Wakil Politik Angkatan Laut IRGC: Dua Pekan ke Depan Menjadi Fase Penentu Perang
POROS PERLAWANAN — Wakil politik Angkatan Laut Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Muhammad Akbarzadeh menilai dua pekan ke depan akan menjadi fase penentu dalam konflik yang sedang berlangsung di Kawasan. Kekuatan Militer Iran serta mobilisasi publik disebut berhasil menggagalkan rencana tekanan dari kekuatan besar terhadap Teheran.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam wawancara dengan Fars News Agency, pada Senin malam 9 Maret. Akbarzadeh menyebut tiga faktor utama yang membentuk keseimbangan baru dalam dinamika konflik.
Tiga Faktor Penentu
Akbarzadeh menyoroti pembatasan lalu lintas kapal di Selat Hormuz sebagai faktor pertama yang memberi dampak besar terhadap ekonomi global.
“Larangan pelayaran di Selat Hormuz menciptakan krisis energi dan lonjakan harga. Ekonomi global tidak mampu menahan tekanan sebesar itu,” kata Akbarzadeh.
Faktor kedua berkaitan dengan kemampuan ofensif Militer Iran yang disebut semakin presisi dan kuat. Serangan Militer Iran dinilai mengejutkan pihak lawan serta membingungkan sejumlah analis militer Amerika.
Faktor ketiga muncul dari mobilisasi publik di Iran. Kehadiran massa dalam jumlah besar di Lapangan Enqelab (Revolution Square) disebut memberi sinyal kuat dukungan nasional terhadap kebijakan negara.
Akbarzadeh menilai kondisi tersebut menimbulkan tekanan politik terhadap pengambil keputusan di Washington dan Tel Aviv.
Pekan Kedua Menjadi Periode Penting
Akbarzadeh menyebut pekan kedua konflik sebagai fase paling penting dalam perkembangan perang.
“Jika Iran mampu mempertahankan posisi unggul seperti pekan lalu, yang sangat mungkin terjadi, sinyal baru dari Amerika Serikat untuk menghentikan perang dapat muncul,” ujar Akbarzadeh.
Perhitungan militer pihak lawan dinilai mulai terganggu dan sejumlah langkah operasi kehilangan keseimbangan.
Pekan Ketiga Diperkirakan Menjadi Titik Balik
Akbarzadeh memperkirakan kekuatan dunia akan mulai mencari jalur komunikasi dengan Iran pada pekan ketiga konflik guna mencegah perluasan perang di Kawasan.
“Keputusan Iran akan menentukan arah perkembangan Kawasan,” kata Akbarzadeh.
Eskalasi Konflik Iran vs AS–Israel
Serangan udara terbaru oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran dimulai pada 28 Februari dan memicu eskalasi baru di Timur Tengah.
Sebagai respons, Iran meluncurkan serangan balasan menggunakan rudal dan drone terhadap wilayah Israel serta sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di negara-negara Kawasan.
Perkembangan tersebut meningkatkan ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta memicu kekhawatiran terhadap potensi konflik regional yang lebih luas.
