Loading

Ketik untuk mencari

Analisa

Profesor AS: Washington Takkan Bisa Halangi Keunggulan Iran

POROS PERLAWANAN – Profesor Universitas Chicago, Robert Pape meyakini bahwa strategi “Sabuk Perlawanan dan Keamanan” Iran akan mengukuhkan posisi Iran di Kawasan sebagai kekuatan utama. Amerika Serikat dan Israel, yang tidak memiliki kapasitas atau sumber daya yang cukup untuk perang yang luas dan berkepanjangan dengan Iran, pada akhirnya akan dipaksa untuk menerima keunggulan ini.

Fars melaporkan, Pape berpendapat bahwa strategi Iran adalah strategi yang sepenuhnya selaras dengan akal politik. Strategi ini secara bertahap memperkuat lingkup pengaruh Iran di lingkungan sekitarnya dan, pada akhirnya, mengubah keseimbangan kekuatan di Kawasan untuk menguntungkan Iran.

Ia menekankan bahwa dengan mengandalkan tindakan taktis yang tepat, Iran akan memastikan pencapaian strategisnya di Selat Hormuz. Dengan terus menekan Bab al-Mandab dan Laut Merah, Iran akan mencegah Amerika Serikat dan Israel untuk memintas jalur tersebut. Ia juga berpendapat, Amerika Serikat, Israel, dan sekutu mereka belum mau menerima perubahan perimbangan kekuatan di Kawasan. Namun pada saat yang sama, mereka tidak memiliki kemampuan yang diperlukan untuk mencegah Iran mencapai posisi yang unggul.

Menurut Pape, ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel telah meluas dari tingkat konfrontasi langsung di Selat Hormuz ke serangkaian front proksi. Ia menjelaskan bahwa Lebanon, Suriah, Irak, dan Yaman adalah komponen-komponen yang saling terkait dalam persaingan untuk menguasai jalur strategis, pengaruh regional, dan prevensi timbal balik.

Di antara front-front ini, Yaman dan Bab al-Mandab telah memperoleh kepentingan khusus, karena Amerika Serikat, Israel, dan negara-negara Arab Teluk Persia membutuhkan keamanan Laut Merah untuk mengurangi ketergantungan mereka pada Selat Hormuz dan menciptakan rute alternatif untuk perdagangan serta pengiriman energi.

Menurut pandangan Pape, peningkatan gerakan pasukan yang didukung oleh Arab Saudi dan Uni Emirat Arab melawan Perlawanan Yaman dapat menjadi awal dari upaya untuk melemahkan pengaruh Iran atas Bab al-Mandab. Ini adalah langkah yang kemungkinan besar akan mengubah konflik dari krisis maritim yang terpusat di Hormuz menjadi perang multifront antara Iran, kelompok-kelompok yang bersekutu dengannya, dan koalisi yang didukung oleh Amerika Serikat serta negara-negara Teluk Persia.

Pape meyakini, Teheran sedang berupaya untuk mengukuhkan “lingkup pengaruh koheren”, yang dimulai dari Lebanon dan pesisir Mediterania, mencakup Irak, mencapai Yaman dan Laut Merah, dan akhirnya terhubung dengan Teluk Persia dan Selat Hormuz.

Menurut pandangannya, gagasan “Sabuk Perlawanan dan Keamanan” pada dasarnya adalah peta untuk menciptakan perimeter strategis bagi Iran; perimeter yang tidak hanya meningkatkan kemampuan prevensi Iran, tetapi juga menempatkan rute-rute potensial yang sedang diupayakan oleh pesaing Iran untuk memintas Hormuz, mentransfer energi, dan mengurangi efektivitas Teheran di bawah tekanan.

Pape menegaskan, pendekatan ini didasarkan pada logika kekuatan yang masuk akal: Iran, dengan mengandalkan kapasitas yang dimilikinya di Lebanon, Irak, Suriah, dan Yaman, berusaha untuk mengubah lingkup pengaruhnya dari situasi yang tersebar menjadi mekanisme regional yang terorganisir; sebuah langkah yang secara alami akan menghadapi perlawanan dari Amerika Serikat dan Israel, karena stabilisasi lingkup seperti itu berarti pengurangan lebih lanjut pengaruh Washington di Kawasan.

Dalam menjelaskan rencana Iran dan Oman untuk mengelola Selat Hormuz, Pape menyebutnya sebagai bagian dari strategi tekanan Iran untuk memaksakan penerimaan posisi unggulnya di jalur air tersebut. Menurutnya, dengan membatasi lalu lintas kapal secara berkala dan menunjukkan kemampuan untuk campur tangan di rute kapal tanker minyak, Iran berusaha mencegah Amerika Serikat melemahkan ketentuan perjanjian secara bertahap dan mengabaikan peran Teheran.

Pape percaya bahwa tujuan utama dari tekanan ini adalah untuk menerima biaya transit dari kapal tanker minyak dan mengubah posisi geografis Hormuz menjadi sumber pendapatan dan kekuatan yang berkelanjutan; pendapatan yang menurut perkiraannya dapat menambah puluhan miliar Dolar per tahun ke sumber daya Iran, sekaligus meningkatkan pengaruh politik dan regionalnya.

Menurutnya, Iran tidak serta merta menginginkan penghancuran ekonomi global untuk mencapai tujuan ini, tetapi bersedia menaikkan biaya penentangan Amerika terhadap pengaturan yang diinginkannya dengan menciptakan gangguan yang terkendali dalam pelayaran.

Pape menganggap perilaku Iran di Selat Hormuz sebagai reaksi terhadap upaya Amerika Serikat untuk “memotong secara bertahap” atau pengikisan garis merah perjanjian langkah demi langkah. Menurut interpretasinya, Washington mencoba, tanpa melanggar perjanjian secara terbuka dan sekaligus, untuk membatasi ruang lingkup wewenang Iran di Hormuz dan peran sentralnya dalam pengaturan maritim secara bertahap; pendekatan yang dalam literatur strategis dikenal dengan konsep “salamisiasi” (taktik salami).

Menurut pandangan Pape, respons Iran juga dibentuk berdasarkan logika prevensi dan paksaan: Teheran, dengan serangan terbatas, menerapkan kontrol atas lalu lintas maritim, dan menunjukkan kesiapan untuk menggunakan kekerasan secara berkala, mencoba menjaga ambang batas yang telah ditetapkan dalam perjanjian dan menaikkan biaya bagi Amerika untuk melewatinya. Ia menekankan, tujuan Iran adalah memaksa Amerika untuk menerima aturan-aturan yang dianggap perlu oleh Iran untuk menstabilkan pengaruh dan kepentingan-kepentingannya di Hormuz.

Pape percaya bahwa kelanjutan perang disebabkan oleh fakta bahwa pihak-pihak utama belum mencapai kesepakatan mengenai keseimbangan kekuatan baru di Kawasan. Menurutnya, Amerika Serikat dan Israel sejak awal menginginkan pertempuran yang singkat dan terbatas. Keduanya membayangkan bahwa dengan melakukan serangan militer, mereka dapat dengan cepat mengendalikan krisis. Namun berbeda dengan mereka, Iran tidak menganggap perang yang lebih panjang sebagai hal yang tidak diinginkan, karena ia menganggapnya sebagai peluang untuk mengikis tekad politik dan ekonomi lawan, meningkatkan biaya keamanan mereka, dan menstabilkan pengaruh regionalnya secara bertahap.

Berdasarkan hal ini, Pape menekankan bahwa berlalunya beberapa hari tanpa serangan atau dimulainya pembicaraan politik tidak boleh diartikan sebagai akhir dari konflik, karena perang tidak memiliki proses linier dan mungkin berpindah di antara periode serangan dan jeda. Menurut pandangannya, selama Iran tidak puas dengan stabilisasi posisinya dan Amerika Serikat serta Israel juga tidak bersedia menerima perubahan dalam keseimbangan ini, kemungkinan kelanjutan konflik dalam format terbatas, proksi, atau bahkan lebih luas akan tetap ada.

