Loading

Ketik untuk mencari

Eropa

Turki Jual Kembali Sistem S-400 ke Negara Teluk

POROS PERLAWANAN – Turki dilaporkan telah menjual kembali sistem pertahanan udara S-400 buatan Rusia kepada sejumlah negara di kawasan Teluk Persia sebagai bagian dari upaya membuka kembali akses terhadap pesawat tempur F-35 buatan Amerika Serikat. Laporan tersebut pertama kali dipublikasikan harian Hurriyet pada Jumat (10/7), namun hingga kini belum dikonfirmasi secara resmi oleh pemerintah Turki maupun negara-negara yang disebut terlibat.

Kolumnis Hurriyet, Abdulkadir Selvi, menyebut Uni Emirat Arab dan Qatar sebagai pihak yang dikabarkan menjadi pembeli sistem pertahanan udara tersebut. Meski demikian, ia menegaskan informasi itu masih menunggu pengumuman resmi.

Menurut laporan tersebut, Ankara berupaya melepaskan kepemilikan sistem S-400 yang dibeli dari Rusia pada 2017 untuk membuka peluang memperoleh kembali pesawat tempur F-35. Amerika Serikat sebelumnya mengeluarkan Turki dari program F-35 setelah Ankara memutuskan membeli sistem pertahanan udara buatan Rusia tersebut.

Namun, dalam konteks meningkatnya ketegangan di kawasan, motif transaksi tersebut dinilai kemungkinan tidak hanya berkaitan dengan program F-35. Sejumlah pengamat menilai pengalihan sistem pertahanan udara ke negara-negara Teluk juga dapat dipahami sebagai bagian dari penguatan pertahanan kawasan menghadapi kemungkinan eskalasi konflik antara Iran dan Amerika Serikat. Negara-negara Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer AS berpotensi menjadi sasaran serangan rudal balistik dan drone Iran apabila konfrontasi kembali meningkat.

Menanggapi laporan itu, Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan pemerintah Rusia tengah memverifikasi informasi mengenai dugaan penjualan kembali S-400. Ia menyebut persoalan tersebut sebagai isu yang “sangat sensitif”.

“Kami telah melakukan kontak dengan pihak Turki mengenai masalah ini dan akan terus melanjutkan komunikasi dengan mereka,” kata Peskov dalam konferensi pers.

Berdasarkan ketentuan kontrak pembelian, Turki tidak memiliki hak untuk mengekspor kembali sistem S-400 tanpa persetujuan Rusia. Karena itu, setiap kemungkinan pengalihan kepemilikan sistem tersebut memerlukan izin dari Moskow.

Laporan Hurriyet juga mengaitkan isu tersebut dengan pertemuan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di sela-sela KTT NATO di Ankara. Dalam pertemuan itu, Trump dilaporkan menyatakan akan mempertimbangkan kembali permintaan Ankara terkait pengiriman pesawat tempur F-35 apabila sistem S-400 tidak lagi dimiliki Turki.

Di sisi lain, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dilaporkan tetap menentang kemungkinan penjualan F-35 kepada Turki. Menurut sejumlah laporan media, Netanyahu menilai kehadiran pesawat tempur generasi kelima tersebut di tangan Ankara dapat mengurangi keunggulan udara Israel di kawasan.

Turki menandatangani kontrak pembelian sistem pertahanan udara S-400 dengan Rusia pada 2017 di tengah memburuknya hubungan dengan Washington akibat perbedaan kebijakan mengenai konflik Suriah. Keputusan tersebut memicu sanksi Amerika Serikat sekaligus mengakhiri partisipasi Turki dalam program pengembangan dan pengadaan pesawat tempur F-35. Jika laporan mengenai pengalihan S-400 terbukti benar, langkah tersebut bukan hanya berdampak pada hubungan Ankara dengan Washington dan Moskow, tetapi juga berpotensi mengubah konfigurasi pertahanan udara di kawasan Teluk di tengah meningkatnya risiko konfrontasi regional.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *