Loading

Ketik untuk mencari

Amerika

Trump Pertimbangkan Serangan Militer ke Iran, Fokus pada Fasilitas Nuklir

Haaretz Olok-olok Ancaman Trump kepada Hamas

POROS PERLAWANAN – Donald Trump, presiden terpilih Amerika Serikat (AS), dilaporkan sedang mempertimbangkan opsi serangan militer untuk menghentikan program nuklir Iran. Menurut laporan Wall Street Journal (WSJ) pada Jumat 13 Desember, berjudul “Trump Team Weighs Options, Including Airstrikes, to Stop Iran’s Nuclear Program”, opsi ini mencakup target fasilitas nuklir utama Iran seperti Natanz dan Fordow.

Selama masa jabatan pertamanya (2017–2021), Trump menarik AS dari perjanjian nuklir 2015 yang bertujuan membatasi kemampuan nuklir Iran. Sebagai gantinya, ia menerapkan kebijakan “tekanan maksimum” melalui sanksi berat dan diplomasi keras. Kini, tim transisi Trump tengah mengembangkan strategi “tekanan maksimum 2.0” yang mungkin mencakup aksi militer langsung.

Menurut laporan WSJ, Trump telah menyampaikan kepada Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dalam percakapan telepon baru-baru ini bahwa ia tidak akan mengizinkan Iran mengembangkan senjata nuklir selama masa jabatannya. Netanyahu sendiri, sebagaimana dilaporkan The Times of Israel, sedang mempersiapkan kemungkinan serangan langsung terhadap Iran.

Namun, para ahli mempertanyakan efektivitas serangan ini. Meskipun Israel memiliki teknologi canggih, kemampuan militernya dinilai masih terbatas untuk menembus perlindungan ketat situs-situs tersebut tanpa bantuan penuh dari AS.

Ketegangan Iran-Israel Memuncak

Hubungan Iran dan Israel terus memanas sepanjang 2024, dengan kedua belah pihak terlibat dalam serangan langsung. Pada April, Iran menuduh Israel sebagai dalang serangan udara terhadap konsulatnya di Damaskus. Sebagai respons, Tehran diyakini berada di balik pembunuhan tokoh politik Hamas, Ismail Haniyeh, pada Juli saat ia mengunjungi Iran.

Situasi ini semakin kompleks dengan ketidakstabilan regional. Suriah, yang merupakan sekutu utama Iran, kini berada dalam krisis setelah jatuhnya rezim Bashar al-Assad akibat konflik internal yang melibatkan kelompok teroris Hayat Tahrir al-Sham.

Strategi Baru dan Risiko Konflik Luas

Tim transisi Trump disebut mencari cara untuk melumpuhkan Iran tanpa menyeret AS ke dalam perang besar di Timur Tengah. Namun, opsi militer langsung menuai kritik tajam, dengan kekhawatiran bahwa langkah tersebut justru akan memicu eskalasi konflik regional.

Pendukung strategi ini menilai serangan pre-emptive diperlukan untuk menghentikan ancaman nuklir Iran. Namun, banyak pengamat berpendapat bahwa langkah ini berisiko tinggi dan bisa memperburuk ketegangan global, terutama di kawasan yang sudah rapuh.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *