Loading

Ketik untuk mencari

Iran

Dihadiri Akademisi hingga Pemimpin Dunia, Prosesi Pemakaman Ayatullah Ali Khamenei Lampaui Upacara Kenegaraan

POROS PERLAWANAN — Prosesi penghormatan terakhir kepada Ayatullah Sayyid Ali Khamenei tidak hanya menyedot jutaan pelayat yang memadati Teheran, tetapi juga memicu beragam tanggapan dari pemimpin politik, akademisi, jurnalis, hingga analis internasional. Bagi banyak pengamat, peristiwa itu melampaui sebuah upacara kenegaraan dan berkembang menjadi simbol yang mencerminkan dinamika politik, identitas nasional, serta posisi Iran dalam percaturan Kawasan dan dunia.

Menurut Fars News Agency pada Sabtu 4 Juli, berbagai tokoh dari latar belakang politik, akademik, media, dan kajian internasional menyampaikan pandangan mereka mengenai prosesi penghormatan terakhir yang dihadiri delegasi dari puluhan negara.

Di kalangan akademisi dan media Barat, prosesi tersebut dipandang sebagai peristiwa yang melampaui sebuah upacara penghormatan kenegaraan.

Profesor dari Universitas Uppsala, Swedia, Ashok Swain menyoroti kehadiran delegasi dari 100 lebih negara serta besarnya jumlah pelayat yang memenuhi Teheran. Menurutnya, peristiwa tersebut menunjukkan bahwa syahidnya Ayatullah Ali Khamenei tidak melemahkan Republik Islam Iran, tetapi justru memperkuat legitimasi politik Pemerintah di mata para pendukungnya.

Pandangan serupa juga muncul dalam laporan The Wall Street Journal. Harian tersebut menilai prosesi penghormatan terakhir kepada Ayatullah Ali Khamenei telah melampaui fungsi sebuah upacara pemakaman dan berkembang menjadi pesan politik mengenai posisi Iran dalam menghadapi Amerika Serikat.

Pandangan mengenai arti penting prosesi juga datang dari sejumlah pemimpin Kawasan yang menghadiri langsung prosesi di Teheran. Presiden Wilayah Kurdistan Irak, Nechirvan Barzani menyampaikan penghormatannya melalui media sosial X. Ia menyebut arahan dan peran historis Ayatullah Ali Khamenei dalam perjalanan Iran maupun Kawasan akan tetap dikenang dalam sejarah.

Sementara itu, Pemimpin Front Perlawanan Nasional Afghanistan, Ahmad Massoud menggambarkan Ayatullah Ali Khamenei sebagai sosok yang, menurut ungkapannya, “hidup dengan kemuliaan dan berpulang dengan kemuliaan”, sebagai bentuk penghormatan terhadap perjalanan hidupnya.

Ucapan belasungkawa juga disampaikan Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif. Dalam pesannya di X, ia mewakili Pemerintah dan rakyat Pakistan menyampaikan simpati kepada Pemerintah serta rakyat Iran, seraya menyatakan bahwa kepemimpinan dan pengaruh Ayatullah Ali Khamenei terhadap Iran maupun Kawasan akan terus dikenang oleh generasi mendatang.

Besarnya skala prosesi juga menjadi perhatian media internasional yang melaporkan langsung dari Ibu Kota Iran.

Koresponden Sky News, Dominic Waghorn memperkirakan prosesi itu akan menjadi salah satu peristiwa penghormatan publik terbesar dalam beberapa dekade terakhir. Dalam unggahannya di X, ia menyebut kerumunan yang memenuhi jalan-jalan Teheran berpotensi menjadi salah satu mobilisasi massa terbesar yang pernah menyertai pemakaman seorang pemimpin negara.

Senada dengan itu, koresponden CNN, Frederik Pleitgen, yang melaporkan langsung dari Musalla Teheran, menggambarkan arus panjang masyarakat yang bergantian melintasi peti-peti jenazah untuk memberikan penghormatan terakhir. Ia memperkirakan jutaan warga akan datang ke Teheran sepanjang rangkaian prosesi berlangsung.

Di kalangan analis dan pengamat, prosesi tersebut memunculkan beragam pembacaan mengenai posisi Iran dalam dinamika Kawasan maupun politik global. Dari Amerika Serikat, peneliti senior Negar Mortazavi menyebut prosesi penghormatan kepada Ayatullah Ali Khamenei sebagai yang terbesar di Iran sejak wafatnya Imam Khomeini pada 1989. Menurutnya, prosesi tersebut menjadi simbol ketahanan, persatuan, dan kesinambungan Republik Islam Iran setelah menghadapi dua perang melawan Amerika Serikat dan Israel.

Pandangan mengenai dimensi internasional prosesi juga disampaikan jurnalis Kanada, Dimitri Lascaris. Ia mempertanyakan narasi yang selama ini menggambarkan Iran sebagai negara yang terisolasi, seraya menunjuk pada kehadiran delegasi dari 100 lebih negara dalam prosesi penghormatan tersebut.

Senada dengan itu, aktivis politik Amerika, Kala Walsh menilai prosesi di Teheran sebagai salah satu pemakaman terbesar dalam sejarah modern. Menurutnya, masyarakat dari berbagai penjuru dunia berkumpul untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Ayatullah Ali Khamenei.

Mantan Anggota Parlemen Irlandia, Clare Daly memandang Ayatullah Ali Khamenei sebagai simbol perlawanan. Dalam unggahannya di X, ia menulis bahwa sosok tersebut akan tetap hidup dalam ingatan mereka yang memperjuangkan perdamaian dan keadilan.

Sementara itu, jurnalis Amerika, Eitan Levine menilai besarnya jumlah delegasi asing menunjukkan luasnya partisipasi berbagai negara dan komunitas lintas agama dalam prosesi tersebut. Bagi Levine, kehadiran para delegasi mencerminkan perhatian internasional yang melampaui batas-batas Kawasan.

Aktivis media asal Inggris, Bushra Shaikh juga menyoroti dimensi emosional prosesi tersebut. Ia membandingkan suasana duka di Teheran dengan kemungkinan reaksi umat Katolik sedunia apabila Paus mengalami nasib serupa, sebagai ilustrasi mengenai besarnya ikatan emosional yang ditunjukkan para pelayat.

Di sisi lain, analis politik Israel-Amerika, Alon Mizrahi menilai Ayatullah Ali Khamenei sebagai salah satu tokoh yang memberi pengaruh besar terhadap arah sejarah politik modern. Dalam komentarnya, ia menyebut Ayatullah Ali Khamenei sebagai sosok yang mampu membentuk jalannya sejarah dan memandang kepemimpinannya sebagai salah satu yang paling berpengaruh pada masanya.

Ragam pandangan yang disampaikan para pemimpin politik, akademisi, jurnalis, dan analis internasional memperlihatkan bahwa prosesi penghormatan terakhir kepada Ayatullah Ali Khamenei tidak dipandang semata sebagai peristiwa domestik Iran. Sebagian melihatnya sebagai simbol ketahanan politik dan identitas nasional, sementara yang lain membacanya sebagai cerminan pengaruh Iran dalam dinamika Kawasan maupun percaturan geopolitik global.

Terlepas dari beragam perspektif tersebut, satu benang merah tampak mengemuka: prosesi di Teheran telah melampaui batas sebuah upacara penghormatan kenegaraan dan berkembang menjadi peristiwa yang menarik perhatian luas komunitas internasional.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *