Loading

Ketik untuk mencari

Analisa

The National Interest: Rusia- Tiongkok-Yaman Guncang Dominasi F-35 Amerika

POROS PERLAWANAN – Majalah bergengsi asal Amerika Serikat, The National Interest, dalam artikel opini bertajuk “Air Power in the Second Nuclear Age” karya James Holmes yang terbit pada Minggu 25 Mei, menyoroti tantangan serius terhadap dominasi global jet tempur siluman F-35 milik Amerika Serikat. Tantangan ini, menurut artikel tersebut, datang dari tiga arah utama: Rusia, Tiongkok, dan secara mengejutkan, Yaman.

Dengan menyoroti kemajuan signifikan dalam sistem pertahanan udara Rusia dan Tiongkok, serta keberhasilan operasi militer kelompok Ansharullah di Yaman, artikel itu menyimpulkan bahwa era “keunggulan udara mutlak” Amerika yang selama tiga dekade terakhir bertumpu pada F-35 dan teknologi siluman, mengalami kemunduran yang signifikan.

“Kita tengah memasuki era di mana Militer AS, meskipun memiliki anggaran triliunan Dolar, bisa dikalahkan oleh musuh yang (persenjataannya) lebih murah namun lebih inovatif”, tulis The National Interest.

Yaman: Tantangan Asimetris terhadap Dominasi Udara AS

Yang paling mencengangkan, menurut artikel tersebut, adalah kemampuan kelompok bersenjata non-negara seperti Ansharullah (Houthi) di Yaman yang berhasil mengguncang dominasi udara Amerika. Dalam salah satu operasi terbaru di Laut Merah, sebuah jet tempur F-35 dilaporkan harus bermanuver menghindari rudal permukaan-ke-udara yang diluncurkan dari wilayah yang dikuasai pasukan Yaman.

Seorang pejabat militer AS mengungkap kepada situs The War Zone bahwa F-35 tersebut terpaksa melakukan langkah darurat untuk menghindari serangan. Sebelumnya, The New York Times juga melaporkan bahwa F-16 dan F-35 milik Amerika sempat menjadi sasaran sistem pertahanan udara Yaman.

Majalah Forbes bahkan memperingatkan dampaknya terhadap Israel, negara yang juga mengoperasikan F-35: “Jika Houthi mampu mengancam F-35 milik AS, maka sangat mungkin F-35 Israel juga rentan terhadap serangan serupa.”

Teknologi VHF dan Pelajaran dari Yugoslavia

Laporan tersebut juga menyoroti bahwa banyak taktik dan teknologi pertahanan udara saat ini merujuk pada pengalaman militer Serbia yang berhasil menjatuhkan F-117 milik AS pada 1999. Rusia dan Tiongkok, menurut The National Interest, belajar dari insiden tersebut dan selama dua dekade terakhir telah mengembangkan radar VHF serta sistem pelacakan pesawat siluman yang lebih canggih.

Tiongkok bahkan disebut telah melampaui Rusia dalam pengembangan radar berbasis active phased array (AESA), seperti sistem JY-24A, yang diklaim mampu mendeteksi pesawat siluman dari jarak jauh. Sistem ini juga dapat dipasang di lokasi strategis seperti Selat Taiwan dan Laut China Selatan.

Kerugian Strategis AS: Biaya di Yaman dan Dampak Global

The National Interest turut menyoroti tingginya biaya yang ditanggung Yaman dalam konflik ini. Menurut Otoritas Pelabuhan Laut Merah Yaman, serangan gabungan AS dan Israel terhadap tiga pelabuhan utama negara tersebut telah menyebabkan kerugian lebih dari 1,38 miliar Dolar AS—dengan rincian 531 juta Dolar berupa kerusakan langsung dan 856 juta Dolar berupa kerugian tidak langsung akibat terganggunya distribusi bantuan kemanusiaan dan layanan publik.

Meski demikian, pelabuhan-pelabuhan tersebut tetap beroperasi. “Serangan ini menargetkan infrastruktur vital seperti dermaga, gudang bantuan, dan pembangkit listrik,” ungkap Otoritas tersebut dalam pernyataannya.

Tantangan Bukan Hanya Teknologi, Tapi Juga Paradigma

Menurut analisis The National Interest, kemunduran dominasi udara Amerika tidak hanya disebabkan oleh kemajuan teknologi radar dan rudal, tetapi juga oleh munculnya pola pikir militer baru yang lebih fleksibel dan adaptif—jauh dari pendekatan militer konvensional yang bergantung pada kekuatan industri besar.

“Yaman bukan pengecualian. Ia adalah prototipe dari era baru, di mana aktor non-negara mampu memaksa negara adidaya mengubah strateginya.”

Dengan bukti yang terus bertambah di berbagai medan tempur, artikel ini menyimpulkan bahwa kegagalan strategis pertama Amerika Serikat dalam mempertahankan dominasi udara kemungkinan besar tidak akan datang dari Rusia atau Tiongkok saja, melainkan dari aktor-aktor kecil yang cerdik memanfaatkan celah dalam sistem militer konvensional Washington.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *