Loading

Ketik untuk mencari

Amerika

Serangan Brutal AS terhadap Posisi Kelompok Poros Perlawanan Irak: Babak Baru ‘Terorisme Terorganisir’ ala Paman Sam

POROS PERLAWANAN – Dilansir Press TV, pejabat tinggi keamanan Iran memperingatkan bahwa serangan udara “brutal” AS terhadap posisi kelompok Poros Perlawanan di perbatasan Irak-Suriah adalah bagian dari upaya Washington untuk menghidupkan kembali “terorisme terorganisir”, dan menekankan bahwa Teheran tidak akan pernah membiarkan kebangkitan kelompok teroris Takfiri di Kawasan.

Dalam pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Irak, Fuad Hussein di Teheran pada Sabtu, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran (SNSC), Ali Shamkhani mengecam langkah terbaru Amerika Serikat dalam memperkuat dan mempromosikan kegiatan terorisme ISIS di Kawasan, mengatakan bahwa serangan brutal baru-baru ini terhadap kelompok Poros Perlawanan anti-teror merupakan indikasi munculnya “babak baru terorisme terorganisir”.

“Iran dan negara-negara lain yang berperang melawan terorisme tidak akan mengizinkan terorisme Takfiri yang berafiliasi [dengan asing] untuk bangkit kembali di Kawasan,” tambah Shamkhani.

Dia mengatakan bahwa penundaan implementasi RUU yang disahkan oleh Parlemen Irak tentang pengusiran pasukan militer asing dari negara itu telah memicu krisis di Kawasan.

Pesawat-pesawat tempur AS pada Jumat melakukan serangan udara terhadap beberapa titik di provinsi timur Suriah Dayr al-Zawr dekat perbatasan Suriah-Irak, yang pertama dari jenisnya di bawah Presiden baru Amerika, Joe Biden.

Serangan udara, yang dilakukan terhadap fasilitas yang digunakan oleh pasukan Unit Mobilisasi Populer (PMU) Irak, mendapat reaksi negatif, dengan banyak pengamat menyamakan pendekatan Biden dengan pendahulunya yang agresif, Donald Trump.

PMU -lebih dikenal sebagai Hashd al-Sha’abi- terus memerangi sisa-sisa kelompok teror Takfiri ISIS di wilayah perbatasan Irak dan Suriah dalam koordinasi dengan Pemerintah kedua negara.

Koalisi militer pimpinan AS aktif di Suriah dengan dalih memerangi ISIS sejak September 2014 tanpa izin dari Pemerintah Damaskus atau mandat PBB. Serangan militer AS di sana dalam banyak kesempatan mengakibatkan korban sipil dan gagal memenuhi tujuan yang mereka nyatakan untuk melawan terorisme.

Di tempat lain dalam pertemuan tersebut, Sekretaris SNSC Iran menekankan pentingnya meningkatkan kerja sama dan melakukan upaya kolektif di antara negara-negara Kawasan untuk mengurangi ketegangan dan membuka jalan bagi pembicaraan konstruktif tentang kemungkinan cara untuk menyelesaikan krisis yang sedang berlangsung.

“Perdamaian dan keamanan di Irak saat ini adalah hasil dari kekuatan kepemimpinan agama dan negarawan serta upaya besar Angkatan Bersenjata, dan kelompok perlawanan populer, yang harus dijaga,” tegas Shamkhani.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *