Reuters: Rencana Dana Investasi US$300 Miliar untuk Iran Dipastikan Tidak Berlanjut
POROS PERLAWANAN – Rencana pembentukan dana investasi senilai US$300 miliar untuk mendukung pembangunan kembali Iran dipastikan tidak akan terealisasi. Informasi tersebut dilaporkan Reuters dan dikutip Kantor Berita Fars, pada Selasa 7 Juli.
Menurut laporan itu, gagasan pembentukan dana investasi tersebut pertama kali diajukan oleh Qatar sebelum pecahnya perang yang berlangsung selama 40 hari. Belakangan, usulan itu juga disebut dimuat dalam nota kesepahaman antara Iran dan Amerika Serikat.
Fars mengungkapkan bahwa Qatar sebelumnya pernah menawarkan skema serupa setelah Amerika Serikat melancarkan serangan yang menewaskan Jenderal Qasim Soleimani.
Berdasarkan informasi yang diperoleh Fars, dana tersebut direncanakan berasal dari investasi sejumlah negara Arab di kawasan Teluk bersama beberapa perusahaan Amerika Serikat yang memiliki kedekatan dengan Presiden Donald Trump.
Sebagai imbalannya, perusahaan-perusahaan tersebut disebut akan memperoleh kepemilikan saham pada sejumlah perusahaan strategis Iran.
Laporan itu juga menyebutkan bahwa tawaran investasi di Iran kerap kembali mengemuka setiap kali ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan sekutu-sekutunya meningkat.
Di tengah menguatnya wacana tersebut, Wali Kota Teheran, Alireza Zakani menilai Iran sebenarnya memiliki potensi pembiayaan domestik yang besar. Menurutnya, miliaran Dolar dana yang dimiliki masyarakat di dalam negeri sudah cukup untuk mendukung pembangunan nasional apabila mampu dimobilisasi secara optimal.
Ekonom Davoud Keykhah berpendapat bahwa modal domestik tidak akan mengalir ke sektor produksi selama inflasi masih tinggi dan kepercayaan investor terhadap sektor riil belum pulih.
Pandangan berbeda disampaikan ekonom Samad Hosseinzadeh. Menurutnya, Iran memiliki banyak proyek dengan tingkat keuntungan tinggi yang berpotensi menarik investasi dalam negeri. Apabila Pemerintah mempermudah arus investasi ke sektor-sektor tersebut, inflasi dapat ditekan dan perekonomian nasional berpeluang memasuki fase pertumbuhan.
Sementara itu, laporan lembaga kajian Universitas Teknologi Amir Kabir menawarkan alternatif pembiayaan melalui pembentukan dana saham proyek. Skema ini memungkinkan masyarakat berpartisipasi langsung dalam proyek-proyek minyak dan energi tanpa bergantung pada modal asing. Selain mempercepat pembangunan, model tersebut dinilai dapat memperluas partisipasi publik sekaligus memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar kepada masyarakat.
