Pezeshkian Sebut AS Jadikan Piala Dunia 2026 ‘Alat Tekanan Politik terhadap Iran’
POROS PERLAWANAN – Presiden Iran, Masoud Pezeshkian menyebut Amerika Serikat memanfaatkan penyelenggaraan Piala Dunia FIFA 2026 sebagai alat tekanan politik terhadap Iran. Menurut Pezeshkian, cara Washington menjadi tuan rumah turnamen tersebut mencerminkan pola kebijakan luar negeri Amerika Serikat yang sarat tekanan, diskriminasi, dan pelanggaran terhadap prinsip keadilan. Pernyataan itu disampaikan melalui akun X pada Rabu 8 Juli, sebagaimana dilaporkan Press TV.
Dalam unggahannya, Pezeshkian menilai Pemerintah Amerika Serikat menerapkan pola yang sama seperti dalam kebijakan luar negerinya, yakni mengubah aturan, mempermalukan lawan, menciptakan hambatan, dan berlaku curang.
“Pemerintah Amerika Serikat sebagai tuan rumah Piala Dunia mengikuti pola kebijakan luar negerinya yang sudah dikenal. Mengubah aturan, mempermalukan lawan, menciptakan hambatan, dan berbuat curang. Itulah cara kerja MAGA. Iran menolak permainan seperti itu. Kami akan tetap teguh mempertahankan hak-hak kami”, tulis Pezeshkian.
Pernyataan tersebut disampaikan setelah Pemerintah Amerika Serikat memberlakukan pembatasan perjalanan terhadap Tim Nasional Iran sepanjang Piala Dunia 2026. Skuad Iran diwajibkan tetap berada di pusat latihan di Tijuana, Meksiko, dan hanya diizinkan memasuki wilayah Amerika Serikat sesaat sebelum pertandingan.
Setelah pertandingan berakhir, Timnas Iran diwajibkan meninggalkan wilayah Amerika Serikat dalam waktu 24 jam. Menurut Teheran, pembatasan tersebut tidak diberlakukan kepada negara peserta lainnya.
Pemerintah Iran mengecam kebijakan itu dan menilai Amerika Serikat bersama FIFA telah mengabaikan prinsip keadilan serta perlakuan setara yang seharusnya dijunjung oleh negara tuan rumah Piala Dunia.
Kontroversi juga mengemuka setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump disebut melakukan intervensi terhadap Presiden FIFA, Gianni Infantino terkait dispensasi hukuman yang dijatuhkan kepada penyerang Timnas Amerika Serikat, Folarin Balogun.
Balogun akhirnya diizinkan tampil menghadapi Belgia meski sebelumnya menerima kartu merah. Keputusan tersebut memicu kritik dari sejumlah pejabat sepak bola dan pengamat olahraga.
Lebih dari 30 anggota Parlemen Eropa kemudian menyerukan penyelidikan atas dugaan tekanan dari Pemerintahan Trump terhadap FIFA. Mereka menilai independensi politik FIFA dan integritas penyelenggaraan Piala Dunia 2026 telah dipertanyakan.
