Kepala AEOI: Kemajuan Nuklir Iran Berakar pada Visi Strategis Syahid Ayatullah Khamenei
POROS PERLAWANAN – Kepala Organisasi Energi Atom Iran (AEOI), Mohammad Eslami menegaskan bahwa kemajuan industri nuklir Republik Islam Iran merupakan buah dari visi jangka panjang dan dukungan berkelanjutan Syahid Ayatullah Sayyid Ali Khamenei terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi strategis.
Dalam wawancara yang disiarkan televisi nasional Iran pada Selasa 7 Juli, Eslami mengatakan arah kebijakan yang dirancang sejak puluhan tahun lalu telah menjadi fondasi utama bagi pengembangan teknologi nuklir, pembangkit listrik tenaga nuklir, hingga riset fusi nuklir di Iran.
Menurut Eslami, kemajuan tersebut dicapai di tengah berbagai upaya yang dilakukan pihak-pihak yang memusuhi Iran untuk menghambat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi nasional.
“Terlepas dari berbagai tekanan, hambatan, dan operasi yang dilakukan terhadap Iran sejak kemenangan Revolusi Islam, negara ini tetap melangkah maju. Posisi Iran kini telah mengalami perubahan secara mendasar,” ujarnya.
Eslami mengatakan bahwa Syahid Ayatullah Sayyid Ali Khamenei sejak awal memberikan perhatian besar terhadap sektor-sektor strategis yang menjadi penopang kekuatan nasional, termasuk teknologi nuklir dan industri pertahanan.
Ia menjelaskan bahwa kebijakan energi nasional yang disusun sekitar tiga dekade lalu telah memasukkan pengembangan pembangkit listrik tenaga nuklir serta riset fusi nuklir sebagai bagian dari strategi jangka panjang. Saat ini, kata Eslami, teknologi fusi justru menjadi salah satu bidang yang paling intensif dikembangkan oleh negara-negara maju.
Target 20.000 Megawatt
Salah satu kebijakan strategis yang kembali disoroti Eslami adalah target pembangunan kapasitas pembangkit listrik tenaga nuklir sebesar 20.000 megawatt, yang pertama kali dicanangkan pada 2007.
Saat ini, Unit 1 PLTN Bushehr telah beroperasi, sementara pembangunan Unit 2 dan Unit 3 masih berlangsung. Pemerintah Iran juga menyiapkan pembangunan sejumlah pembangkit baru di sepanjang pesisir selatan, Provinsi Khuzestan, Provinsi Golestan, serta Provinsi Hormozgan.
Menurut Eslami, kontrak rekayasa untuk proyek pembangkit listrik tenaga nuklir berkapasitas 5.000 megawatt di Hormozgan telah ditandatangani sebagai bagian dari target nasional mencapai kapasitas 20.000 megawatt pada 2041.
Dalam rencana pembangunan jangka panjang, sejumlah pembangkit baru diproyeksikan mulai beroperasi pada 2030–2031 guna memenuhi kebutuhan listrik sektor industri maupun rumah tangga.
Kontribusi Ekonomi dan Lingkungan
Eslami menyebut PLTN Bushehr telah menghasilkan sekitar 80 miliar kilowatt-jam listrik sejak mulai beroperasi.
Apabila energi sebesar itu dihasilkan dari bahan bakar fosil, Iran diperkirakan harus mengonsumsi lebih dari 130 juta barel minyak dengan nilai sekitar 10 miliar Dolar AS.
Selain memberikan keuntungan ekonomi, menurut Eslami, pembangkit tersebut telah menghasilkan manfaat sekitar dua setengah kali nilai investasi awal selama 12 tahun beroperasi dan masih memiliki usia operasional sekitar 50 tahun. Penggunaan energi nuklir juga dinilai berkontribusi mengurangi emisi dan pencemaran lingkungan.
Teknologi Nuklir untuk Layanan Kesehatan
Program nuklir Iran, lanjut Eslami, tidak hanya berorientasi pada sektor energi. Organisasi Energi Atom Iran kini memproduksi sekitar 80 jenis radiofarmasi yang digunakan berbagai rumah sakit dan pusat kedokteran nuklir di seluruh negeri.
Sekitar 1,5 juta pasien setiap tahun memanfaatkan produk-produk tersebut. Iran juga mengekspor radiofarmasi ke sejumlah negara sesuai ketersediaan jalur transportasi udara.
Pesan dari Jutaan Pelayat
Menutup wawancara, Eslami menyinggung besarnya partisipasi masyarakat dalam prosesi penghormatan terakhir bagi Syahid Ayatullah Sayyid Ali Khamenei.
Menurutnya, kehadiran jutaan warga menunjukkan tingginya kesadaran masyarakat Iran sekaligus mengirimkan pesan yang jelas kepada pihak-pihak yang memusuhi negara tersebut.
“Kehadiran besar rakyat dan slogan-slogan yang mereka serukan menyampaikan pesan yang jelas kepada musuh-musuh Iran. Dengan kesadaran itu, bangsa Iran memilih jalan yang menjaga martabat negara sekaligus terus memperkuat kekuatan nasional,” ujar Eslami.
