Qatar: Perjanjian Gencatan Senjata Gaza dalam Bahaya
POROS PERLAWANAN — Pemerintah Qatar memperingatkan bahwa situasi terkini di Jalur Gaza mengancam keberlangsungan perjanjian gencatan senjata, menyusul agresi Israel yang terus berlanjut serta pembatasan masuknya bantuan kemanusiaan.
Menurut Kantor Berita Tasnim pada Rabu 18 Desember, Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Qatar, Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani menegaskan bahwa pelanggaran berulang Israel terhadap ketentuan gencatan senjata telah menempatkan para mediator internasional dalam posisi yang semakin sulit.
Merujuk pada agresi berkelanjutan dan aksi pembunuhan yang dilakukan Israel di Jalur Gaza, Al Thani menilai kondisi tersebut secara langsung melemahkan upaya mediasi, termasuk peran Qatar sebagai salah satu mediator utama.
“Kami menekankan perlunya penyaluran bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza tanpa pembatasan apa pun. Kami tidak menginginkan pengerahan pasukan yang hanya mendukung satu pihak dan mengabaikan pihak lainnya,” tegas Al Thani.
Ia juga menekankan urgensi untuk segera beralih ke fase kedua perjanjian gencatan senjata, guna mencegah runtuhnya kesepakatan yang telah dicapai.
“Situasi saat ini di Jalur Gaza membahayakan perjanjian gencatan senjata,” ujarnya.
Menteri Luar Negeri Qatar itu menambahkan bahwa kondisi kemanusiaan di Gaza menjadi fokus utama dalam pembahasannya selama kunjungan ke Amerika Serikat, termasuk dalam pertemuan dengan para anggota Kongres AS.
Al Thani juga mengungkapkan dirinya telah mencapai kesepakatan dengan Menteri Luar Negeri AS, Mark Rubio untuk meningkatkan upaya diplomatik serta mempersiapkan pertemuan para mediator guna membahas langkah konkret menuju fase kedua perjanjian Gaza.
Selain itu, beliau menegaskan pentingnya pembentukan Pemerintahan sipil Palestina di Jalur Gaza sesegera mungkin sebagai bagian dari solusi jangka menengah pascagencatan senjata.
