Menlu Iran Peringatkan AS: Pangkalan Militer Akan Jadi Sasaran Jika Konflik Pecah
POROS PERLAWANAN – Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi menegaskan bahwa apabila perang dengan Amerika Serikat pecah dan Washington kembali menyerang fasilitas nuklir Iran, maka AS harus bersiap menghadapi serangan balasan Iran terhadap pangkalan-pangkalan militernya di mana pun berada.
“Tidak penting di mana pangkalan-pangkalan itu berada,” ujar diplomat senior itu kepada Al Jazeera dalam sebuah wawancara eksklusif yang ditayangkan pada 17 Desember dengan judul “Exclusive Interview: Iran’s Foreign Minister Says Strikes Won’t Stop Nuclear Programme”.
Dalam wawancara tersebut, Araghchi juga menegaskan solidaritas Iran kepada Qatar. Ia menekankan bahwa sasaran Iran adalah basis militer Amerika Serikat, bukan negara Qatar.
Sebelumnya, Rezim Israel melancarkan agresi militer secara terbuka dan tanpa provokasi terhadap Iran pada 13 Juni 2025. Serangan tersebut memicu perang selama 12 hari yang menewaskan lebih dari 1.000 orang di Iran, termasuk komandan militer, ilmuwan nuklir, serta warga sipil.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump menyatakan bahwa negaranya “bertanggung jawab” atas perang tersebut sejak awal. Namun, Amerika Serikat kemudian terlibat langsung dengan membom tiga fasilitas nuklir Iran, sebuah tindakan yang dinilai sebagai pelanggaran serius terhadap hukum internasional.
Sebagai balasan, Angkatan Bersenjata Iran melancarkan serangan terhadap sejumlah situs strategis di Wilayah Pendudukan, termasuk Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar, yang merupakan basis militer Amerika Serikat terbesar di Asia Barat.
Usai serangan tersebut, Trump mengeklaim bahwa seluruh misil yang ditembakkan Iran berhasil dicegat oleh sistem pertahanan AS, dan satu proyektil yang lolos jatuh di area terbuka tanpa menimbulkan kerusakan berarti.
Namun, klaim itu segera dipertanyakan oleh media Barat. Sejumlah laporan yang disertai dokumentasi visual menunjukkan adanya kerusakan nyata di pangkalan udara tersebut. Citra satelit yang dianalisis oleh The Associated Press, misalnya, memperlihatkan bahwa serangan Iran merusak kubah geodesik yang berfungsi melindungi peralatan komunikasi sensitif milik AS.
Belakangan, Kepala Juru Bicara Pentagon, Sean Parnell mengakui bahwa satu misil balistik Iran memang berhasil menghantam Pangkalan Udara Al Udeid. “Satu misil balistik Iran menghantam Pangkalan Udara Al Udeid pada 23 Juni, sementara sisanya berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara Amerika Serikat dan Qatar,” ujarnya dalam pernyataan resmi.
“Pangkalan Udara Al Udeid tetap beroperasi penuh dan mampu menjalankan misinya,” tambah Parnell.
Meski demikian, pejabat Iran menilai tingkat kerusakan jauh lebih besar dibandingkan yang dilaporkan otoritas AS maupun media Barat. Dalam sebuah wawancara, Kepala Keamanan Iran, Ali Larijani menyatakan bahwa sepuluh dari sebelas misil yang diluncurkan ke pangkalan tersebut berhasil mencapai sasaran.
Serangan terhadap Al Udeid pada Juli lalu merupakan kali kedua Iran menargetkan basis militer Amerika Serikat di kawasan tersebut. Serangan pertama terjadi pada 2020 terhadap Pangkalan Udara Al Asad di Irak, sebagai balasan atas pembunuhan Komandan Utama Pasukan Anti-Teror Iran, Jenderal Qasim Soleimani, oleh AS di Bandara Baghdad. Insiden itu pada awalnya diremehkan, meskipun otoritas Militer AS kemudian mengakui bahwa sejumlah prajuritnya mengalami cedera otak traumatis.
Amerika Serikat diketahui telah menginvestasikan miliaran Dolar untuk membangun dan memelihara 19 basis militernya yang tersebar di Asia Barat, termasuk di Bahrain, Arab Saudi, Kuwait, dan Uni Emirat Arab. Sekitar 50.000 personel Militer AS ditempatkan di kawasan tersebut di bawah komando Pentagon.
Di bagian lain wawancara, Araghchi menyampaikan harapannya agar konflik serupa tidak kembali terulang. “Saya berharap hal ini tidak terjadi lagi, dan Amerika Serikat segera menyadari bahwa perang harus dihentikan,” ujarnya, seraya menegaskan, tidak ada “solusi militer” untuk menyelesaikan sengketa terkait program nuklir Iran.
“Kami tidak percaya pada Amerika Serikat. Namun, kami selalu siap untuk berdialog,” tegasnya.
