Loading

Ketik untuk mencari

Iran

Markas Khatam al-Anbiya Nyatakan Pihak Pendukung Operasi Militer AS sebagai Target Sah

POROS PERLAWANAN – Markas Pusat Khatam al-Anbiya Iran menyatakan setiap pihak yang memberikan dukungan terhadap operasi militer Amerika Serikat akan diperlakukan sebagai target sah Angkatan Bersenjata Iran. Peringatan tersebut disampaikan pada Rabu 8 Juli setelah gelombang serangan terbaru Amerika Serikat yang dinilai Teheran melanggar gencatan senjata dan nota kesepahaman penghentian perang, sebagaimana dilaporkan Press TV.

Dalam pernyataan resminya, Markas Khatam al-Anbiya menegaskan setiap bentuk dukungan terhadap apa yang disebut sebagai “aksi militer agresor Amerika Serikat” dalam pelanggaran terhadap kedaulatan dan integritas wilayah Iran akan menjadi sasaran operasi militer.

Markas itu juga menegaskan kembali bahwa satu-satunya jalur aman bagi kapal dagang dan kapal tanker minyak yang melintasi Selat Hormuz adalah rute yang telah ditetapkan Iran. Menurut pernyataan tersebut, Teheran tidak akan membiarkan pihak mana pun mencampuri pengelolaan jalur pelayaran strategis itu.

Pernyataan tersebut disampaikan ketika Iran menggelar prosesi pemakaman Pemimpin Besar Revolusi Islam, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, di Irak.

Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menilai serangan terbaru Amerika Serikat merupakan upaya mengalihkan perhatian dari prosesi pemakaman besar yang berlangsung di Iran dan Irak, yang menurutnya menjadi kekalahan politik bagi Washington.

Sebagai respons awal atas serangan tersebut, IRGC menyatakan Angkatan Laut dan Pasukan Dirgantara melaksanakan operasi gabungan rudal dan pesawat nirawak terhadap 85 lokasi yang menjadi pusat fasilitas militer penting Amerika Serikat di kawasan Teluk.

Menurut IRGC, operasi itu menghantam fasilitas di Port Salman dan kawasan Armada Kelima Amerika Serikat di Bahrain, serta Pangkalan Udara Ali Al Salem di Kuwait. IRGC juga mengeklaim berhasil menembak jatuh satu pesawat nirawak MQ-9 di atas Provinsi Bushehr yang disebut berupaya mengganggu jalannya operasi.

Eskalasi terbaru terjadi setelah insiden terhadap sejumlah kapal yang melintasi Selat Hormuz tanpa mengikuti jalur pelayaran yang ditetapkan Iran. Pada saat yang sama, Gedung Putih mencabut kembali kelonggaran sanksi terhadap ekspor minyak Iran dengan membatalkan lisensi yang diumumkan pada Juni, yang sebelumnya mengizinkan Iran memproduksi, menjual, dan mengirimkan minyak mentah hingga 21 Agustus.

Ketua Parlemen Iran sekaligus Kepala Tim Perunding, Mohammad Bagher Ghalibaf menyatakan langkah tersebut merupakan pelanggaran besar terhadap nota kesepahaman, termasuk melalui pemberlakuan kembali pembatasan terhadap ekspor minyak Iran.

Sementara itu, harga minyak dunia dilaporkan melonjak sekitar lima persen setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump menyatakan nota kesepahaman dengan Iran telah berakhir.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *