Usai Kasus ‘Spionase Murah Meriah’, Kini Muncul Kasus ‘Spionase Gratis’ Warga Israel untuk Iran
POROS PERLAWANAN – Berbagai media menyoroti kasus seseorang yang tinggal di Palestina yang Diduduki yang bekerja sama dengan agen-agen Iran tanpa menerima imbalan. Dia melakukannya hanya karena didorong oleh kebencian terhadap Israel.
Menurut laporan Fars, pada hari Kamis 14 Mei Kejaksaan Agung Israel mengeluarkan dakwaan berat terhadap Ahmed Daas, seorang sopir truk berusia 27 tahun asal kota Tira.
Dia dituduh melakukan spionase untuk Badan Intelijen Iran karena alasan ideologis dan karena “kebencian mendalam” terhadap Israel.
Menurut Times of Israel, kasus ini mendapat liputan media yang luas di Kawasan karena “detail-detailnya yang mengejutkan”, termasuk permintaan terdakwa agar kotanya sendiri dibom.
Menurut jaksa penuntut, Daas, yang bepergian ke berbagai wilayah Israel dalam kapasitasnya sebagai sopir, mengambil banyak foto dan video lokasi-lokasi sensitif dan mengirimkannya kepada seorang perwira intelijen Iran.
Salah satu poin berbeda kasus ini adalah penolakan terdakwa untuk menerima gaji. Jaksa penuntut menyatakan Daas menolak tawaran pembayaran finansial, dengan alasan ia melakukannya semata-mata karena komitmen ideologis terhadap Iran selama perang saat ini dan “kebencian terhadap Pemerintah Israel”.
Berdasarkan klaim jaksa penuntut, beberapa lokasi yang difoto Daas berada di kota Ashdod.
Jaksa penuntut Israel menuduh bahwa Daas memberikan gambar Pelabuhan Ashdod, pembangkit listrik Ashkelon (pembangkit listrik berbahan bakar gas alam terbesar di Israel), dan gedung industri dirgantara Rezim kepada agen Iran tersebut.
Ia juga mengirimkan lokasi pangkalan maritim milik Komando Angkatan Laut Israel kepada pihak Iran.
Jaksa penuntut menekankan, Daas sepenuhnya menyadari bahwa dirinya berhubungan dengan seseorang yang berniat menyerang keamanan Israel.
Kepolisian Israel telah mengumumkan bahwa Daas mengakui semua tuduhan selama proses interogasi.
Dalam pernyataan bersama, Badan Keamanan Dalam Negeri Israel (Shin Bet) dan Kepolisian Rezim Zionis telah memperingatkan bahwa kasus ini menunjukkan upaya terus-menerus para mata-mata untuk memperoleh informasi sensitif.
Mereka menekankan bahwa agen-agen Iran biasanya memulai dengan tugas-tugas sederhana, seperti merekam tempat-tempat umum, dan secara bertahap mengarahkan mereka ke “operasi yang lebih berbahaya”.
Shin Bet telah mendesak penduduk Tanah yang Diduduki agar tidak berinteraksi dengan orang asing secara daring dengan alasan apa pun.
Sebelum ini, media-media Zionis memberitakan sejumlah personel militer Israel yang rela menjadi mata-mata Iran dengan “imbalan tak seberapa.”