Pape mengevaluasi dimulainya kembali perang yang lebih luas terkait dengan suasana politik internal Amerika Serikat dan pemilihan paruh waktu. Ia percaya bahwa jika penurunan cadangan minyak dan kenaikan harga bensin memicu ketidakpuasan publik di Amerika, Pemerintahan Trump mungkin mencoba menyalahkan Iran atas tekanan ekonomi ini dan dengan cara itu memobilisasi basis politiknya untuk pemilihan.

Menurutnya, situasi seperti itu dapat memberikan landasan bagi transisi dari serangan terbatas dan saling berbalas menjadi tindakan militer yang lebih luas. Karena Trump, untuk menanggapi tekanan internal dan mempertahankan dukungan para pendukungnya, mungkin akan condong ke posisi yang lebih agresif. Pape menekankan, proses ini tidak hanya bergantung pada kalkulasi militer, melainkan pertemuan antara krisis energi, persaingan pemilu, tekanan opini publik, dan upaya Pemerintah Amerika untuk membangun kembali kredibilitas prevensinya terhadap Iran.

Dalam evaluasi Pape, bahkan jika keinginan Amerika untuk melanjutkan konfrontasi berkurang, Israel tetap menjadi salah satu faktor utama dalam memperburuk krisis, karena suasana politik dan opini publik Rezim Zionis setelah Operasi 7 Oktober telah bergerak secara nyata ke arah pendekatan yang lebih agresif terhadap Iran dan Hizbullah.

Ia percaya, kekhawatiran Israel ini didasarkan pada kerentanan yang nyata: ketergantungan tinggi ekonomi Israel pada perdagangan maritim dan konsentrasi sebagian besar perdagangan ini di pelabuhan-pelabuhan seperti Haifa membuatnya sensitif terhadap serangan drone dan rudal Hizbullah. Menurut Pape, jarak pendek antara lokasi penempatan dan produksi kemampuan drone Hizbullah di Lebanon hingga Haifa memungkinkan pelaksanaan serangan yang banyak dengan drone murah; serangan yang meskipun dicegat, jatuhnya sejumlah kecil drone ke kapal atau infrastruktur pelabuhan dapat menciptakan gangguan ekonomi dan psikologis yang besar.

Oleh karena itu, ia menyimpulkan bahwa pemahaman atas ancaman dari sisi Israel meningkatkan kemungkinan dukungannya terhadap tindakan militer preventif atau peningkatan tekanan pada Lebanon dan Hizbullah. Namun Pape sendiri menyarankan agar Israel, alih-alih menuju eskalasi, bekerja sama dengan Amerika untuk keluar dari siklus eskalasi ketegangan.

Pape dalam kesimpulannya menekankan, tekanan timbal balik Iran dan Amerika dalam beberapa minggu dan bulan mendatang dapat menempatkan negara-negara Arab Teluk Persia, terutama Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, dalam posisi yang sulit. Dengan menunjuk pada kehadiran pasukan dan jet tempur Pakistan di Arab Saudi serta keputusan Riyadh untuk menutup wilayah udaranya, ia menganggap perkembangan ini sebagai tanda meningkatnya kekhawatiran Saudi atas perluasan konflik. Namun pada saat yang sama, ia beranggapan bahwa peningkatan penggunaan kekerasan oleh Iran dan tanggapan Amerika dapat membuat beberapa Pemerintah Teluk Persia menyimpulkan bahwa kepentingan mereka bukan pada pendampingan terhadap serangan balasan.

Menurut pandangan Pape, negara-negara ini, alih-alih berpartisipasi dalam tekanan militer terhadap Iran, mungkin akan mencari pengaturan yang lebih mandiri dan mekanisme praktis untuk mengelola ketegangan dengan Teheran. Karena bagi mereka, menjaga keamanan wilayah, mencegah gangguan dalam perdagangan dan energi, serta menahan konsekuensi ekonomi perang memiliki prioritas di atas pendampingan penuh terhadap tujuan Washington.

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *