Pengakuan Orang yang Klaim Republik Islam Iran ‘Takkan Injak Usia 40’
POROS PERLAWANAN – Mantan Penasihat Keamanan Nasional Amerika Serikat, John Bolton, menyampaikan sebuah pengakuan, yang bertentangan dengan keyakinan lamanya mengenai betapa mudahnya menggulingkan Pemerintahan Iran.
Tasnim melaporkan, dalam sejarah kebijakan luar negeri Amerika Serikat, jarang ditemukan sosok yang lebih vokal dari Bolton dalam membela perlunya pengeboman Iran dan lebih meyakini bahwa penggulingan Republik Islam Iran adalah hal yang mudah. Bolton bukan sekadar kritikus, melainkan seorang ideolog sejati.
Rekam jejaknya dalam hal ini sangat menonjol. Pada tahun 2015, dalam sebuah artikel di New York Times, ia menulis: “Untuk menghentikan bom Iran, bombardir Iran.” Pada Januari 2018, di Wall Street Journal, ia menulis bahwa kebijakan Amerika Serikat harus bertujuan mengakhiri Revolusi Islam 1979 sebelum hari jadinya yang ke-40.
Selama menjabat sebagai Penasihat Keamanan Nasional di era Trump, ia meminta Pentagon untuk menyusun opsi militer terhadap Iran. Rekan-rekannya di Gedung Putih bahkan menyebut bahwa Trump pun terkadang menganggap Bolton “terlalu keras.”
Gambaran yang paling jelas mengenai keyakinan Bolton akan kejatuhan Republik Islam dapat dilihat dalam pidatonya di depan kelompok Mojahedin Khalq (MEK), sebuah organisasi yang bahkan sempat dimasukkan ke dalam daftar teroris oleh Amerika Serikat hingga tahun 2012.
Bolton berbicara dalam delapan kesempatan untuk organisasi ini. Tiap kalinya ia selalu menggambarkan kejatuhan Republik Islam bukan sebagai sebuah harapan, melainkan janji pasti. Pada 1 Juli 2017, dalam sebuah pertemuan di Paris, ia memprediksi bahwa Republik Islam Iran tidak akan merayakan ulang tahunnya yang ke-40. Ia bahkan mengatakan, “Itulah sebabnya kita akan mengadakan perayaan di Teheran sebelum tahun 2019.”
Meskipun pada Februari 2019 Iran merayakan ulang tahun ke-40 tanpa gangguan, Bolton kembali membuat prediksi keliru lainnya tanpa mengakui kesalahan sebelumnya. Dia menyatakan bahwa dirinya tidak yakin Republik Islam Iran akan memiliki waktu bertahun-tahun lagi untuk merayakan hari jadi.
Saat ini, nada bicara Bolton telah berubah. Menurut beberapa analis, tampaknya perang telah membuatnya berdamai dengan kenyataan. Meskipun beberapa pernyataannya saat ini bisa dianggap sebagai kritik terhadap mantan atasannya (Trump), di sela-sela pernyataannya terdapat pengakuan atas pola pikir politiknya sendiri, yang dulu mengira bahwa pengeboman saja sudah cukup untuk menjatuhkan Pemerintahan Iran.
Berikut beberapa pengakuan Bolton dalam wawancara baru-baru ini:
Wawancara dengan Newsmax (22 Juni): Bolton menyatakan bahwa Iran justru keluar dari perang ini dengan posisi politik yang lebih kuat. Ia mengakui, meskipun AS dan Israel berhasil menyerang aspek militer dan infrastruktur Iran, mereka gagal menghancurkan kemampuan Iran dalam menggunakan Selat Hormuz sebagai alat tekanan.
Wawancara dengan NDTV (19 Juni): Bolton menyebut bahwa konsekuensi ekonomi dari krisis pasca-perang telah mengejutkan Trump, yang kemudian memungkinkan Iran memanfaatkan Selat Hormuz sebagai daya tawar.
Wawancara dengan Euronews (16 Juni): Ia menyatakan bahwa “orang Iran memainkan permainan mereka dengan Trump. Itulah sebabnya mereka mendapatkan kesepakatan yang mereka inginkan.” Ia menambahkan bahwa Trump haus akan kesepakatan, dan pihak Iran berhasil mengarahkannya sesuai keinginan mereka.
Artikel di Wall Street Journal (12 Mei): Bolton mengkritik Trump karena menghentikan serangan lebih awal. Dia membandingkannya dengan Perdana Menteri Inggris, Anthony Eden yang gagal dalam Krisis Suez. Ia menekankan bahwa perang melawan Iran telah mencapai titik di mana Teheran dapat mengatur ekonomi global seperti sebuah “saklar lampu.”
Wawancara dengan NewsNation (1 April): Bolton menjelaskan bahwa Iran telah membuktikan mereka bisa menyalakan dan mematikan Selat Hormuz sesuai keinginan mereka akibat konflik dengan AS dan Israel.
Wawancara dengan NewsNation (31 Maret): Ia membantah klaim Trump bahwa telah terjadi perubahan rezim di Iran. Ia menyebut situasi saat ini lebih buruk dibandingkan jika AS tidak melakukan intervensi sama sekali.
Wawancara dengan NPR (11 Maret): Bolton menyatakan kekhawatiran atas dominasi Iran di Selat Hormuz. Ia menyesalkan bahwa kemampuan Iran tersebut tidak dianggap cukup serius oleh pihak Amerika.
