Siapa Hamad bin Khalifa, Mantan Emir Qatar yang Baru Saja Wafat
POROS PERLAWANAN – Nama Hamad bin Khalifa Al Thani bukan hanya tercatat sebagai mantan Emir Qatar. Dalam berbagai dinamika geopolitik Timur Tengah, jejaknya kerap muncul di balik sejumlah krisis besar Kawasan. Wafatnya penguasa yang membawa Qatar memasuki babak baru politik regional itu kembali mengarahkan perhatian pada perjalanan Dinasti Al Thani dan mekanisme pergantian kekuasaan di negara monarki tersebut.
Sejumlah sumber di Qatar melaporkan Hamad bin Khalifa Al Thani wafat pada Minggu 12 Juli. Ia lahir pada 1 Juni 1952 dan mulai memimpin Qatar pada 1995 setelah mengambil alih kekuasaan dari ayahnya, Sheikh Khalifa bin Hamad Al Thani, melalui kudeta tanpa pertumpahan darah. Delapan belas tahun kemudian, tepatnya pada 25 Juni 2013, Hamad secara damai menyerahkan tampuk kepemimpinan kepada putranya, Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani, yang hingga kini menjabat sebagai Emir Qatar.
Wafatnya Hamad menjadi momentum untuk menengok kembali sejarah Dinasti Al Thani sekaligus memahami struktur kekuasaan yang membentuk politik Qatar modern.
Sebagaimana negara-negara monarki Arab di kawasan Teluk Persia, Qatar menerapkan sistem pemerintahan turun-temurun. Dinasti Al Thani telah memerintah semenanjung Qatar sejak pertengahan abad ke-19, sebagaimana keluarga-keluarga penguasa di Arab Saudi, Bahrain, Uni Emirat Arab, dan Kuwait.
Dari Kudeta ke Kudeta
Sebelum Hamad berkuasa, Qatar dipimpin oleh Sheikh Khalifa bin Hamad Al Thani, Emir keenam negara itu sekaligus putra Sheikh Hamad bin Abdullah Al Thani. Pada 22 Februari 1972, Khalifa merebut tampuk kekuasaan dari sepupunya, Sheikh Ahmad bin Ali Al Thani, setelah sebelumnya diangkat sebagai putra mahkota.
Sebelum menjadi Emir, Khalifa telah menduduki berbagai posisi strategis, mulai dari Komandan Pasukan Keamanan, Kepala Pengadilan Sipil, Wakil Penguasa, Menteri Keuangan, Perdana Menteri, hingga Menteri Perminyakan. Setelah memegang kekuasaan, ia memperluas struktur pemerintahan dan pada 31 Mei 1977 menunjuk putranya, Hamad bin Khalifa, sebagai putra mahkota. Bersamaan dengan itu, Hamad juga dipercaya memimpin Kementerian Pertahanan sekaligus menjabat Panglima Angkatan Bersenjata Qatar.
Namun, hubungan politik ayah dan anak itu berakhir dramatis. Pada 27 Juni 1995, Hamad bin Khalifa menggulingkan ayahnya sendiri melalui kudeta tanpa pertumpahan darah ketika Sheikh Khalifa berada di luar negeri. Sebanyak 36 pendukung sang Emir dilaporkan ditangkap setelah pengambilalihan kekuasaan tersebut.
Beberapa bulan kemudian, Sheikh Khalifa dituduh berupaya melakukan kudeta balasan untuk merebut kembali takhta. Upaya itu gagal, sementara sejumlah tokoh yang dituding terlibat, termasuk seorang mantan menteri, ditangkap. Sheikh Khalifa baru kembali dari Beirut ke Doha pada 2003.
Mundur demi Regenerasi Kekuasaan
Salah satu episode yang paling banyak menyita perhatian pengamat politik adalah keputusan Hamad pada 2013 untuk mengakhiri masa pemerintahannya secara sukarela. Setelah memperoleh kekuasaan melalui kudeta terhadap ayahnya, ia justru memilih menyerahkan jabatan Emir Qatar kepada putranya, Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani.
Langkah tersebut dipandang sebagai peristiwa yang tidak lazim dalam tradisi monarki Arab Teluk, yang umumnya mempertahankan kekuasaan hingga akhir hayat atau hingga kondisi memaksa terjadinya suksesi.
Latar Belakang Militer
Hamad bin Khalifa merupakan lulusan Akademi Militer Kerajaan Sandhurst, Inggris, pada Juli 1971. Sepulang dari Inggris, ia bergabung dengan Angkatan Bersenjata Qatar, meniti karier hingga berpangkat Brigadir Jenderal sebelum dipercaya memimpin seluruh Angkatan Bersenjata negara itu.
Selama bertugas, Hamad berperan dalam memperkuat kemampuan Militer Qatar melalui penambahan personel, pembentukan satuan-satuan baru, dan modernisasi persenjataan. Di luar bidang pertahanan, ia juga pernah memimpin Dewan Tertinggi Pemuda dan Klub Olahraga Qatar.
Perjalanan politik Hamad bin Khalifa memperlihatkan ironi yang jarang ditemukan dalam sejarah monarki Kawasan: seorang pemimpin yang meraih kekuasaan dengan menggulingkan ayahnya sendiri, tetapi kemudian memilih menyerahkan kekuasaan itu secara damai kepada putranya. Kisah tersebut menjadi salah satu bab penting dalam sejarah politik modern Qatar.
