Jurnalis Senior Israel Ungkap Tujuan Sensor Sistematis Media oleh Rezim dan Militer Zionis dalam Perang dengan Iran
POROS PERLAWANAN – Jurnalis senior Israel, Raviv Drucker mengungkap adanya penyensoran sistematis oleh Rezim dan Militer Israel terhadap media domestik selama konflik militer dengan Iran baru-baru ini. Dalam siaran langsung Channel 13 Israel pada Minggu malam, Drucker menyampaikan bahwa Israel secara aktif mencegah publikasi informasi krusial, termasuk serangan rudal Iran terhadap pangkalan militer strategis Gelilot.
“Saya berada di lokasi saat rudal menghantam salah satu pangkalan. Saya mencoba mendokumentasikan kejadian tersebut, tapi dicegah secara fisik oleh aparat keamanan,” ujar Drucker dalam siarannya.
Bukan Demi Keamanan, Tapi Demi Narasi
Drucker menekankan bahwa larangan liputan tidak terkait keamanan nasional langsung, karena lokasi serangan sudah diketahui oleh pihak Iran.
“Iran tahu persis koordinat target mereka. Sensor ini bukan untuk melindungi rahasia militer, tapi untuk melindungi persepsi publik dalam negeri, agar terlihat seolah-olah Israel tidak mengalami kerugian besar,” katanya.
Ia menambahkan bahwa semua wartawan Israel di lapangan mengetahui pangkalan tersebut diserang, namun tidak satu pun diberi izin untuk memublikasikan gambar atau laporan independen.
Kejadian di Gelilot Antara Tugas Sipil dan Kewajiban Jurnalis
Dalam narasi personalnya, Drucker menceritakan bagaimana ia menyaksikan langsung efek serangan rudal Iran saat tengah kembali dari supermarket bersama anak-anaknya, pascaserangkaian pengungsian ke tempat perlindungan udara.
Ia mendapati pangkalan militer Gelilot terbakar dan dikepung asap, dengan akses ditutup oleh mobil-mobil polisi. Ketika mencoba merekam situasi dengan ponselnya, ia dihadang aparat.
“Mereka menyerang saya seperti saya ancaman bagi negara. Setelah saya menunjukkan kartu pers, nada mereka mereda, tapi mereka tetap melarang perekaman dengan alasan perintah sensor militer,” ungkapnya.
Kritik Terhadap Peran Media: Jurnalis atau Mitra Diam?
Drucker mempertanyakan peran dan integritas jurnalisme di Israel dalam situasi perang. Menurutnya, pers telah berubah dari lembaga pengawasan menjadi alat pendukung narasi negara.
“Apakah kita masih penjaga kebenaran? Atau kita telah menjadi mitra dalam kesunyian dan kebohongan? Dalam perang sebelumnya kita memperjuangkan tiap kata. Sekarang kita diam menerima perintah,” kata Drucker.
Ia mengakui bahwa rasa takut dianggap “tidak patriotik” membuat banyak jurnalis enggan menantang otoritas sensor.
Validasi Telegraph dan Pangkalan yang Diserang
Pernyataan Drucker diperkuat oleh laporan surat kabar The Telegraph, yang menyebut lima pangkalan strategis Israel diserang rudal Iran dalam perang 12 hari tersebut. Salah satunya adalah pangkalan Gelilot, yang juga disebut Drucker sebagai lokasi yang ia saksikan secara langsung.
Laporan tambahan dari situs Walla, portal berita berbahasa Ibrani mengonfirmasi bahwa otoritas sensor Israel bahkan memantau saluran pribadi warga sipil, termasuk akun nenek-nenek Israel, untuk mencegah penyebaran informasi non-resmi terkait serangan dan korban.
Sensor Dijadikan Alat Politik?
Drucker menutup pernyataannya dengan sebuah kesimpulan tegas: “Sensor hari ini tidak bekerja untuk menyelamatkan nyawa, tapi untuk melindungi narasi. Yang dikhawatirkan bukan ancaman militer, tapi keruntuhan persepsi kemenangan.”
Pernyataan ini menyulut kembali debat lama di Israel tentang batas antara keamanan nasional dan kebebasan pers, serta peran pers dalam mempertahankan integritas demokrasi di tengah konflik bersenjata.
