Menhan Venezuela Tegaskan Takkan Biarkan Kehormatan Bangsanya Dinodai
POROS PERLAWANAN – Setelah Donald Trump mengumumkan pada hari Sabtu 29 November bahwa dia akan menutup wilayah udara Venezuela, Kementerian Luar Negeri Venezuela menggambarkan tindakan tersebut sebagai “deklarasi perang”. Kini Menhan Venezuela, Vladimir Padrino López juga menyatakan akan mempertahankan diri dengan segala cara.
“Ancaman ini dari Pemerintah AS merupakan pelanggaran ilegal, sepihak, dan bertentangan dengan hukum internasional yang bertujuan untuk melanggar kedaulatan mutlak wilayah udara kami,” tulis López di akun Telegramnya, Fars memberitakan.
Dia menegaskan bahwa tidak ada kekuatan asing yang memiliki hak untuk campur tangan, menghalangi, atau menetapkan syarat atas keputusan Pemerintah Venezuela.
Vladimir Padrino López kemudian meminta komunitas internasional untuk mengutuk “tindakan bermusuhan yang mengancam perdamaian di Karibia dan Amerika Selatan ini.”
“Venezuela akan memberikan respons dengan kehormatan dan martabat, berdasarkan hukum, dan dengan mengandalkan kekuatan dan semangat rakyatnya.”
Padrino López menegaskan bahwa rakyat Venezuela, berdasarkan semangat dan moral nasional, tidak akan pernah mengizinkan kehormatan mereka dinodai.
“Kami akan mempertahankan kedaulatan nasional kami dengan segala cara dan biaya apa pun.”
Sikap ini dinyatakan setelah Trump pada Sabtu kemarin mengumumkan di media sosial Truth Social bahwa ruang udara Venezuela “sepenuhnya ditutup.” Dia memperingatkan maskapai penerbangan, pilot, dan jaringan kriminal untuk tidak memasuki wilayah udara tersebut.
Kementerian Luar Negeri Venezuela juga pada Sabtu malam mengeluarkan pernyataan yang menggambarkan tindakan Donald Trump sebagai “ancaman eksplisit untuk menggunakan kekuatan” dan “pelanggaran serius terhadap hukum internasional.”
Perkembangan ini terjadi dalam situasi ketika AS telah memperketat tekanan militernya terhadap Venezuela. Pemerintahan Trump baru-baru ini mengklasifikasikan Maduro dan lingkaran dekatnya sebagai “organisasi teroris asing”; tindakan yang menurut pejabat AS membuka jalan bagi Washington untuk melakukan operasi langsung di wilayah Venezuela. Trump juga mengonfirmasi bahwa pada pertengahan Oktober, ia telah memberikan lampu hijau untuk operasi CIA di dalam Venezuela.
Pada hari Jumat, Trump secara terbuka mengumumkan dimulainya operasi darat yang akan segera dilakukan untuk “menghentikan penyelundupan obat bius.” Militer AS dalam kerangka “Operasi Tombak Selatan” telah menempatkan lebih dari 12 kapal perang dan 15.000 tentara di wilayah tersebut. Dalam serangan laut terbaru, puluhan orang menjadi sasaran di kapal-kapal Venezuela.
Di sisi lain, Caracas menanggapi keputusan Washington dengan nada keras. Menteri Luar Negeri Venezuela menyebut tindakan AS sebagai “ancaman kolonial” dan “intervensi ilegal”.
Maduro juga dalam pidato televisi pada Kamis malam mengatakan kepada pendukungnya,“Tetaplah tenang, tetapi siap. Kita bersenjata untuk membela bangsa kita.”
Pada Senin lalu, dia menegaskan bahwa “AS tidak akan pernah bisa mengalahkan Venezuela. Kita tidak akan terkalahkan.”
