Loading

Ketik untuk mencari

Amerika

Kelimpungan Hadapi Tekanan Politik di Dalam Negerinya Sendiri, Trump Malah Tuding Iran ‘Keras Kepala dan Angkuh’

POROS PERLAWANAN – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump mengatakan proses mencapai kesepakatan dengan Iran masih membutuhkan waktu. Dalam wawancara dengan NBC News yang dikutip IRNA pada Sabtu 6 Juni, Trump menyebut warga Iran sebagai pihak yang “keras kepala dan angkuh”, sehingga perundingan menuju kesepakatan tidak akan berlangsung cepat.

Berbicara di Wisconsin usai bertemu para petani Amerika, Trump mengeklaim Iran hingga kini belum mencapai kesepakatan dengan Washington untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama beberapa bulan.

“Mereka keras kepala, mereka angkuh. Ada hal-hal yang tidak pernah mereka bayangkan harus dilakukan, tetapi pada akhirnya akan mereka lakukan. Mereka tidak punya pilihan dan proses ini membutuhkan waktu,” kata Trump.

Pernyataan tersebut disampaikan ketika Washington dan Teheran masih terlibat perundingan untuk mempertahankan gencatan senjata dan meredakan ketegangan yang kembali meningkat dalam beberapa pekan terakhir.

Menurut berbagai laporan, kedua negara mencapai kesepakatan penghentian sementara konflik pada April lalu yang kemudian beberapa kali diperpanjang. Namun, insiden saling serang di sekitar Selat Hormuz dalam beberapa hari terakhir kembali memicu ketegangan dan menimbulkan ketidakpastian terhadap proses diplomatik yang sedang berlangsung.

Trump juga menanggapi kritik yang menilai Pemerintahannya terlalu lambat mencapai kesepakatan dengan Iran.

“Menyelesaikan persoalan seperti ini membutuhkan waktu bertahun-tahun,” ujarnya.

Dalam wawancara yang sama, Trump kembali melontarkan sejumlah tuduhan terhadap Republik Islam Iran tanpa menyertakan bukti pendukung. Ia juga membandingkan konflik saat ini dengan keterlibatan militer Amerika Serikat di Vietnam.

“Baru tiga bulan sejak perang ini dimulai. Perang Vietnam berlangsung selama 19 tahun. Saya masih berada di bulan ketiga dan semua orang bertanya kapan kemenangan akan diraih,” katanya.

Trump selanjutnya menyampaikan klaim mengenai kemampuan militer Iran. Meski menyebut sebagian besar infrastruktur produksi rudal dan drone Iran telah mengalami kerusakan, ia mengakui Teheran masih mempertahankan sebagian kemampuan militernya.

Menurut Trump, Iran masih memiliki sejumlah rudal dan pesawat nirawak yang dapat digunakan meskipun kapasitasnya tidak lagi setara dengan sebelum konflik berlangsung.

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio mengatakan operasi militer yang oleh Pemerintahan Trump disebut “Epic Fury” telah berakhir. Rubio berdalih operasi tersebut bersifat defensif dan dilakukan sebagai respons atas serangan Iran terhadap kapal-kapal di sekitar Selat Hormuz.

Meski menyebut kesepakatan dengan Iran masih membutuhkan waktu, Trump kembali menegaskan Pemerintahannya akan segera menentukan arah penyelesaian konflik.

“Kami akan segera menyelesaikan persoalan Iran. Hasilnya akan sangat tegas, baik melalui kesepakatan tertulis maupun melalui jalan yang jauh lebih sulit,” kata Trump saat berbicara di hadapan para petani di Wisconsin.

Pernyataan itu kontras dengan sejumlah klaim sebelumnya yang menyebut kesepakatan dengan Iran sudah berada pada tahap akhir. Pada 23 Mei, Trump menyatakan rancangan kesepakatan telah disusun dan tinggal menunggu penyelesaian detail terakhir. Pada 1 Juni, ia kembali mengatakan optimistis kesepakatan tentang perpanjangan gencatan senjata dan pembukaan kembali Selat Hormuz dapat dicapai dalam waktu satu pekan.

Hingga kini, masa depan perundingan antara Washington dan Teheran tentang stabilisasi gencatan senjata dan pembukaan kembali Selat Hormuz masih diliputi ketidakpastian. Di saat yang sama, Pemerintahan Trump menghadapi tekanan politik dalam negeri akibat inflasi dan kenaikan harga energi yang terus menjadi sorotan publik Amerika Serikat.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *