Media Ibrani: Israel Gagal Bendung Operasi dan Infiltrasi Intelijen Iran
POROS PERLAWANAN — Situs The Times of Israel menerbitkan laporan terbaru yang mengakui bahwa perpecahan sosial yang mendalam di Wilayah Pendudukan telah menjadi celah strategis bagi penetrasi intelijen Iran. Laporan tersebut menegaskan bahwa Rezim Zionis secara praktis tidak berdaya dalam membendung fenomena ini.
Di tengah krisis keamanan dan militer yang kian memburuk, media berbahasa Ibrani kembali menyoroti kekhawatiran serius lembaga keamanan Israel terkait apa yang mereka sebut sebagai “infiltrasi intelijen Iran”.
Mengutip Kayhan pada Kamis 18 Desember, laporan The Times of Israel menyatakan bahwa Tel Aviv mengakui ketidakmampuannya menghentikan aktivitas intelijen Iran. Fenomena “infiltrasi yang menembus jauh ke dalam masyarakat Israel” digambarkan sebagai tantangan berkelanjutan yang belum berhasil diatasi.
Menurut laporan tersebut, Iran dinilai berhasil merekrut warga Israel, termasuk personel Militer aktif, tanpa mengandalkan teknologi canggih. Perekrutan dilakukan melalui media sosial dan sarana komunikasi sederhana. Media Ibrani sendiri menyebut kondisi ini sebagai indikasi “kerapuhan struktur keamanan internal” Israel.
Penulis laporan itu juga mengakui bahwa Iran mampu menjangkau berbagai lapisan masyarakat dengan memanfaatkan perpecahan sosial yang tajam di Wilayah Pendudukan, antara Yahudi dan Arab, religius dan sekuler, serta kelompok kanan dan kiri. Situasi ini, menurut penulis, “menunjukkan kesiapan Iran memasuki fase konfrontasi baru”.
Laporan tersebut menyebutkan bahwa lembaga keamanan Israel belum mampu mengidentifikasi seluruh jaringan dan individu yang terlibat. Ketidakmampuan ini mendorong tuntutan pemberlakuan hukuman yang lebih berat, sebuah pengakuan yang secara tidak langsung mencerminkan kebingungan dan kelemahan struktural Tel Aviv dalam menghadapi aktivitas intelijen Iran.
Lebih lanjut dijelaskan bahwa Iran merekrut agen terutama melalui pengumpulan data jarak jauh, memanfaatkan media sosial, aplikasi pesan instan, serta platform kerja daring. Jaringan intelijen Iran disebut menggunakan aplikasi seperti Telegram, WhatsApp, Facebook, dan Instagram, juga situs lowongan kerja dengan imbalan tinggi, untuk merekrut warga Israel dari berbagai latar belakang, termasuk Arab, Yahudi, pekerja asing, dan imigran baru.
Penulis laporan menambahkan bahwa sejumlah kontak awal dengan intelijen Iran terkadang berasal dari tokoh bisnis, organisasi hukum, atau jurnalis, serta dari komunitas Yahudi dan warga Israel di luar negeri. Daya tarik utamanya adalah imbalan finansial yang mudah, mulai dari ratusan hingga ribuan Dolar untuk tugas-tugas seperti memotret fasilitas, mengamati tingkat kewaspadaan, atau menyebarkan materi propaganda. Besaran bayaran meningkat seiring dengan naiknya tingkat risiko.
The Times of Israel juga menulis bahwa operator jaringan kerap mengeksploitasi rasa keterasingan atau kebencian politik internal untuk merekrut individu. Setelah target menjalankan sejumlah tugas, bukti dikumpulkan untuk kepentingan pemerasan. Apabila mereka menghentikan kerja sama, ancaman pelaporan kepada Shin Bet digunakan sebagai tekanan. Pada tahap awal, misi-misi tersebut tampak sepele, seperti memotret taman, persimpangan, gedung pemerintah dari luar, area parkir, atau memeriksa benda mencurigakan di ruang publik dan mengirimkan dokumentasi visual sebagai verifikasi.
Setelah tingkat kepatuhan dinilai memadai, misi meningkat ke tahap yang lebih serius, termasuk pengintaian individu, pemotretan rumah personel keamanan atau ilmuwan, pemasangan kamera atau perangkat pelacak GPS, serta penempatan uang atau peralatan di lokasi tertentu. Penulis menegaskan bahwa pada tahap ini, klaim ketidaktahuan tidak dapat dibenarkan.
Dalam beberapa kasus, lanjut laporan tersebut, operator kemudian menilai kesiapan individu untuk memasuki fase sabotase dan aksi kekerasan, seperti pelemparan bom molotov, upaya melukai ilmuwan nuklir Israel, atau pencarian pelaku lokal untuk aksi pembunuhan terencana.
Mengutip Fars, penulis laporan itu menutup analisisnya dengan peringatan bahwa Iran terus mengembangkan kemampuan rudalnya dan bersiap memasuki “fase pertempuran berikutnya”. Namun, peringatan ini dinilai lebih mencerminkan ketakutan Tel Aviv terhadap meningkatnya kekuatan Iran dan sekutunya ketimbang gambaran objektif atas realitas baru di Kawasan.
