Transformasi Al-Jolani: Dari Pemimpin Takfiri ke Politisi Moderat Berjuluk ‘Al-Sharaa’
POROS PERLAWANAN — Mantan Duta Besar AS untuk Damaskus, Robert Ford, secara terbuka mengakui perannya dalam upaya merekayasa citra pemimpin kelompok Takfiri Haiat Tahrir al-Sham (HTS), Abu Muhammad al-Jolani, alias Ahmad al-Sharaa. Proyek yang mengaburkan batas antara realitas dan fiksi ini berusaha mengubah sosok pemimpin Takfiri yang selama ini dikenal dengan label hitam “teroris” AS dan PBB, menjadi politisi yang sah di mata internasional; sebuah transformasi yang jelas bertentangan dengan ingatan kolektif rakyat Suriah yang masih terluka akibat kekejaman HTS.
Rekayasa Politik sebagai Alat Legitimasi
Ford menjelaskan bahwa di balik layar ada agenda yang dijalankan oleh LSM Inggris terkait resolusi konflik yang secara sistematis mencoba “mereformasi” al-Jolani dari figur radikal menjadi pemain politik konvensional. Proyek ini bukan sekadar soal perubahan citra, melainkan bagian dari strategi geopolitik untuk membungkus terorisme dengan kemasan legitimasi politik.
Dalam wawancaranya di Dewan Hubungan Luar Negeri Baltimore, Ford mengatakan, “Tujuan proyek ini adalah mengeluarkan al-Sharaa dari dunia terorisme ke ranah politik tradisional.” Pengakuan ini membuka tabir bagaimana kekuatan Barat dan aktor politik tertentu mencoba mengubah wajah konflik Suriah dengan mengganti jargon kekerasan dengan diplomasi semu.
Pertemuan di Istana Kepresidenan: Skenario Mengejutkan
Ford mengungkapkan bahwa ia telah bertemu dengan al-Jolani sebanyak tiga kali dalam kurun waktu 2023-2025, termasuk pertemuan terbaru di Istana Kepresidenan Suriah. Momen ini menandai babak baru dari rekayasa politik yang menyentuh langsung pusat kekuasaan di Damaskus. “Saya tidak pernah menyangka akan bertemu al-Jolani di sini,” kata Ford, yang dibalas santai oleh al-Jolani: “Saya memang selalu suka memberi kejutan.”
Pertemuan ini menjadi simbol bagaimana rezim dan kekuatan asing bersatu dalam menormalisasi figur yang dulu dianggap musuh utama, menunjukkan kompromi berbahaya yang menggoyahkan prinsip perjuangan dan keadilan rakyat Suriah.
Respons Rezim Damaskus: Legitimasi dan Rekonsiliasi?
Menteri Luar Negeri Rezim Takfiri Suriah, Asaad al-Shaybani, menanggapi langkah ini sebagai bagian dari “komunikasi langsung dengan pengalaman revolusioner Suriah”. Dalam pernyataannya, al-Shaybani menegaskan bahwa kunjungan Ford dan delegasi asing bertujuan untuk memahami dinamika wilayah yang “dibebaskan” dan mempersiapkan dukungan politik bagi rekonstruksi negara.
Namun, legitimasi yang dipaksakan ini mengaburkan fakta bahwa rekonstruksi Suriah sedang diwarnai oleh agenda geopolitik yang merugikan rakyat yang masih mengidamkan keadilan dan kebebasan sejati.
Diplomasi Rahasia dan Arsip Eli Cohen
Di tengah drama transformasi al-Jolani, muncul laporan bahwa Presiden Sementara Suriah ini siap menyerahkan arsip mata-mata Israel, Eli Cohen, kepada rezim Tel Aviv sebagai langkah diplomasi terselubung untuk meredakan ketegangan dengan AS dan sekutunya. Langkah ini menjadi bagian dari pola kompromi yang menandai poros yang justru melemahkan posisi perlawanan sejati di Kawasan.
Legitimasi Palsu, Krisis Berkelanjutan
Proyek yang diungkap Ford ini bukan sekadar rekayasa citra; ini adalah reproduksi krisis yang mengancam masa depan Kawasan. Dengan dukungan Barat dan LSM yang politis, terorisme dibersihkan dan dipoles menjadi alat kekuasaan baru. Transformasi Al-Jolani menjadi “Al-Sharaa” adalah simbol runtuhnya moralitas internasional yang dipertukarkan dengan kepentingan geopolitik sempit.
Memutihkan terorisme bukanlah solusi. Masa depan Suriah dan Kawasan tidak boleh ditentukan oleh figur yang merupakan simbol kekerasan, penindasan, dan penderitaan rakyat. Sejarah harus mengingat dengan tegas bahwa legitimasi semu ini hanya akan memperpanjang penderitaan dan memperdalam krisis yang ada.
