Loading

Ketik untuk mencari

Analisa

Kayhan: Washington Post Ungkap Negosiasi AS–Iran sebagai Operasi Penipuan Pra-Serangan

POROS PERLAWANAN — Analisis Kayhan yang terbit Sabtu 20 Desember menyoroti laporan terbaru Washington Post yang mengungkap bahwa Perang 12 Hari terhadap Iran didahului oleh operasi penipuan terkoordinasi antara Amerika Serikat dan Rezim Zionis Israel. Dalam skema tersebut, jalur “negosiasi” tidak dimaksudkan untuk menyelesaikan konflik, melainkan dijadikan kedok strategis guna mempersiapkan serangan militer. Temuan ini dinilai sejalan dengan peringatan yang telah disampaikan Kayhan berbulan-bulan sebelum pecahnya perang.

Dalam laporannya, Washington Post mengutip sejumlah sumber Amerika dan Zionis yang menyatakan bahwa Washington dan Tel Aviv secara sadar membangun narasi diplomasi, perbedaan pendapat semu, serta dinamika media yang direkayasa sebagai bagian dari satu skenario terpadu. Diplomasi, pemberitaan, hingga penjadwalan perundingan disebut sebagai elemen dari operasi penipuan yang telah dirancang sebelumnya.

Surat kabar tersebut mencatat bahwa pada pertengahan April, Presiden AS, Donald Trump menyampaikan adanya “jendela 60 hari” untuk mencapai kesepakatan nuklir dengan Iran, periode yang berakhir pada Kamis, 12 Juni. Selama rentang waktu itu, Trump dan Perdana Menteri Israel, Benyamin Netanyahu menampilkan kesan adanya perbedaan pandangan terkait opsi militer terhadap Iran. Namun, menurut Washington Post, perbedaan tersebut tidak lebih dari sandiwara politik untuk menyesatkan opini publik dan para pengambil keputusan.

Serangan Israel terhadap Iran akhirnya dimulai pada dini hari 13 Juni. Beberapa jam sebelumnya, Trump masih menyatakan kepada wartawan bahwa serangan Israel “sepenuhnya mungkin terjadi”, sembari secara bersamaan menampilkan sikap seolah lebih mengutamakan jalur negosiasi. Dualisme ini disebut sebagai bagian dari pola penipuan yang sama.

Washington Post juga menyoroti peran laporan media mengenai dugaan perselisihan AS–Israel, termasuk kabar rencana pertemuan antara Kepala Mossad, David Barnea dan Utusan Khusus Trump, Steve Witkoff, menjelang putaran baru perundingan nuklir tidak langsung yang dijadwalkan berlangsung pada 15 Juni. Menurut laporan tersebut, Israel telah mengambil keputusan final untuk menyerang, dan Amerika Serikat sepenuhnya mengetahui serta menyetujui langkah itu. Dengan demikian, penciptaan suasana negosiasi dinilai bukan sebagai tanda itikad baik, melainkan umpan strategis.

Seorang sumber yang dikutip Washington Post secara terbuka mengakui bahwa laporan mengenai perselisihan antara Trump, Netanyahu, dan Witkoff adalah rekayasa. Persepsi tersebut, menurut sumber itu, sengaja dipelihara karena membantu kelancaran perencanaan serangan tanpa menarik perhatian luas.

Temuan ini memperkuat peringatan lama Kayhan mengenai pembagian peran “polisi baik dan polisi jahat” antara Washington dan Tel Aviv, yang dinilai bukan perbedaan nyata, melainkan taktik klasik untuk memberikan tekanan berlapis terhadap Iran.

Bahkan setelah serangan dan pembunuhan yang dilakukan Rezim Zionis dimulai, Pemerintahan Trump masih melakukan apa yang disebut Washington Post sebagai “upaya diplomatik terakhir” dengan mengirimkan tawaran rahasia kepada Iran. Tawaran tersebut dilaporkan berisi tuntutan berat, termasuk penghentian total pengayaan uranium dan pemutusan dukungan terhadap Poros Perlawanan, syarat yang dinilai lebih menyerupai ultimatum penyerahan diri ketimbang kesepakatan.

Menurut Kayhan, skenario ini telah diprediksi jauh sebelum perang pecah. Dua bulan sebelum konflik, surat kabar tersebut secara eksplisit melaporkan koordinasi penuh antara Trump dan Netanyahu dalam edisi 9 Mei dan 3 Juni, serta memperingatkan para negosiator Iran agar tidak terjebak dalam apa yang disebut sebagai “penipuan negosiasi Trump”.

Peringatan tersebut disampaikan di tengah munculnya pandangan pro-Barat di dalam negeri Iran yang menilai Trump sebagai “pebisnis rasional” dan membicarakan potensi investasi besar Amerika Serikat di Iran. Kayhan sejak lama menilai pendekatan tersebut sebagai bentuk naivitas strategis.

Dalam laporan-laporan sebelumnya, Kayhan menegaskan bahwa Trump dan Netanyahu bukan sekadar sekutu, melainkan aktor dengan agenda yang sama dan bergerak dalam koordinasi penuh. Dukungan terbuka Trump terhadap kebijakan Israel—mulai dari pemindahan Kedutaan Besar AS ke Yerusalem, pengakuan atas Dataran Tinggi Golan yang Diduduki, hingga apa yang disebut “Kesepakatan Abad Ini”, disebut sebagai bukti aliansi strategis tersebut.

Kini, pengakuan Washington Post dipandang sebagai konfirmasi langsung atas analisis itu. Laporan media Amerika tersebut sekaligus membantah pandangan yang menyebut Amerika Serikat hanya “terseret” oleh kebijakan Israel atau masih dapat diajak bernegosiasi secara rasional.

Menurut analisis Kayhan, pengalaman Perang 12 Hari menunjukkan bahwa ketika “ilusi diplomasi” menggantikan pemahaman realistis terhadap musuh, hasilnya bukanlah penurunan ancaman, melainkan eskalasi konflik. Dalam kerangka ini, diplomasi tanpa dukungan kekuatan pencegah justru memperbesar risiko agresi.

Laporan Washington Post pada akhirnya mengungkap satu kesimpulan mendasar: dalam pendekatan Amerika Serikat, terutama di bawah Pemerintahan Trump, negosiasi bukanlah instrumen penyelesaian konflik, melainkan bagian integral dari strategi perang. Diplomasi, media, janji ekonomi, dan pesan-pesan rahasia dipadukan dalam satu formasi tekanan untuk memaksakan kehendak melalui kekuatan.

Dengan demikian, pengakuan media arus utama Amerika ini dinilai menutup ruang bagi ilusi lama tentang kemungkinan memecah hubungan strategis AS–Israel atau menahan agresi Washington melalui konsesi. Seperti yang ditegaskan Kayhan, keamanan nasional tidak dibangun di atas optimisme semu, melainkan pada pemahaman jernih tentang musuh dan keseimbangan kekuatan.

Perang 12 Hari telah berakhir, namun pertarungan narasi masih berlanjut. Dalam konteks ini, satu fakta kian menonjol, bahwa peringatan yang disampaikan sebelum ledakan bukanlah bentuk pesimisme, melainkan pembacaan realitas. Kini, realitas itu bahkan diakui oleh sumbernya sendiri.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *