Mengenang 77 Tahun Nakba: Luka Tak Pernah Kering dengan Bab Terbaru ‘Genosida di Gaza’
POROS PERLAWANAN – Tanggal 15 Mei 2025 bukan sekadar penanda sejarah. 15 Mei adalah peringatan 77 tahun sejak dunia menyaksikan lahirnya sebuah tragedi kemanusiaan paling brutal di abad ke-20, yaitu Nakba. Sebuah bencana nasional Palestina, ketika lebih dari 750.000 warga Palestina diusir secara paksa, lebih dari 500 desa diluluhlantakkan, dan Tanah Air mereka direbut demi berdirinya entitas kolonial yang kini bernama Israel. Namun, Nakba bukan arsip sejarah yang sudah usang. Nakba adalah luka kolonial yang terus mengucur darah. Sedangkan Gaza hari ini adalah lembaran terbaru dari babak kejahatan yang sama.
Apa yang disebut sebagai Nakba kedua kini tak lagi sebatas metafora. Itu adalah fakta berdarah yang berlangsung di depan mata kita dan disiarkan langsung dalam definisi tinggi, ditonton miliaran pasang mata yang tak juga bergerak. Gaza, di bawah kepungan, kelaparan, dan pelucutan martabat manusia, telah menjadi ladang uji bagi satu hal, apakah dunia benar-benar masih punya nurani?
Dari Pengusiran ke Pemusnahan
Nakba 1948 bukan sekadar perpindahan paksa. Nakba adalah operasi militer terencana dengan tujuan tunggal, yaitu membersihkan Palestina dari rakyatnya. Milisi Zionis (yang kelak menjadi tulang punggung Tentara Pertahanan Israel), menggunakan kekerasan ekstrem, pembantaian massal, pemerkosaan, teror psikologis, dan penghancuran infrastruktur kehidupan rakyat Palestina. Sumur diracuni. Masjid dibakar. Anak-anak dibunuh di pelukan ibunya. Ini bukan ekses perang, ini adalah doktrin kolonial.
Rumah-rumah warga Palestina kemudian dijadikan milik para pemukim Yahudi yang diimpor dari Eropa dan AS. Nama-nama desa dihapus dari peta dan diganti dengan label Ibrani baru, seolah sejarah bisa dihapus seperti tulisan di pasir. Namun luka itu tak hilang. Ia menetap di tubuh kolektif bangsa Palestina, membentuk satu identitas perlawanan yang tak bisa ditaklukkan.
Gaza dan Episode Terbaru dari Genosida yang Dipelihara
Hari ini, Gaza berdiri di garis api sejarah itu. Sejak Oktober 2023, wilayah sempit ini mengalami pembantaian sistematis paling mengerikan dalam sejarah modern, dan sejak 2 Maret 2025, Israel memperketat blokade total; tidak ada makanan, tidak ada obat, tidak ada bahan bakar. Dunia menyebut ini krisis. Namun bagi rakyat Gaza, ini adalah pembunuhan kolektif yang dilakukan dengan metode paling biadab: kelaparan.
WHO melaporkan hampir 500.000 warga menderita kekurangan gizi akut. Puluhan ribu anak-anak sekarang bertahan hidup dari daun-daunan dan air garam. Lebih dari 450.000 orang terpaksa mengungsi hanya dalam beberapa pekan. Lalu ke mana mereka harus pergi? Dunia menutup pintu, dan langit ditutup oleh pesawat tempur yang tak kenal belas kasihan.
Ini bukan perang. Ini adalah proyek pemusnahan.
Narasi Palsu dan Komplisitas Global
Setiap tahun, dunia berpura-pura netral. Para pemimpin dunia mengutuk “kekerasan dari kedua pihak”, narasi yang menjijikkan dalam ketimpangan yang begitu nyata. Ini bukan konflik dua pihak. Ini adalah proyek kolonial dengan dukungan militer, diplomatik, dan ideologis dari kekuatan Barat. Sementara mereka yang diam, mereka yang menyamakan korban dengan pelaku, adalah bagian dari mesin kejahatan itu.
PBB hanya mampu mengeluarkan resolusi hampa. Negara-negara Arab terus berdamai dan berdagang. Begitu pula para pemimpin dunia, tanpa rasa malu bersalaman dengan tangan yang berlumuran darah anak-anak Gaza.
Nakba Belum Berakhir; Hanya Berganti Nama dan Metode
Kesaksian para penyintas membongkar mitos bahwa Nakba adalah peristiwa masa lalu. Mereka hidup di tenda-tenda pengungsian. Mereka berdetak dalam denyut nadi anak-anak yang kelaparan. Mereka menggema dalam tangisan para ibu yang kehilangan anaknya karena rudal dan karena roti yang tak kunjung datang.
Nakba bukan kenangan. Nakba adalah kenyataan yang dipelihara oleh diamnya dunia.
77 Tahun Nakba, Saatnya Memilih Sisi Sejarah
Inilah titik balik. Dunia hanya memiliki dua pilihan: berdiri bersama rakyat Palestina, atau menjadi kaki tangan genosida. Tidak ada posisi netral dalam kejahatan semacam ini.
Selama Gaza masih diblokade, selama tanah Palestina masih dijajah, selama anak-anak mati bukan karena takdir, tapi karena keputusan politik global, maka Nakba belum berakhir.
Memilih diam, dalam sejarah ini, adalah bentuk keberpihakan yang paling keji.
