepat, serta menegaskan: “Tidak ada target yang lebih penting atau berharga daripada Al-Udeid.”

Soal komunikasi dengan negara tuan rumah pangkalan, yaitu Qatar, ia menyerahkan urusan itu kepada politisi. “Bagian itu terserah para politisi; kami hanya melakukan tugas kami dan menembak jatuh rudal. Mereka lebih tahu apa yang harus dilakukan terkait masalah ini.” Menurutnya, ketika keputusan dibuat pada level politik, wajar jika pejabat diberi tahu untuk menyiapkan respons diplomatik dan menjaga hubungan.

Taktik dan Jangkauan Serangan

Menjawab apakah menyerang pangkalan AS lebih mudah dibanding menyerang Israel, Jenderal Naqdi menyatakan, “Ya, jauh lebih mudah. Israel berjarak sekitar 1.300 kilometer dan hampir semua sistem pertahanan dunia terkonsentrasi di sana. Pangkalan AS di Kawasan tidak memiliki pertahanan sebanyak itu sehingga lebih rentan.”

Ia merinci taktik yang dapat dipakai, termasuk penggunaan roket murah yang tak terarah untuk mengecoh pertahanan, diikuti rudal utama. “Pangkalan-pangkalan ini berjarak 500–600 kilometer dari kita. Kita bahkan dapat menggunakan metode penipuan; misalnya menembakkan roket sangat murah dan tidak terarah untuk menyerang pertahanan mereka, kemudian meluncurkan rudal utama tepat di depan mereka.”

Jenderal Naqdi juga menyinggung masalah akurasi. Menurutnya, pada target jauh seperti Israel, potensi kesalahan tembak bisa mencapai ratusan kilometer dan berisiko mengenai warga sipil atau wilayah yang tidak menjadi sasaran. “Namun ketika target dekat, kesalahannya hanya beberapa ratus meter. Jika sebuah pangkalan selebar beberapa kilometer ditargetkan di bagian tengah, risiko korban sipil sangat kecil,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa memaksa sistem pertahanan lawan menembak berulang kali akan menguras lini produksi rudal pertahanan mereka karena kerentanannya tinggi.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *