Ketua DPR AS Khawatir Demokrat Bidik Trump dan Kroninya jika Republik Kalah Suara di Kongres
POROS PERLAWANAN — Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat, Mike Johnson memperingatkan bahwa Partai Demokrat berpotensi menggunakan komite-komite Kongres untuk menyelidiki Presiden Donald Trump, keluarga, anggota Kabinet, para pendukung, dan penyandang dana Partai Republik apabila partainya kalah dalam Pemilu sela Kongres.
Pernyataan itu disampaikan Johnson saat menggambarkan konsekuensi politik yang menurutnya dapat terjadi apabila Partai Republik kehilangan mayoritas di Kongres.
“Jika, semoga tidak, kami kalah dalam Pemilu sela, ketahuilah bahwa perhatian utama Demokrat bukanlah pemakzulan. Mereka akan mengubah setiap komite Kongres menjadi instrumen penyelidikan dan mengarahkan penyelidikan kepada keluarga presiden, Kabinet, penyandang dana, serta orang-orang dekatnya,” kata Johnson.
Pernyataan Johnson muncul ketika persaingan menuju Pemilu sela Amerika Serikat mulai menghangat. Hasil Pemilu tersebut diperkirakan akan menentukan komposisi mayoritas di Kongres sekaligus memengaruhi ruang gerak Pemerintahan Trump dalam dua tahun ke depan.
Menurut laporan Kantor Berita Fars pada Minggu 28 Juni, pernyataan Johnson mencerminkan kekhawatiran Partai Republik terhadap kemungkinan meningkatnya tekanan politik apabila Partai Demokrat kembali menguasai DPR. Media itu juga mengutip sejumlah survei yang disebut menunjukkan penurunan kepercayaan publik terhadap Pemerintah Amerika Serikat, terutama dipengaruhi persoalan ekonomi dan kebijakan luar negeri, termasuk sikap Washington terhadap Iran.
Fars melaporkan bahwa sejumlah jajak pendapat menunjukkan sekitar dua pertiga warga Amerika Serikat menolak kebijakan yang berpotensi menyeret negara itu ke dalam perang dengan Iran. Media tersebut juga menyebut tingkat dukungan terhadap Trump di kalangan pemilih muda mengalami penurunan.
Selain itu, Fars menilai melemahnya dukungan dari sebagian pemilih independen, generasi muda, dan pemilih Latino dapat menjadi tantangan bagi Partai Republik menjelang Pemilu sela. Kondisi ekonomi juga disebut sebagai salah satu faktor yang memengaruhi tingkat kepuasan publik terhadap Pemerintah.
Dalam bagian analisisnya, Fars menilai dinamika politik tersebut mencerminkan krisis yang lebih luas dalam sistem politik Barat serta meningkatnya penolakan terhadap kebijakan luar negeri Amerika Serikat.
