Financial Times Bedah Rahasia Bertahannya Kota-Kota Rudal Iran selama Perang
POROS PERLAWANAN – Dalam sebuah laporan, Financial Times menyoroti bagaimana kota-kota rudal bawah tanah Iran mampu bertahan dari serangan udara Amerika Serikat dan Israel selama 40 hari. Serangan-serangan itu menargetkan kompleks besar rudal yang digali di pegunungan granit sekitar Yazd. Meski demikian, warga setempat menyatakan bahwa rudal Iran tetap diluncurkan tanpa henti dari lokasi-lokasi tersebut.
Diberitakan Fars, meski Donald Trump mengeklaim terjadinya kerusakan pada situs-situs nuklir tersebut, para pejabat Iran dan sejumlah analis menilai perang ini membuktikan bahwa kekuatan rudal Iran mungkin bisa ditekan, tetapi tidak bisa dimusnahkan. Sebagian besar persenjataan bahkan sudah kembali siap digunakan untuk pertempuran berikutnya.
Iran tetap mampu menjaga strategi asimetrisnya terhadap AS dan Israel, bahkan berani mengancam jalur pelayaran serta infrastruktur energi di Teluk. Dalam baku tembak terbaru, Garda Revolusi meluncurkan beberapa gelombang rudal balistik.
Seorang sumber internal Iran menegaskan, pengalaman perang ini memperkuat keyakinan bahwa kekuatan militer, bukan diplomasi, adalah jaminan utama keamanan. Ia menambahkan, “Hanya kekuatan yang bisa menjadi penangkal, bukan perdebatan di forum internasional”.
Kompleks rudal Yazd disebut membentang sekitar 500 meter di dalam pegunungan dan tetap aktif sepanjang konflik. Meski pintu masuk sempat hancur akibat bom, aksesnya kembali dibuka dalam waktu singkat.
Sebelum ini, Trump sebelumnya berjanji akan “menghapus industri rudal Iran dari muka bumi”. Sementara Israel mengeklaim bahwa sebagian besar peluncur Iran sudah lumpuh. Namun laporan intelijen AS menunjukkan, Iran masih mempertahankan sekitar 70% peluncur bergerak dan stok rudal pra-perang, serta berhasil memulihkan akses ke banyak pangkalan termasuk di sekitar Selat Hormuz.
Seorang diplomat Barat di Teheran mengonfirmasi bahwa Iran berhasil melindungi sebagian besar arsenalnya. Warga lokal juga menyaksikan rudal kembali ditembakkan hanya beberapa jam setelah lokasi dibombardir.
Financial Times menambahkan, meski jumlah rudal yang ditembakkan bervariasi, Iran berulang kali menunjukkan kemampuan membalas serangan dengan cepat, terutama menggunakan rudal jarak pendek untuk menghantam fasilitas energi dan infrastruktur di negara-negara Teluk.
Jumlah pasti kompleks rudal bawah tanah Iran tidak diketahui. Namun para analis memperkirakan ada puluhan lokasi yang tersebar di pegunungan. Menurut mereka, lokasi-lokasi dekat perbatasan barat lebih rentan terhadap serangan drone, sementara situs yang lebih dalam sulit dijangkau.
Financial Times menyatakan bahwa dalam dua dekade terakhir, Iran sengaja mendesentralisasi program rudalnya untuk menutup kelemahan Angkatan Udara dan sistem pertahanan. Langkah ini memperkuat peran Garda Revolusi yang mengawasi sebagian besar program tersebut.
Laporan juga mengeklaim adanya peran Korea Utara. Disebutkan bahwa mantan Komandan Pasukan Dirgantara IRGC, Syahid Amir Ali Hajizadeh, pernah mengunjungi fasilitas rudal bawah tanah Korea Utara, yang kemudian mempercepat pembangunan kota-kota rudal di Iran.
Financial Times menyimpulkan, perang terbaru tidak memusnahkan kekuatan rudal Iran, justru mempertegas keyakinan bahwa kemampuan militer adalah penjamin utama keamanan. Karena itu, diperkirakan program rudal dan Garda Revolusi akan semakin menguat posisinya dalam struktur pengambilan keputusan Republik Islam.
