Mantan Duta Besar AS: Tuntutan Pembalasan Iran Membangun Prevensi
POROS PERLAWANAN – Seorang mantan diplomat dan analis militer Amerika, Chas Freeman berpendapat bahwa ancaman terhadap infrastruktur Iran hanyalah gertakan belaka. Menurutnya, Amerika Serikat tidak pernah memiliki kemampuan untuk melaksanakan ancaman tersebut. Ia menekankan bahwa negosiasi bagi Amerika selalu menjadi alat untuk penipuan. Dia menilai, keinginan untuk membalas dendam kini telah menjadi kerangka kerja yang kokoh untuk membangun kebijakan prevensi Iran.
Fars melaporkan, mantan Duta Besar AS untuk Arab Saudi dan mantan Asisten Menteri Pertahanan AS mengakui bahwa Washington selalu menggunakan negosiasi sebagai alat untuk menipu. Ia menegaskan bahwa kendali atas Selat Hormuz secara praktis berada di tangan Iran, dan AS tidak mampu mengoperasikan koridor yang diinginkannya di selatan selat tersebut. Ia menggambarkan tanggapan Iran terhadap tindakan ini sangat tegas.
Diplomat ini juga menekankan, Iran ingin menguras kemampuan AS tanpa memasuki perang skala besar. Namun, jika tindakan teror oleh AS dan Israel terus berlanjut dan siklus agresi terus berlangsung, ada kemungkinan Iran, dengan mengandalkan pendekatan balas dendam yang kini semakin kuat, akan memajukan kebijakan prevensinya, baik di bidang nuklir maupun dalam menghadapi tindakan teroris, dengan melaksanakan serangan yang jauh lebih luas dan menyakitkan, serta meninggalkan konsep “tanggapan yang proporsional.”
Memorandum yang Runtuh dan Kendali Selat Hormuz di Tangan Iran
Freeman menganggap klaim Trump mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz dan perubahan posisi AS menjadi “penjaga” jalur air tersebut tidak sesuai dengan realitas lapangan. Ia menjelaskan, Iran secara praktis menguasai Selat tersebut selama perang. Nota kesepahaman 60 hari antara Teheran dan Washington secara implisit mengakui posisi ini.
Namun, AS segera mencoba menciptakan rute alternatif di perairan dangkal dekat pantai Oman agar kapal-kapal dapat lewat dengan pemancar yang dimatikan dan di luar pengawasan Iran. Tindakan ini tidak luput dari perhatian Teheran, sehingga dengan menembaki kapal-kapal yang lewat atau memberikan peringatan militer, Iran sekali lagi menegaskan kendalinya atas rute tersebut, dan AS pun kembali melancarkan serangannya terhadap Iran.
Hasilnya, nota kesepahaman tersebut praktis runtuh. Tiga minggu setelah tenggat waktu yang ditentukan berlalu, bukan hanya negosiasi mengenai Lebanon, aset Iran, Selat Hormuz, atau program nuklir yang tidak dimulai, tetapi kedua belah pihak sekali lagi memasuki siklus konfrontasi militer.
Iran Ingin Kuras Kemampuan AS Tanpa Masuki Perang Skala Besar
Dalam penilaian Freeman, dengan runtuhnya nota kesepahaman tersebut, konflik antara Iran dan AS telah memasuki pola kronis di mana Washington berusaha semaksimal mungkin untuk menantang kendali Iran atas Selat Hormuz. Teheran pun menanggapi upaya ini dengan menegaskan otoritasnya atas jalur pelayaran. Situasi ini meningkatkan kemungkinan pertukaran serangan berkala dan pada akhirnya eskalasi perang yang lebih luas.
Freeman mengeklaim, keengganan Iran untuk menyerang Israel secara besar-besaran adalah disengaja, karena mereka tahu bahwa masuknya kembali Tel Aviv ke dalam perang adalah tujuan yang dikejar oleh Netanyahu. Sebaliknya, Teheran memusatkan tekanan militer pada sisa-sisa kehadiran AS di Kawasan, dengan menargetkan pangkalan dan peralatan di Kuwait, Bahrain, Yordania, dan hingga tingkat tertentu, Qatar.
Serangan-serangan ini tampaknya difokuskan pada radar, peralatan pendukung, depot amunisi, dan beberapa sistem artileri jarak jauh, agar kapasitas operasional AS untuk menyerang Iran secara bertahap terkuras, tanpa Iran harus memicu skenario yang diinginkan Netanyahu dan memperluas cakupan perang secara instan dengan menyerang Israel secara langsung saat ini.
Negosiasi bagi AS Hanyalah Alat Penipuan dan Operasi Psikologis
Mantan Asisten Menteri Pertahanan AS itu mengakui, Pemerintahan Trump menganggap negosiasi bukan sebagai proses untuk kompromi dan mencapai kesepakatan yang seimbang, melainkan sebagai alat untuk menyeret Iran ke meja perundingan guna memaksanya menyerah dan menandatangani semacam dokumen penyerahan diri atau kapitulasi. Harapan yang mutlak tidak akan diterima oleh Teheran.
Sebaliknya, untuk mematahkan anggapan bahwa Washington dapat menentukan waktu negosiasi, serangan, dan tingkat eskalasi ketegangan sendirian, Iran memiliki berbagai opsi militer. Freeman menganggap opsi-opsi ini mencakup serangan terhadap kapal-kapal dan kapal perang yang ditempatkan di Teluk Oman dan Laut Arab, meningkatkan tekanan terhadap kapal tanker, pangkalan, dan aset ekonomi regional, serta melanjutkan serangan besar-besaran terhadap Israel, yang disebut Freeman sebagai pemicu utama perang.
Menurut Freeman, sejauh ini Teheran hanya menggunakan beberapa kemampuan ini secara terbatas atau simbolis. Namun, jika AS terus menganggap penyerahan diri Iran sebagai syarat negosiasi, ada kemungkinan Iran akan secara bertahap meningkatkan tingkat serangan dan sepenuhnya mengambil inisiatif dalam mengelola eskalasi ketegangan dari tangan Washington, serta secara signifikan meningkatkan biaya perang bagi AS dan sekutunya.
Ancaman Terhadap Infrastruktur Iran Cuma Gertakan yang Tak Bisa Dilakukan AS
Dari sudut pandang Freeman, Trump telah menjebak dirinya dalam kebuntuan politik dan psikologis; karena ia tidak bisa menerima kegagalan tujuan perang, dan juga tidak mampu mengubah realitas lapangan, termasuk kelanjutan kendali Iran atas Selat Hormuz, tetap utuhnya sebagian besar cadangan rudal Teheran, Israel yang tetap terancam, dan meningkatnya kemungkinan langkah Iran menuju senjata nuklir.
Menurut pakar militer ini, dalam situasi seperti itu, ancaman untuk memberikan pukulan telak terhadap infrastruktur vital Iran, termasuk Pulau Kharg, lebih merupakan semacam gertakan politik daripada opsi yang bisa dijalankan; karena pusat-pusat tersebut sangat dijaga ketat dan kehancuran atau penguasaan total atas mereka memerlukan operasi yang sangat rumit dan mahal.
Hasil dari situasi ini, menurut Freeman, adalah kelanjutan perang tanpa prospek yang biaya langsungnya bagi AS telah melebihi seratus miliar Dolar dan akan terus meningkat dengan memperhitungkan penggantian amunisi, perbaikan peralatan yang usang dan rusak, serta biaya jangka panjang untuk menangani personel militer; tanpa Washington memiliki jalan yang jelas menuju kemenangan atau keluar dari perang dengan terhormat.
Iran Bakal Terpaksa Menjadi Negara Nuklir untuk Jamin Prevensinya
Dari sudut pandang Freeman, AS dalam perang dengan Iran tidak memiliki strategi yang rasional dan berkelanjutan untuk mencapai titik akhir tertentu. Sebaliknya, strategi Iran bergantung pada mempertahankan posisi, menahan tekanan, dan memperpanjang perang hingga AS terkuras dan terpaksa hengkang.
Namun, menurut Freeman, kelanjutan serangan AS dan Israel telah mengubah kalkulasi nuklir Teheran secara mendasar dan menempatkan Iran di antara dua pilihan yang sulit: tetap menjadi negara ambang yang memiliki bahan, pengetahuan, dan kapasitas untuk membuat senjata, tetapi menahan diri dari melewati garis nuklir secara resmi, atau memproduksi senjata nuklir untuk menciptakan prevensi pasti terhadap serangan di masa depan.
Diplomat Amerika yang sudah pensiun ini berpendapat, meskipun pilihan kedua dapat memicu perlombaan senjata yang berbahaya di Kawasan, pengalaman perang telah menunjukkan kepada Teheran bahwa memiliki kapasitas ambang saja tidak mencegah serangan. Oleh karena itu, tidak adanya jalur diplomatik yang kredibel dan kelanjutan kebijakan tekanan dan pemboman meningkatkan kemungkinan bahwa Iran, dalam kerangka strategi kelangsungan hidupnya, akan menganggap pencapaian prevensi nuklir sebagai satu-satunya cara untuk mengakhiri siklus serangan AS dan Israel.
Pembalasan Dendam Membentuk Kebijakan Prevensi Iran
Dari sudut pandang Freeman, pembunuhan para pemimpin dan komandan Iran, penghancuran fasilitas militer, dan serangan atau ancaman untuk menghancurkan infrastruktur sipil, tidak hanya gagal memaksa Teheran untuk mundur, tetapi justru menyebarkan tuntutan balas dendam di sebagian besar masyarakat Iran dan membuka jalan bagi perubahan doktrin pembalasan negara ini.
Di masa lalu, bahkan dalam menghadapi berbagai pembunuhan pejabat dan ilmuwannya oleh Israel, Iran umumnya menahan diri dari membunuh tokoh-tokoh Israel secara langsung. Namun, Freeman percaya bahwa pengalaman perang mungkin telah menghilangkan batasan ini dan membuat Teheran sampai pada kesimpulan bahwa membunuh perancang dan pelaksana serangan, termasuk pejabat senior Israel dan Amerika, adalah alat yang sah untuk pencegahan dan pembalasan.
Selain itu, menurut Freeman, Iran sedang menjauh dari tanggapan yang terbatas dan proporsional dan mengadopsi pola yang sama dari “pembalasan yang tidak proporsional” yang digunakan oleh Israel. Artinya, setiap tindakan militer atau teroris terhadap Iran dapat dihadapi dengan tanggapan yang lebih keras dan di lingkup yang lebih luas. Dengan demikian, hasil dari serangan AS dan Israel bukanlah pengekangan Iran, melainkan penguatan semangat balas dendam dan pembentukan pendekatan yang lebih agresif.
