The Atlantic Sebut Strategi Trump terhadap Iran Berujung “Kekalahan Diplomatik”
POROS PERLAWANAN — Majalah Amerika The Atlantic menilai kebijakan Presiden AS Donald Trump terhadap Iran mengarah pada kemunduran strategis setelah Washington dinilai mulai mencari jalan keluar dari eskalasi konflik dengan Teheran.
Dalam laporan analitis yang dikutip Kantor Berita Mehr pada Sabtu (23/5/2026), The Atlantic menyebut arah akhir strategi Trump mulai terlihat setelah muncul laporan mengenai percakapan telepon antara Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Dalam pembicaraan itu, Washington disebut tengah mengupayakan “nota kesepahaman” dengan Iran untuk mengakhiri perang secara resmi sekaligus membuka negosiasi selama 30 hari terkait program nuklir Teheran dan pembukaan kembali Selat Hormuz.
Menurut media tersebut, langkah itu menunjukkan Amerika Serikat sedang berupaya keluar dari krisis. The Atlantic menilai kemungkinan serangan lanjutan dari Washington hanya akan bersifat simbolik demi menjaga citra ketegasan Trump di hadapan kelompok pendukung perang.
Laporan itu juga menyoroti perubahan sikap Trump sejak 18 Maret lalu ketika Israel menyerang ladang gas Pars dan Iran membalas dengan serangan terhadap fasilitas produksi gas terbesar milik Amerika Serikat di Qatar. Setelah rangkaian serangan tersebut, Trump disebut meminta penghentian serangan terhadap infrastruktur energi Iran oleh AS dan Israel sehingga eskalasi konflik mereda secara de facto.
The Atlantic menyebut ancaman Trump untuk kembali melancarkan serangan selama dua bulan terakhir tidak lagi dianggap serius oleh Teheran. Pemerintah Iran dinilai meyakini Washington tidak akan memulai perang baru sehingga tetap bertahan tanpa memberikan konsesi berarti meski menghadapi serangan intensif selama 37 hari.
Dalam analisis itu, Iran digambarkan berada dalam posisi tawar yang kuat. Teheran disebut menuntut kompensasi perang, pencabutan sanksi, pengakuan atas kontrol terhadap Selat Hormuz, serta tetap mempertahankan hak pengayaan uranium tanpa pembatasan.
Media tersebut menilai permintaan Trump terkait gencatan senjata selama 30 hari dan pembukaan negosiasi baru merupakan bentuk pengakuan tidak langsung atas kegagalan strategi tekanan maksimal terhadap Iran. The Atlantic juga memandang kecil kemungkinan Washington kembali melancarkan perang berskala penuh setelah masa jeda tersebut.
Selain faktor politik dan militer, laporan itu menyoroti penguatan posisi Iran di Selat Hormuz selama periode gencatan senjata. Mengutip Institute for the Study of War, Iran disebut memanfaatkan jeda konflik untuk menormalisasi kontrol atas jalur strategis tersebut melalui perjanjian transit dengan negara-negara pengimpor minyak dan penerapan biaya bagi kapal yang tidak memiliki kesepakatan dengan Teheran.
Menurut pejabat Iran yang dikutip dalam laporan itu, sistem hukum baru di Selat Hormuz akan memberikan prioritas kepada mitra strategis Iran seperti Rusia dan China. Negara-negara yang dianggap bersahabat seperti India dan Pakistan juga disebut dapat menegosiasikan perjanjian transit khusus, sementara kapal yang terkait dengan negara-negara yang dipandang bermusuhan berpotensi dilarang melintas.
