Analisis Press TV: Iran Bersiap Masuki Era Kebangkitan Ekonomi Pascasanksi
POROS PERLAWANAN – Media Iran Press TV pada Sabtu 4 Juli, menerbitkan artikel analisis berjudul “Iran Set for Economic Rise Without Anyone’s Permit”. Dalam analisis tersebut, Press TV menilai Iran berada di ambang kebangkitan ekonomi setelah bertahun-tahun membangun ketahanan menghadapi sanksi dan tekanan eksternal. Menurut media itu, peluang pelonggaran sanksi, meningkatnya investasi, serta reformasi struktural membuka jalan bagi transformasi Iran dari ekonomi yang bertumpu pada daya tahan menjadi ekonomi yang berorientasi pada pertumbuhan.
Menurut Press TV, momentum yang dihadapi Iran saat ini bukan lagi semata mengenai pencabutan sanksi Amerika Serikat, melainkan bagaimana mengubah kekuatan yang dibangun selama masa tekanan ekonomi menjadi fondasi pertumbuhan yang berkelanjutan, mandiri, dan bermartabat.
Media tersebut memperkirakan Iran berpotensi meraih pendapatan minyak lebih dari 60 miliar Dolar AS per tahun. Selain itu, paket investasi senilai 300 miliar Dolar AS serta aset Iran yang masih dibekukan di luar negeri dengan nilai antara 100 miliar hingga 167 miliar Dolar AS dinilai dapat menjadi sumber pembiayaan penting bagi percepatan pembangunan ekonomi.
Ekonomi Perlawanan Dinilai Menjadi Fondasi
Press TV menilai kebijakan “Ekonomi Perlawanan” yang diterapkan Iran selama lebih dari satu dekade menjadi fondasi utama bagi fase kebangkitan ekonomi saat ini. Strategi tersebut dikembangkan untuk mengurangi ketergantungan terhadap tekanan eksternal melalui penguatan kapasitas produksi dalam negeri dan diversifikasi sumber pertumbuhan.
Menurut media itu, Iran berhasil mencapai swasembada bahan bakar melalui pembangunan kilang domestik, membentuk cadangan strategis pangan, produk minyak bumi, dan obat-obatan, serta memperluas industri petrokimia dan ekspor nonmigas guna mengurangi ketergantungan terhadap minyak mentah.
Press TV juga menyoroti perubahan orientasi perdagangan Iran menuju kawasan Asia dan negara-negara regional melalui kerja sama jangka panjang dengan China, keanggotaan dalam Shanghai Cooperation Organization (SCO), serta perluasan kerja sama energi dengan Rusia.
Menurut analisis tersebut, strategi itu membuat produksi minyak Iran tetap berada pada kisaran 3,2 hingga 3,4 juta barel per hari sepanjang 2026. Pendapatan minyak pada akhir 2025 disebut melampaui 56 miliar Dolar AS, sementara total ekspor migas dan nonmigas dilaporkan telah melampaui capaian pada masa berlakunya perjanjian nuklir sebelumnya.
Peluang Memperluas Pangsa Pasar Global
Press TV menyebut pelonggaran sanksi selama 60 hari terhadap ekspor minyak mentah, produk minyak bumi, dan petrokimia memberi kesempatan bagi Iran untuk kembali memperluas pangsa pasar energi dunia.
Menurut laporan tersebut, India dan Jepang menunjukkan minat untuk kembali mengimpor minyak Iran. Di saat yang sama, kemitraan strategis dengan China disebut tetap dipertahankan dan diperkuat sebagai salah satu pilar utama kerja sama ekonomi Iran.
Media itu juga menempatkan Selat Hormuz sebagai salah satu pilar posisi strategis baru Iran. Jalur pelayaran tersebut selama ini menjadi lintasan sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas dunia.
Press TV menyebut nota kesepahaman yang telah disepakati menegaskan peran kedaulatan Iran dalam pengelolaan Selat Hormuz bersama Oman sesuai ketentuan hukum internasional. Menurut media tersebut, pengakuan terhadap posisi itu mencerminkan peran Iran sebagai aktor penting dalam keamanan jalur pelayaran internasional sekaligus tatanan Kawasan yang baru.
Investasi Disebut Berbeda dari Bantuan
Dalam analisisnya, Press TV menolak anggapan bahwa kebangkitan ekonomi Iran bergantung pada bantuan Amerika Serikat. Media tersebut menegaskan bahwa Dana Rekonstruksi dan Pembangunan Iran senilai 300 miliar Dolar AS merupakan instrumen investasi swasta dan bukan program kompensasi perang ataupun bantuan pemerintah.
Menurut Press TV, dana tersebut akan menghimpun investasi perusahaan-perusahaan dari Amerika Serikat, negara-negara Teluk, Asia, Amerika Selatan, dan Afrika pada sektor energi, logistik, manufaktur, serta transportasi.
Media itu juga menegaskan bahwa skema investasi tersebut terpisah dari proses perundingan mengenai pencabutan sanksi Amerika Serikat maupun pembebasan aset Iran yang masih dibekukan di luar negeri. Aset yang diperkirakan bernilai 100 miliar hingga 167 miliar Dolar AS disebut tetap merupakan hak kedaulatan Iran dan bukan instrumen tawar-menawar politik.
Reformasi Struktural Menuju Pertumbuhan
Press TV menilai fase berikutnya bagi Iran bukan lagi mempertahankan ekonomi darurat, melainkan melembagakan kekuatan yang telah dibangun selama masa sanksi melalui reformasi ekonomi yang menyeluruh.
Media tersebut menyebut Pemerintah Iran tengah menyederhanakan sistem nilai tukar, mereformasi mekanisme subsidi energi, memperbaiki tata kelola distribusi devisa, serta membangun sistem perbankan yang lebih independen di kawasan perdagangan bebas.
Selain itu, Pemerintah disebut membatasi pertumbuhan anggaran negara sekitar 2 persen, memperkuat disiplin fiskal, serta menjadikan kawasan perdagangan bebas sebagai pusat uji coba reformasi ekonomi. Langkah-langkah tersebut dinilai bertujuan menekan inflasi, mengurangi praktik rente, meningkatkan kepastian usaha, dan memperkuat kepercayaan investor.
Potensi Menjadi Pusat Pertumbuhan Baru
Pada bagian akhir laporannya, Press TV menilai pengalaman panjang menghadapi sanksi telah membentuk fondasi ekonomi Iran yang lebih tangguh. Media tersebut menyebut negara itu berpotensi berkembang sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi baru dengan memanfaatkan sumber daya manusia yang terdidik, kapasitas industri, serta letak geografis yang menghubungkan kawasan Timur dan Barat.
Press TV menyimpulkan bahwa transformasi ekonomi Iran yang ditopang reformasi struktural, kemitraan internasional, dan pengalaman menghadapi tekanan eksternal berpeluang menjadi salah satu perkembangan ekonomi paling menentukan di Kawasan dalam dekade mendatang.
