Mantan Kepala Staf Militer Israel: Netanyahu Seret Israel ke Jurang Kehancuran
POROS PERLAWANAN — Mantan Kepala Staf Angkatan Darat Israel, Gadi Eisenkot menuding Perdana Menteri Benyamin Netanyahu tidak memiliki kepemimpinan dan tanggung jawab, serta memperingatkan bahwa kebijakannya tengah menyeret Israel menuju keruntuhan.
Dilansir Anadolu Agency pada Sabtu 16 Agustus, Eisenkot menulis di laman Facebook-nya: “Lebih dari 680 hari sejak perang melawan Jalur Gaza dimulai pada 7 Oktober 2023, Israel belum meraih satu pun tujuannya, sementara tentaranya terus tewas di terowongan Hamas”.
Menurutnya, Netanyahu menghindari pengambilan keputusan sulit dan lebih mementingkan kepentingan pribadi serta politik dibandingkan kepentingan negara. “Jalan ini membawa Israel menuju jurang kehancuran”, tegas Eisenkot.
Ia juga menyerukan warga Israel untuk berpartisipasi dalam aksi mogok massal pada Minggu, yang digelar bersamaan dengan protes keluarga para tahanan. “Saya mendesak semua orang yang percaya pada nilai-nilai moral Yahudi dan Israel untuk ikut serta, karena waktu hampir habis”, tambahnya.
Menurut Channel 13 Israel, keluarga para tahanan akan menggelar aksi nasional yang mencakup pawai mobil, demonstrasi, dan unjuk rasa di “Lapangan Tahanan” Tel Aviv serta kota-kota lain di Wilayah Pendudukan. Ratusan lembaga, organisasi, dan perusahaan lokal disebut telah memberikan izin kepada karyawannya untuk ikut aksi ini.
Universitas Ibrani Yerusalem juga menyatakan dukungan terhadap aksi mogok tersebut. Sementara itu, Pemimpin Oposisi Yair Lapid menyerukan agar bahkan pendukung rezim ikut turun ke jalan. “Isu ini bukan soal oposisi semata,” kata Lapid.
Keluarga para tahanan dan oposisi menuding rezim Netanyahu gagal mencapai kesepakatan pertukaran tawanan dengan Hamas demi mempertahankan koalisi politiknya. Menurut perkiraan Tel Aviv, sekitar 50 tahanan Israel masih berada di Gaza, dengan 20 orang di antaranya diyakini hidup. Di sisi lain, lebih dari 10.800 warga Palestina mendekam di penjara Israel. Laporan hak asasi manusia menyebut banyak di antaranya mengalami penyiksaan, kelaparan, dan kekurangan akses medis; sejumlah tahanan bahkan meninggal dunia.
Sejak 7 Oktober 2023, Israel melancarkan operasi militer besar-besaran di Gaza yang disebut komunitas internasional sebagai bentuk genosida. Dukungan Amerika Serikat dinilai membuat Israel mengabaikan seruan global, termasuk putusan Mahkamah Internasional, untuk menghentikan serangan.
Menurut data resmi, hingga kini sedikitnya 61.897 warga Palestina tewas dan 155.660 lainnya terluka. Selain itu, lebih dari 9.000 orang dinyatakan hilang, ratusan ribu mengungsi, dan kelaparan merenggut sedikitnya 251 nyawa, termasuk 108 anak-anak.
