Loading

Ketik untuk mencari

Palestina

Krisis ‘Brain Drain’: Ancaman Kehancuran Ekonomi Israel

POROS PERLAWANAN – Para peneliti dan akademisi Israel memperingatkan bahwa gelombang emigrasi elite intelektual negara itu ke luar negeri semakin meningkat, terutama setelah Operasi Badai Al-Aqsa. Mereka menegaskan bahwa kelompok ini memegang peran krusial dalam menopang ekonomi Israel, sehingga kepergian mereka dapat berujung pada keruntuhan ekonomi.

Eksodus Besar Ilmuwan dan Profesional Israel

Menurut laporan Tasnim News Agency pada Minggu 16 Maret, fenomena migrasi terbalik yang semakin intensif merupakan salah satu dampak paling nyata dari Operasi Badai Al-Aqsa. Para peneliti Israel mencatat bahwa lebih dari 10.000 ilmuwan telah meninggalkan negara itu menuju 30 negara lain.

Seorang peneliti Israel yang mengajar di Universitas Cambridge, Inggris, Michael Riggio meneliti fenomena “brain drain” ini dan melaporkan bahwa jumlah warga Israel yang tinggal di Cambridge meningkat empat kali lipat dalam enam tahun terakhir.

“Bahkan tanpa mempertimbangkan lonjakan jumlah warga Israel di Cambridge, kita sudah bisa melihat realitas pengurasan otak ilmuwan dan dokter terkemuka dari universitas-universitas Israel,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa dalam dua tahun terakhir, kebijakan Pemerintahan sayap kanan Israel serta perang besar di Jalur Gaza telah memicu gelombang pengungsian besar-besaran, termasuk di kalangan akademisi dan elite profesional.

Organisasi Yahudi Akui Brain Drain Israel

Fenomena ini juga diakui oleh Science Abroad, sebuah organisasi Yahudi yang selama 19 tahun terakhir membantu ilmuwan dan dokter Israel beradaptasi di luar negeri. Organisasi ini telah menjalin hubungan dengan lebih dari 11.000 ilmuwan, peneliti, dan dokter Israel di lebih dari 30 negara, serta mengoperasikan 34 cabang di berbagai negara, termasuk Amerika Serikat, Kanada, Inggris, Prancis, Jerman, Australia, Swiss, dan Austria.

Dalam laporan yang disusun jurnalis Mirav Orlozuru, disebutkan bahwa Science Abroad awalnya bertujuan untuk membimbing ilmuwan Israel di luar negeri agar mereka kembali setelah menyelesaikan pendidikan atau pelatihan. Namun, kondisi politik yang memburuk dan perang yang berkecamuk di berbagai front telah menyebabkan lonjakan besar dalam jumlah ilmuwan yang memilih menetap di luar negeri.

Mayoritas Ilmuwan Israel Enggan Kembali

Direktur Eksekutif Science Abroad, Nadav Davani mengungkapkan bahwa sekitar 70 persen ilmuwan dan peneliti Israel yang bermigrasi tidak memiliki niat untuk kembali. Lebih dari dua pertiga warga Israel yang meninggalkan negara itu untuk studi atau pekerjaan akhirnya memilih menetap di luar negeri secara permanen.

Sebuah survei terhadap dokter Israel di luar negeri menunjukkan bahwa 31 persen dari mereka tidak kembali ke Israel setelah menyelesaikan pelatihan mereka. Science Abroad menekankan bahwa fenomena ini sangat mengkhawatirkan mengingat Israel sudah mengalami krisis kekurangan tenaga medis.

Survei terbaru yang dilakukan Organisasi tersebut pada 2024 menunjukkan bahwa awalnya, 61 persen elite dan akademisi Israel yang ingin belajar ke luar negeri berencana kembali ke Israel. Namun, setelah menyelesaikan pendidikan dan beradaptasi dengan kehidupan di luar negeri, hanya 16 persen yang tetap ingin kembali, sementara 31 persen justru mempertimbangkan emigrasi permanen.

Sebanyak 52 persen responden lainnya belum menentukan di mana mereka ingin tinggal dalam lima tahun ke depan, tetapi separuh dari mereka mengaku terbuka untuk menetap di luar negeri. Data ini menunjukkan bahwa meskipun sebagian elite Israel awalnya berencana kembali, realitas di luar negeri membuat mereka mengubah keputusan, sementara mereka yang sudah berniat bermigrasi semakin mantap untuk tidak kembali.

Dampak Brain Drain terhadap Ekonomi Israel

Survei tersebut juga mengungkap alasan utama emigrasi ilmuwan Israel. Sekitar 45 persen responden menyebut kebijakan Pemerintah sayap kanan, termasuk perubahan sistem peradilan, sebagai faktor utama. Sementara itu, 47 persen menyatakan bahwa perang adalah alasan mereka memilih menetap di luar negeri. Hanya sekitar 6 persen yang mengaku merasa tidak nyaman di universitas asing karena sikap anti-Israel di kalangan akademisi internasional, sehingga mereka terpaksa kembali ke Israel.

Dampak dari brain drain ini semakin jelas dalam riset yang dilakukan pakar kebijakan publik dari Universitas Tel Aviv, Profesor Dan Ben-David. Menurutnya, sekitar 287.000 warga Israel tergolong dalam kelompok elite yang berperan besar dalam pertumbuhan ekonomi negara tersebut.

“Di antara elite Israel, 6 persen adalah dokter, 10 persen adalah akademisi, dan 6 persen bekerja di sektor teknologi tinggi yang menyumbang lebih dari setengah ekspor Israel,” ungkapnya dalam wawancara dengan Haaretz.

Ben-David memperingatkan bahwa eksodus massal tenaga ahli ini dapat membawa Israel ke dalam krisis ekonomi yang serius.

“Hanya ada sekitar 9.000 individu yang melatih para dokter, insinyur, dan profesor senior di Israel. Mereka adalah pemikir paling cemerlang di negara ini. Jika ratusan atau bahkan ribuan dari mereka memutuskan untuk beremigrasi, maka ekonomi Israel akan berada di ambang kehancuran,” tegasnya.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *