Perang Iran: Ilusi Kemenangan Cepat dan Risiko Konflik Berkepanjangan
(Analisis John Mearsheimer: Amerika Serikat dan Israel Menghadapi Perang yang Sulit Dimenangkan)
Oleh: POROS PERLAWANAN
POROS PERLAWANAN — Hampir setiap perang dimulai dengan keyakinan yang sama: tekanan militer akan memaksa lawan menyerah, eskalasi dapat dikendalikan, dan kemenangan akan datang lebih cepat dari perkiraan.
Sejarah menunjukkan gambaran berbeda.
Banyak konflik justru berkembang menjadi perang panjang yang mahal, penuh ketidakpastian, dan sulit diakhiri—terutama ketika perang dimulai dengan asumsi strategis yang keliru.
Dalam sebuah dialog panjang yang tayang pada 11 Maret 2026 di kanal Glenn Diesen, berjudul “John Mearsheimer: U.S. Already Lost Iran War – No Off-Ramp in Sight”, pakar Hubungan Internasional, John Mearsheimer menyampaikan analisis yang jauh lebih pesimistis mengenai konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Menurutnya, perang tersebut sejak awal bertumpu pada sejumlah asumsi strategis yang rapuh. Jika sejarah menjadi rujukan, maka konflik ini berisiko berubah menjadi perang berkepanjangan yang mahal dan sulit diakhiri.
Masalahnya bukan hanya bagaimana perang dimulai. Persoalan yang jauh lebih serius adalah ketiadaan jalan keluar yang jelas.
Ketika Perang Tidak Berjalan Sesuai Rencana
Dalam percakapan tersebut, Mearsheimer menilai perkembangan konflik tidak mengikuti harapan Washington. Banyak analis sebelumnya telah memperingatkan risiko itu. Kini tanda-tandanya mulai terlihat.
Dalam sejarah perang modern, konflik hanya berakhir tegas ketika salah satu pihak meraih kemenangan yang benar-benar menentukan. Mearsheimer mengingatkan contoh Perang Dunia II, ketika Sekutu menaklukkan Nazi Jerman dan Jepang secara total. Dalam kondisi seperti itu, pihak pemenang dapat memaksakan syarat kepada pihak yang kalah.
Situasi serupa tidak terlihat dalam konflik dengan Iran.
Amerika Serikat dan Israel belum mencapai kemenangan menentukan. Sebaliknya, Iran memiliki insentif kuat untuk mempertahankan konflik dan mengubahnya menjadi perang berkepanjangan.
Dalam kondisi seperti ini, waktu justru dapat berpihak kepada pihak yang mampu bertahan.
Ilusi Dominasi Eskalasi
Salah satu asumsi strategis yang dipersoalkan Mearsheimer adalah gagasan dominasi eskalasi—keyakinan bahwa Amerika Serikat mampu mengendalikan tingkat konflik dan selalu berada selangkah di depan lawan.
Konsep ini berangkat dari anggapan bahwa Washington dapat meningkatkan tekanan militer tanpa kehilangan kendali atas jalannya perang.
Realitas konflik dengan Iran menunjukkan gambaran berbeda.
Iran memiliki kemampuan untuk merespons setiap peningkatan tekanan militer. Jika Amerika Serikat menghancurkan infrastruktur penting di Iran, Teheran dapat melakukan hal serupa terhadap negara-negara Teluk maupun Israel.
Iran memiliki persediaan rudal balistik dan drone dalam jumlah besar. Sebagian memiliki tingkat presisi tinggi. Kawasan Timur Tengah juga menyediakan banyak target strategis yang relatif mudah diserang.
Dengan demikian, tangga eskalasi tidak hanya dinaiki satu pihak. Setiap langkah hampir pasti diikuti langkah balasan.
Titik Lemah di Teluk Persia
Mearsheimer juga menyoroti kerentanan struktural yang jarang mendapat perhatian serius: ketergantungan negara-negara Teluk pada infrastruktur vital yang sangat rentan.
Fasilitas energi di kawasan tersebut terkonsentrasi pada sejumlah lokasi utama—kilang minyak, instalasi pengolahan gas alam cair, serta berbagai infrastruktur energi strategis lainnya. Semua menjadi target besar yang sulit dilindungi sepenuhnya.
Kerentanan yang lebih mendasar bahkan berkaitan dengan pasokan air.
Banyak kota besar di kawasan Teluk bergantung pada fasilitas desalinasi untuk menyediakan air bersih. Di beberapa negara, sebagian besar pasokan air berasal dari instalasi tersebut.
Jika fasilitas ini hancur, maka kehidupan kota-kota besar dapat lumpuh dalam waktu singkat.
Dalam konteks ini, Iran memiliki opsi strategis yang sangat serius: menyerang infrastruktur vital negara-negara Teluk dan memicu guncangan besar terhadap ekonomi global.
Batas Nyata Kekuatan Udara
Analisis Mearsheimer juga menyoroti peran kekuatan udara dalam perang modern.
Sejak awal abad ke-20, sejumlah pemikir militer percaya pengeboman strategis dapat memaksa lawan menyerah tanpa operasi darat. Gagasan ini berkembang seiring munculnya Angkatan Udara sebagai cabang militer mandiri.
Namun catatan sejarah menunjukkan batas nyata pendekatan tersebut.
Dalam Perang Dunia II, Korea, dan Vietnam, pengeboman udara berskala besar terbukti tidak mampu memaksa lawan menyerah. Bahkan dalam perang Irak pada 2003, serangan udara hanya menjadi tahap awal sebelum invasi darat dilakukan.
Kemenangan menentukan hampir selalu membutuhkan kekuatan darat.
Masalahnya, opsi tersebut hampir tidak realistis dalam konflik dengan Iran.
Iran Bukan Irak
Iran jauh lebih besar dibandingkan Irak—baik dari segi luas wilayah maupun jumlah penduduk.
Invasi militer terhadap negara sebesar Iran memerlukan sumber daya yang sangat besar.
Dalam percakapan tersebut, Mearsheimer menilai Presiden Donald Trump tidak menunjukkan keinginan mengerahkan pasukan darat dalam skala besar.
Tanpa operasi darat, strategi yang tersisa hanyalah pengeboman udara—pendekatan yang menurut pengalaman sejarah jarang menghasilkan kemenangan menentukan.
Peringatan yang Diabaikan
Keputusan memulai perang sebenarnya telah mendapat peringatan dari sejumlah pihak di lingkaran dalam Pemerintahan Amerika sendiri.
Ketua Kepala Staf Gabungan menilai tidak ada opsi militer yang layak untuk menghadapi Iran.
Dewan Intelijen Nasional juga melakukan kajian sebelum perang dimulai. Hasilnya menunjukkan kemungkinan perubahan rezim di Iran sangat kecil, sementara konflik berpotensi berlangsung lama.
Namun peringatan tersebut tidak mengubah arah kebijakan.
Netanyahu dan Janji Kemenangan Cepat
Dalam dialog tersebut, Mearsheimer juga menyoroti peran Perdana Menteri Israel, Benyamin Netanyahu.
Selama bertahun-tahun, Netanyahu berpendapat Pemerintahan Iran rapuh dan dapat dijatuhkan melalui tekanan militer keras.
Beberapa presiden Amerika sebelumnya menolak pandangan tersebut.
Namun dalam situasi ini, Washington tampaknya menerima janji kemenangan cepat melalui tekanan militer.
Trump dan Realitas Strategis
Mearsheimer juga memberikan penilaian kritis terhadap cara Presiden Trump memandang konflik ini.
Trump kerap menyampaikan pernyataan yang tidak selaras dengan fakta. Dalam sejumlah kasus, keyakinan tersebut tampaknya benar-benar diyakini.
Kondisi ini, menurut Mearsheimer, justru lebih mengkhawatirkan dibandingkan kebohongan politik biasa.
Keputusan strategis yang bertumpu pada asumsi keliru berisiko menghasilkan kebijakan yang tidak sejalan dengan realitas.
Rusia, China, dan Dimensi Geopolitik
Konflik ini juga memiliki dampak geopolitik yang lebih luas.
Mearsheimer memperkirakan Rusia memberikan dukungan intelijen kepada Iran selama konflik berlangsung. Informasi tersebut membantu Teheran merencanakan serangan dan menyulitkan Amerika Serikat serta Israel dalam menghadapi rudal balistik.
Kemungkinan lain juga terbuka: pasokan persenjataan atau dukungan energi dari Rusia.
China memiliki insentif strategis melihat Amerika Serikat menghadapi kesulitan dalam konflik ini, meskipun bentuk dukungan tidak selalu tampak secara terbuka.
Eropa di Pinggiran Konflik
Dalam pandangan Mearsheimer, Eropa berada pada posisi paling lemah.
Negara-negara Eropa memberikan dukungan politik kepada Amerika Serikat, tetapi hampir tidak memiliki kapasitas militer untuk memengaruhi hasil perang.
Ironisnya, dampak ekonomi konflik justru berpotensi paling berat bagi Eropa—terutama jika pasokan energi Timur Tengah terganggu.
Para elite Eropa tetap mengikuti kebijakan Washington, sebagian karena kekhawatiran berkurangnya komitmen keamanan Amerika terhadap NATO.
Akibatnya, kepentingan Eropa sering berada di posisi sekunder.
Perang yang Sulit Diakhiri
Pada akhirnya, analisis Mearsheimer mengarah pada simpulan yang tidak nyaman.
Konflik ini bertumpu pada tiga asumsi utama: dominasi eskalasi Amerika Serikat, efektivitas pengeboman strategis, serta keyakinan pada kemenangan cepat.
Catatan sejarah memberikan gambaran berbeda.
Jika pola sejarah kembali terulang, konflik ini kecil kemungkinan menghasilkan kemenangan cepat seperti yang diharapkan sebagian pihak.
Sebaliknya, perang ini berpotensi berubah menjadi konflik panjang yang mahal, tidak stabil, dan sulit dihentikan.
Dalam situasi seperti itu, pertanyaan terpenting bukan lagi bagaimana memenangkan perang—melainkan bagaimana menemukan jalan keluar darinya.
