Yaman Desak Arab Saudi Segera Akhiri Agresi, Pengepungan, dan Pendudukan
POROS PERLAWANAN – Ketua Dewan Politik Tertinggi Yaman, Mahdi Al-Mashat menyerukan kepada Rezim Arab Saudi untuk segera mengakhiri agresi dan pengepungan terhadap Yaman serta mematuhi persyaratan perdamaian yang telah disepakati.
Menurut laporan Kantor Berita Tasnim pada Senin malam 13 Oktober, dalam pidato memperingati Revolusi 14 Oktober, Al-Mashat menegaskan pentingnya mengakhiri agresi, pengepungan, dan pendudukan di Yaman. Ia menekankan bahwa langkah tersebut merupakan kunci bagi terciptanya stabilitas dan keamanan yang berkelanjutan di Kawasan.
Dalam pidatonya, Al-Mashat juga menyatakan bahwa Yaman siap merespons setiap perkembangan terkait perjanjian yang menyangkut Gaza, seraya menegaskan bahwa negaranya terus memperkuat kemampuan militer dan pertahanan nasional untuk menghadapi berbagai bentuk ancaman dan teknologi militer canggih milik musuh.
Menyoroti tekad rakyat Yaman dalam mempertahankan kedaulatan nasional hingga pembebasan penuh seluruh wilayahnya, Al-Mashat menegaskan: “Bangsa kami, di jalan menuju kebebasan dan kemerdekaan, tidak akan mentoleransi agresi maupun pendudukan. Kami tidak akan membiarkan penjajah merampas kekayaan rakyat dan menumpahkan darah anak-anak Yaman.”
Ia kembali mendesak Arab Saudi untuk menghentikan agresi dan pengepungan serta menaati ketentuan perdamaian, karena menurutnya, hal itu merupakan satu-satunya jalan guna mencegah pihak-pihak oportunis yang berupaya mengeksploitasi konflik di dunia Islam demi kepentingan Rezim Zionis.
Mengenang satu dekade keteguhan dan perlawanan rakyat Yaman terhadap agresi yang dipimpin oleh Amerika Serikat dan Arab Saudi, Al-Mashat mengatakan, “Rakyat kami, dengan keteguhan dan keberaniannya, sekali lagi telah membangkitkan martabat serta semangat Revolusi 14 Oktober. Mereka membuktikan bahwa tanpa ketergantungan dan ketundukan, seseorang dapat hidup dengan martabat dan kemerdekaan sejati.”
Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa generasi penerus Revolusi 14 Oktober tetap memegang semangat solidaritas dan perjuangan: “Anak-anak dan cucu Revolusi 14 Oktober menyambut para pejuang serta revolusioner Palestina, membuka rumah mereka, dan menjadikan Kota Aden sebagai simbol serta mercusuar perjuangan Arab-Islam.”
Menutup pidatonya, Al-Mashat menyinggung pihak-pihak yang, menurutnya, telah menjadi alat bagi agresi Amerika Serikat, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab (UEA). Ia menegaskan: “Dengan menerima peran sebagai bawahan, mereka telah menjadi instrumen di tangan para penjahat dan penjajah Zionis. Sementara itu, bangsa kami tetap teguh mempertahankan kemerdekaan, perlawanan, dan kebebasannya.”
