Tiongkok Tolak Pengaktifan Mekanisme Pemicu terhadap Iran
POROS PERLAWANAN – Tiongkok menegaskan penolakannya terhadap upaya negara-negara Barat untuk mengaktifkan mekanisme pemicu (snapback) yang dapat memberlakukan kembali sanksi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) terhadap Iran.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Lin Jian, pada Jumat 15 Agustus menyatakan komitmen negaranya dalam mencari penyelesaian damai isu nuklir Iran melalui jalur politik dan diplomatik.
Pernyataan itu disampaikan sebagai tanggapan atas langkah Iran yang bekerja sama dengan Tiongkok dan Rusia guna mencegah pengaktifan mekanisme tersebut oleh Troika Eropa yaitu Inggris, Prancis, dan Jerman di Dewan Keamanan PBB.
“Beijing menentang penggunaan mekanisme pemicu, karena langkah itu tidak membantu membangun kepercayaan maupun memperkecil perbedaan antara para pihak. Sebaliknya, tindakan tersebut justru merugikan upaya diplomatik untuk melanjutkan negosiasi,” ujar Lin.
Ia menegaskan, bahwa setiap keputusan Dewan Keamanan seharusnya mendukung tercapainya kesepakatan baru dalam perundingan, bukan menjadi penghambat. Lin juga menambahkan bahwa Tiongkok akan terus mendorong dialog damai dengan menjaga sikap objektif dan adil, serta berperan konstruktif dalam mengembalikan isu nuklir Iran ke jalur diplomasi.
Selain itu, Beijing kembali menegaskan komitmennya pada rezim nonproliferasi internasional serta upaya menjaga perdamaian dan stabilitas di Timur Tengah.
Mekanisme snapback sendiri merupakan bagian dari Kesepakatan Nuklir Iran atau Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) yang disahkan melalui Resolusi Dewan Keamanan PBB 2231 pada 2015.
Mekanisme ini memungkinkan anggota tetap Dewan Keamanan, termasuk Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Rusia, dan Tiongkok serta Jerman untuk memberlakukan kembali sanksi internasional terhadap Iran tanpa perlu pemungutan suara, jika dianggap melanggar komitmen JCPOA. Bahkan, hak veto anggota tetap tidak dapat menghentikan proses tersebut.
