Laporan Al-Alam: AS Gunakan Pulau Bubiyan Kuwait untuk Menyerang Iran
POROS PERLAWANAN — Militer Amerika Serikat menggunakan Pulau Bubiyan di Kuwait untuk melancarkan serangan terhadap Iran dalam perang terbaru antara Amerika Serikat, Israel, dan Republik Islam Iran.
Menurut laporan Al-Alam pada Kamis (14/5/2026), militer Amerika menggunakan sistem rudal High Mobility Artillery Rocket System atau HIMARS yang ditempatkan di Pulau Bubiyan dengan dukungan fasilitas penjaga pantai Kuwait, pengawasan, dan logistik.
Mengutip sumber yang disebut mengetahui operasi tersebut, Al-Alam menyatakan serangan terhadap Iran dari Pulau Bubiyan berlangsung pada 24 Maret lalu.
Al-Alam juga menyebut rekaman yang dirilis pihak Amerika menunjukkan militer AS tidak hanya meluncurkan serangan dari Kamp Arifjan dan Kamp Buehring di Kuwait, tetapi juga dari luar pangkalan militer hingga kawasan permukiman.
Laporan tersebut muncul setelah Kuwait pada Rabu dilaporkan menyerang sebuah kapal Iran dan menahan empat warga negara Iran di dekat pulau di Teluk Persia yang disebut digunakan Amerika Serikat untuk menyerang Iran.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi melalui unggahan di platform X mengecam tindakan Kuwait itu sebagai upaya untuk memicu perpecahan di kawasan yang sedang berada dalam ketegangan akibat serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
Araghchi menegaskan Teheran memiliki hak untuk merespons tindakan Kuwait dan menuntut pembebasan segera empat warga Iran yang ditahan dalam insiden tersebut.
Menurut laporan itu, agresi militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran dimulai pada 28 Februari melalui serangan udara yang menewaskan sejumlah pejabat senior dan komandan Iran.
Negara-negara pesisir Teluk Persia, termasuk Kuwait, disebut memberikan akses wilayah dan ruang udara kepada Amerika Serikat dan Israel untuk melancarkan serangan terhadap Iran.
Sebagai balasan, angkatan bersenjata Iran meluncurkan 100 gelombang serangan terhadap target strategis Amerika Serikat dan Israel di kawasan.
Pada 8 April, setelah 40 hari konflik berlangsung, gencatan senjata sementara yang dimediasi Islamabad mulai diberlakukan. Namun perundingan awal antara Teheran dan Washington dilaporkan gagal mencapai kesepakatan.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump kemudian memperpanjang gencatan senjata secara sepihak, tetapi tetap memberlakukan blokade laut terhadap Iran.
Pemerintah Iran hingga kini belum menyatakan komitmen untuk melanjutkan putaran kedua perundingan dengan Amerika Serikat. Otoritas Teheran menyebut tuntutan Washington yang berlebihan dan tindakan terhadap kapal-kapal Iran sebagai hambatan utama penyelesaian konflik.
