Inspektur Vijay dan Negara yang Tersesat di Lorong Kekuasaan Bayangan
POROS PERLAWANAN — Baghdad, kota yang mengumpulkan kerajaan-kerajaan besar ke dalam kuburan sejarahnya, kembali menyajikan adegan tragikomedi, sebuah negara yang tak lagi mampu mengenali tanda tangannya sendiri. Debu beterbangan, muazin memanggil, dan di tengah semuanya itu, Inspektur Vijay berdiri seperti saksi bisu atas betapa rapuhnya realitas jika disentuh oleh tangan-tangan yang tak kelihatan.
Keputusan resmi itu, yang melabeli Hizbullah dan Ansharullah sebagai teroris, muncul begitu rapi, begitu percaya diri, seperti anak haram yang lahir tanpa proses kehamilan. Tidak ada pejabat yang merasa mengandungnya; tidak satu pun yang ingat pernah menandatangani. Namun lahir, lengkap dengan cap negara dan ancaman pembekuan aset.
Vijay memandangi dokumen itu seperti menatap fosil makhluk yang seharusnya punah tiga zaman lalu. “Tidak ada kebijakan sebesar ini muncul tanpa dalang,” gumamnya. “Dan jika semua orang menyangkal, berarti dalangnya jauh lebih besar daripada keberanian mereka.”
Kepresidenan tampil dengan wajah polos, sepolos birokrasi yang sengaja dibuat lamban supaya kebenaran tersesat dalam prosesnya. “Kami tidak tahu,” kata mereka. “Tidak kami setujui. Bahkan baru dengar dari media.” Sebuah pernyataan yang begitu bersih sampai-sampai tampak dicuci dengan deterjen geopolitik.
Lalu Badan Pembekuan Aset maju, membawa alasan yang terdengar seperti candaan buruk di warung teh Baghdad: “Kesalahan teknis. Draft belum diedit.”
Hem… Bangsa yang dibentuk dari ribuan tahun peradaban tiba-tiba ingin kita percaya bahwa mereka tidak sengaja mengeluarkan keputusan eksternal paling sensitif dekade ini. Jika alasan seperti ini diberikan oleh seorang siswa pemalas, mungkin guru akan memaafkan. Namun negara?
Lorong-lorong politik Baghdad berbisik, seperti mereka selalu lakukan. Bisikan tentang tekanan dari dua Ibu Kota jauh yang selalu hadir meski tidak pernah datang: Washington, dengan sejarah panjangnya membajak keputusan di Kawasan; dan intelijen Israel, yang memperlakukan Timur Tengah seperti papan catur yang harus selalu diacak agar hanya mereka yang mengerti aturannya. Mereka tidak menulis kebijakan itu, tentu tidak. Mereka hanya memastikan tangan yang menulisnya gemetar pada ritme yang tepat.
Vijay tidak menuduh. Detektif sejati tidak perlu menuduh. Vijay hanya mengamati pola, dan pola itu seperti perubahan suhu ruangan, tak terlihat, tapi mustahil untuk diabaikan.
Apa yang membuat Vijay cemas lagi, bukan daftar terorisnya. Bukan pejabat yang berpura-pura amnesia. Bukan pula rakyat yang marah. Namun yang membuatnya cemas adalah fakta bahwa sebuah negara bisa kehilangan kendali atas penanya sendiri. Tentara bisa kalah dalam perang. Namun negara yang kehilangan kendali administratif atas dirinya? Itu bukan kekalahan, itu disfungsi ontologis.
Kantor Perdana Menteri pun mengumumkan penyelidikan. Ritus suci yang sudah hancur maknanya, seremonial untuk menenangkan publik, bukan untuk menemukan kebenaran. Vijay tahu ujungnya bahwa, kambing hitam kelas menengah ke bawah, atau laporan buram yang sengaja dibuat agar tidak menyentuh siapa pun yang tubuhnya terbuat dari kekebalan politik.
Laporan Vijay ditutup dengan kalimat yang bahkan ia sendiri enggan menuliskannya:
“Jika sebuah negara tidak tahu siapa yang menulis kebijakannya, maka negara itu bukan sedang berada dalam bahaya. Negara itu sudah tidak ada. Hal yang tersisa hanyalah nama, bendera, dan rutinitas birokrasi yang dijalankan oleh orang-orang yang berharap bayangan di balik layar pindah ke tempat lain.”
Vijay beranjak pergi, meninggalkan gedung yang lebih dingin daripada ketika ia masuk. Para pejabat sibuk merajut cerita. Massa turun ke jalan, membawa kemarahan yang tak lagi tahu harus diarahkan kepada siapa. Sementara di kejauhan, para pemain sebenarnya tidak melakukan apa-apa.
Para pemain sejati jarang bergerak. Di Timur Tengah, kekacauan bekerja sendiri. Karena absurditas bukan hanya metode, melainkan semacam infrastruktur.
