Loading

Ketik untuk mencari

Palestina

‘Jumat Berdarah’ di Gaza: Dalam 36 Jam Terakhir, 250 Warga Palestina Gugur Akibat Serangan Brutal Israel

POROS PERLAWANAN — Serangan brutal terbaru Israel di Jalur Gaza kembali mencatatkan hari paling berdarah dalam babak genosida yang berlangsung sejak Oktober. Dalam waktu 36 jam terakhir, sedikitnya 250 warga Palestina gugur syahid, sebagian besar dari mereka adalah perempuan dan anak-anak.

Menurut laporanAl Jazeera pada Jumat 16 Mei, Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan Gaza, Dr. Munir Al-Barsh menyatakan bahwa wilayah itu sedang menyaksikan “pembersihan etnis paling mengerikan” sejak agresi militer dimulai.

“Penjajah Zionis menggunakan senjata canggih yang dilarang secara internasional untuk menghantam fasilitas sipil,” ujar Al-Barsh. Ia menambahkan bahwa dampaknya tidak hanya membunuh warga sipil, tetapi juga meningkatkan jumlah janin cacat akibat radiasi dan bahan kimia beracun dari senjata tersebut.

Al-Barsh melaporkan bahwa lebih dari 150 korban luka telah dievakuasi ke Rumah Sakit Al-Ouda dan Rumah Sakit Indonesia, dua dari sedikit fasilitas medis yang masih bertahan di tengah kehancuran. Namun, ia memperingatkan bahwa sistem kesehatan Gaza kini hampir lumpuh total.

“Kami menghadapi kekurangan ekstrem alat medis, staf kesehatan, dan unit perawatan intensif. Rumah sakit sudah tidak mampu menampung lonjakan korban,” tegasnya.

Sementara itu, Direktur Rumah Sakit Lapangan Gaza, Marwan Al-Hams menyampaikan bahwa setidaknya 120 orang masih hilang dan diduga tertimbun di bawah reruntuhan bangunan yang dibombardir.

Ia juga membeberkan data krisis medis terkini:

1. 60% stok obat telah habis
2. 80% peralatan medis tidak lagi berfungsi
3. Ruang operasi dan ICU dikepung pasien luka berat

Data terbaru dari Kementerian Kesehatan Gaza mencatat bahwa hanya dalam 12 jam terakhir, 103 orang syahid, termasuk 67 di wilayah Kota Gaza dan Gaza Utara, dengan lebih dari 200 luka-luka.

Dalam 24 jam terakhir, jenazah 109 syuhada berhasil dievakuasi dan 216 korban luka dirawat di fasilitas medis yang tersisa.

Serangan hari Jumat ini mengingatkan dunia pada istilah lama yang kini hidup kembali: “Jumat Berdarah”. Namun, kali ini bukan dalam bingkai sejarah masa lalu, melainkan genosida yang tengah berlangsung—dalam keterasingan total dari suara kemanusiaan dunia.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *