Olmert: Perang Gaza adalah Kejahatan, Netanyahu Harus Diadili
POROS PERLAWANAN — Mantan Perdana Menteri Israel, Ehud Olmert melontarkan kritik tajam terhadap Benyamin Netanyahu atas agresi brutal di Jalur Gaza, dan menyebut perang yang sedang berlangsung sebagai “tidak sah” dan mendorong agar Netanyahu diadili atas kejahatan yang dilakukannya.
Dalam wawancara dengan majalah Der Spiegel, seperti dilaporkan oleh Tasnim News Agency pada Kamis 31 Juli, Olmert menyatakan tanpa tedeng aling-aling: “Apa yang terjadi di Gaza adalah kejahatan. Kami telah cukup banyak membunuh dan menyebabkan kerusakan. Tidak seorang pun yang bertanggung jawab di Israel bisa menjelaskan apa sebenarnya yang kami lakukan di sana.”
Netanyahu Dinilai Memperpanjang Perang demi Kepentingan Pribadi
Olmert mengungkap bahwa perang ini tak lagi punya dasar hukum maupun moral. “Perang ini dimulai dan terus berlanjut semata-mata demi kepentingan pribadi dan politik Netanyahu. Akibatnya, tentara kami terbunuh,” tegasnya.
Mantan Perdana Menteri Israel yang menjabat pada periode 2006–2009 ini juga mengungkap fakta mencengangkan: pada Oktober 2023, Qatar telah mengirimkan pesan kepada Israel bahwa Hamas bersedia menukar semua sandera. “Saya tidak pernah membayangkan pemerintah akan mengabaikan pesan ini,” katanya, menandakan bahwa kelanjutan perang adalah pilihan sadar, bukan keniscayaan.
Peringatan Soal “Kota Kemanusiaan” yang Menyesatkan
Menanggapi rencana rezim Zionis membangun “kota kemanusiaan” di Gaza selatan, Olmert mengecam keras dan menyebut gagasan itu sebagai “kamp penahanan terselubung”. Ia menilai rencana tersebut bukan solusi, melainkan bentuk lain dari kejahatan: “Mengorganisasi rencana semacam itu, dalam konteks ini, adalah kejahatan tersendiri.”
Netanyahu Harus Diadili, Bukan Dibela
Meski tetap berusaha membatasi tanggung jawab pada sosok Netanyahu dan bukan keseluruhan struktur penjajahan, Olmert menegaskan bahwa sang Perdana Menteri harus bertanggung jawab secara pribadi atas kehancuran dan pembantaian di Gaza.
“Netanyahu harus diadili atas kejahatan yang dilakukannya setiap hari terhadap Israel dan rakyatnya,” tegasnya. Sebuah pernyataan yang secara tidak langsung mengakui bahwa kebijakan Netanyahu bukan hanya membahayakan Palestina, melainkan juga telah menyeret Israel ke jurang kehancuran politik dan moral.
Hanya Trump yang Bisa Hentikan Netanyahu?
Dalam penutup wawancara, Olmert mengatakan bahwa satu-satunya orang yang masih bisa memengaruhi Netanyahu adalah Donald Trump. “Jika Trump memberi tahu Netanyahu bahwa situasi di Gaza telah di luar kendali, dia akan mundur,” ujarnya. Sebuah pernyataan yang menyoroti ketergantungan penuh rezim Zionis terhadap restu imperialis Amerika.
