Al-Akhbar: AS dan Israel Siapkan Skema Lucuti Hizbullah Lewat Pemerintah dan Militer Lebanon
POROS PERLAWANAN — Harian Lebanon, Al-Akhbar melaporkan bahwa Amerika Serikat dan Israel tengah menyiapkan skema baru untuk melucuti persenjataan Hizbullah melalui mekanisme yang melibatkan Pemerintah dan Angkatan Bersenjata Lebanon. Menurut laporan yang dikutip Fars News Agency pada Kamis 25 Juni, langkah tersebut dinilai sebagai bagian dari upaya meningkatkan tekanan terhadap Hizbullah sekaligus Iran.
Al-Akhbar menyebut perkembangan itu mengemuka setelah dua hari perundingan antara delegasi Lebanon dan Israel di Washington. Surat kabar tersebut menilai Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) antara Iran dan Amerika Serikat kini menghadapi ujian terbesar sejak ditandatangani, menyusul langkah Washington yang disebut berupaya menggeser implementasi kesepakatan.
Mengutip sumber-sumber yang tidak disebutkan identitasnya, Al-Akhbar melaporkan bahwa Amerika Serikat telah menyusun rancangan awal yang mencakup penarikan pasukan Israel dari Lebanon dalam waktu 60 hari. Namun, rencana itu disebut bergantung pada koordinasi operasional langsung antara Angkatan Bersenjata Lebanon dan Militer Israel di bawah pengawasan Washington.
Menurut laporan tersebut, skema itu juga mencakup pembentukan “zona uji coba” di sejumlah wilayah Lebanon. Al-Akhbar menilai mekanisme tersebut berpotensi memicu konfrontasi antara Hizbullah dan Angkatan Bersenjata Lebanon apabila Militer Lebanon diminta mengambil tindakan terhadap infrastruktur militer Hizbullah di utara Sungai Litani.
Surat kabar itu juga menyebut Amerika Serikat menawarkan peningkatan dukungan kepada Angkatan Bersenjata Lebanon serta program rekonstruksi di kawasan yang dijadikan “zona uji coba”. Di sisi lain, Israel disebut tetap berupaya mempertahankan kehadiran militernya di Lebanon selatan dan menolak skema yang mengharuskannya melakukan penarikan tanpa syarat.
Sikap tersebut dinilai sejalan dengan pernyataan Perdana Menteri Israel, Benyamin Netanyahu yang menegaskan bahwa operasi militer Israel di Lebanon belum berakhir dan kawasan keamanan akan tetap dipertahankan. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz juga menyatakan bahwa Israel tidak akan menarik pasukannya dari Lebanon selatan, bahkan jika Amerika Serikat mengajukan permintaan tersebut.
Dalam putaran kelima perundingan langsung, Al-Akhbar melaporkan bahwa delegasi Militer Lebanon menolak usulan Israel agar Angkatan Bersenjata Lebanon memasuki wilayah di utara Sungai Litani untuk melakukan inspeksi di bawah pengawasan Amerika Serikat sebelum penarikan pasukan Israel dimulai. Menurut sumber yang dikutip surat kabar tersebut, delegasi Lebanon juga menolak berfoto bersama delegasi Israel.
Sementara itu, Reuters, mengutip pejabat Israel, melaporkan bahwa Angkatan Bersenjata Lebanon direncanakan memperoleh pelatihan dan pengawasan keamanan dari Amerika Serikat untuk memastikan tidak memiliki keterkaitan dengan Hizbullah. Dalam skema yang sama, Israel disebut akan tetap mempertahankan kehadiran militernya di kawasan penyangga.
Menurut Al-Akhbar, Hizbullah telah berulang kali menyampaikan kepada para pejabat Lebanon maupun pihak internasional bahwa organisasi tersebut tidak menganggap hasil perundingan Lebanon-Israel sebagai dasar yang mengikat. Hizbullah juga menegaskan tidak akan menarik pasukannya dari wilayah mana pun sebelum Israel sepenuhnya menarik diri dari seluruh wilayah Lebanon yang masih didudukinya.
Surat kabar tersebut menambahkan bahwa sejumlah sumber di lingkungan Angkatan Bersenjata Lebanon memperingatkan skema yang diusulkan Amerika Serikat berpotensi menyeret negara itu ke dalam konflik internal. Mereka juga menyatakan penolakan terhadap mekanisme pengawasan keamanan Amerika Serikat karena dinilai dapat membuka ruang bagi Israel untuk memengaruhi penilaian terhadap kinerja Militer Lebanon sekaligus menjadi dasar pembenaran bagi operasi militer berikutnya.
