Loading

Ketik untuk mencari

Palestina

Narasi Jurnalis Wanita Palestina Tentang Masa Penahanannya: Satu Hari Terasa Seperti Seribu Tahun

Narasi Jurnalis Wanita Palestina Tentang Masa Penahanannya: Satu Hari Terasa Seperti Seribu Tahun

POROS PERLAWANAN – Rula Hasanain adalah salah satu dari puluhan tawanan Palestina yang dibebaskan pada Senin dini hari 20 Januari dalam bingkai kesepakatan pertukaran tawanan Hamas dan Israel.

Diberitakan Fars, jurnalis Palestina ini dipisahkan dari bayinya yang baru berusia 9 bulan, Iliya, lantaran membela Tanah Airnya. Ia divonis hukuman penjara 11 bulan atas tuduhan “provokasi atas Israel” di dunia maya. Rula juga dijatuhi hukuman denda sebesar 5.000 Shekel (sekitar 1.400 Dolar).

Momen pertemuan emosional Rula dengan suami dan anaknya saat dibebaskan menjadi viral di media-media sosial.

Rula adalah seorang penulis dan jurnalis dari Ramallah. Dia menulis puluhan artikel dan makalah di berbagai harian dan situs elektronik. Dia ditangkap bersama 80 jurnalis lain dari Tepi Barat dan Quds saat perang Gaza berlangsung. Dia dipisahkan Israel dari bayi prematurnya dan hanya menyusu darinya.

Rula bercerita tentang masa-masa sulit yang dialaminya saat di penjara. Ia mengatakan, ia kerap memeluk bantal sebagai ganti bayinya, dengan harapan bisa mengontrol perasaannya dan tabah atas perpisahan ini.

“Saat di penjara, saya mencemaskan saat pertemuan dengan Iliya. Saya ditangkap saat ia masih berusia 9 bulan. Wajar jika dia tidak mengingat saya sama sekali. Setelah 3 bulan dipenjara, saya sendiri lupa seluruh ciri fisik anak saya. Sebab itu, saya sangat frustasi: bagaimana saya keluar dan bertemu dengannya, bagaimana dia mengenal saya, dan apakah dia akan menerima saya?” tutur Rula kepada Kanal Quds.

“Perasaan ini membuat saya stres. Namun saya berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa saat anak terpisah dari orangtuanya, dia harus membiasakan diri dengan orang lain. Wajar jika dia melupakan saya. Saya yang harus membuatnya mengingat saya secara bertahap.”

Dalam wawancara dengan al-Jazeera, Rula bercerita tentang saat-saat berat yang dialami para tawanan wanita di penjara Israel.

“Pasukan Israel kerap memperlakukan kami dengan buruk. Misalnya, mereka memaksa kami berdiri berjam-jam di cuaca yang sangat dingin.”

“Para serdadu wanita menggeledah kami dalam keadaan telanjang. Mereka mengambil pakaian-pakaian kami. Para tawanan wanita dipaksa menahan lapar. Tiap hari di penjara terasa seperti seribu tahun bagi kami. Kami tidak mendapatkan layanan kesehatan di penjara. Kami baru bisa mendapatkannya lewat pengadilan,” kata Rula.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *