Doktrin ‘Pertahanan Aktif’ Hizbullah Bikin Israel Mati Kutu
POROS PERLAWANAN – Hizbullah Lebanon mengumumkan, para pejuang Perlawanan dalam 24 jam terakhir telah melakukan 22 operasi militer, yang merupakan respons terhadap “pelanggaran gencatan senjata oleh Israel, serangan terhadap warga sipil, serta penghancuran rumah dan desa di selatan Lebanon.”
Diberitakan Fars, menurut pernyataan resmi Hizbullah yang dipublikasikan di media al-I’lam al-Harbi (Media Informasi Perang), para pejuang Hizbullah menargetkan beberapa konsentrasi pasukan dan peralatan militer Israel di wilayah Blat, Kafr Tabnit, Majdal Zun, Marun al-Ras, Jadida Meis al-Jabal, dan beberapa poros operasi lainnya dengan menggunakan rudal, drone bunuh diri, dan tembakan artileri.
Hizbullah juga melaporkan sebuah penyergapan terhadap pasukan infanteri Israel di poros Arnoun–al-Zafata menuju wilayah al-Ma’bar di pinggiran permukiman Kafr Tabnit. Dalam pernyataan tersebut dijelaskan, pasukan Israel, yang memasuki wilayah yang telah dipersiapkan sebelumnya, menjadi target ledakan bom, serta tembakan senjata ringan dan sedang. Selanjutnya, mereka juga dihujani serangan artileri Hizbullah, yang menyebabkan pasukan Israel mundur dari posisi tersebut.
Selain itu, beberapa kendaraan militer Israel, termasuk kendaraan lapis baja jenis Yaghi, Nemera, dan Humvee, di wilayah Zoutar al-Sharqiya, al-Qantara, dan Bukit al-Hammas di selatan al-Khiyam menjadi sasaran drone bunuh diri “Ababil.” Hizbullah menegaskan, sejumlah serangan tersebut langsung mengenai sasaran.
Gerakan Perlawanan ini juga melaporkan penargetan sebuah basis artileri yang baru didirikan oleh Militer Israel di sekitar permukiman al-Adisa, sebuah pusat komando di sekitar Yahmar al-Shaqif, serta sebuah pasukan yang ditempatkan di sebuah bangunan di kota al-Khiyam. Hizbullah menyatakan, semua sasaran ini diserang dengan drone bunuh diri FPV.
Hizbullah juga mengumumkan pertempuran langsung dengan sekelompok tentara Pendudukan Israel yang memasuki pemukiman Majdal Zun. Menurut pernyataan resmi, para pejuang Perlawanan terlibat pertempuran menggunakan senjata ringan, senjata sedang, dan peluncur roket melawan pasukan Zionis, serta berhasil menghancurkan beberapa kendaraan yang menyertai mereka. Hizbullah menegaskan bahwa saat pernyataan ini dirilis, api masih berkobar di kendaraan-kendaraan yang menjadi sasaran.
Di bagian lain dari laporan ini, Hizbullah menyatakan bahwa sebuah drone Israel tipe “Hermes 450” telah ditembak dengan rudal darat ke udara di langit wilayah Iqlim al-Tuffah, hingga memaksa drone tersebut mundur.
Gerakan Perlawanan Islam Lebanon menegaskan komitmennya untuk terus membela Lebanon dan rakyatnya. Mereka menyatakan akan melanjutkan operasi sebagai respons terhadap apa yang mereka sebut sebagai “agresi dan kejahatan Israel.” Hizbullah melihat tindakan-tindakan ini sebagai bagian dari upaya untuk mencegah tercapainya tujuan Israel di Lebanon.
Doktrin ‘Pertahanan Aktif’ Hizbullah Lebanon
Hizbullah Lebanon dalam operasi dan serangannya mengandalkan doktrin “pertahanan aktif dan ofensif”; sebuah pendekatan yang tidak hanya terbatas pada menangkis serangan musuh, tetapi juga secara bersamaan menargetkan kedalaman taktis musuh.
Dalam operasi-operasinya, Hizbullah menggabungkan serangan artileri dan rudal dengan penggunaan efektif drone untuk memburu kendaraan lapis baja secara presisi. Pada saat yang sama, mereka menerapkan taktik penyergapan gabungan dengan penembakan bertahap; taktik yang dirancang untuk menetralkan keunggulan teknologi musuh.
Selain itu, Hizbullah memiliki keunggulan intelijen signifikan yang terlihat dalam pemantauan pergerakan malam pasukan Israel sebelum operasi dimulai. Hal ini memungkinkan perancangan area penyergapan yang sangat tepat dan pengelolaan terpadu seluruh front pertempuran; sebuah faktor yang telah mengambil inisiatif dari Israel dan menempatkannya dalam kondisi kelelahan yang berkelanjutan.
Yoav Limor, analis militer dari surat kabar Israel Hayom, mengonfirmasi kebuntuan Militer Zionis di medan perang ini. Dia mengakui, perang di Lebanon yang awalnya dirancang sebagai perangkap strategis terhadap Hizbullah, kini telah berubah menjadi perangkap strategis yang menjebak Israel sendiri. Menurutnya, Israel saat ini bukan lagi memiliki kebebasan bergerak, melainkan terperangkap dan mati kutu di selatan Lebanon. Di sisi lain, Hizbullah memperoleh kebebasan bergerak yang lebih besar, bahkan mampu melakukan operasi di dalam Wilayah Pendudukan.
Operasi gabungan Hizbullah dapat digambarkan sebagai “keruntuhan ilusi Israel.” Hizbullah pada bulan keempat perang ini menunjukkan, kekuatan tempur dan komandonya telah pulih sepenuhnya. Respons mereka terhadap pelanggaran dan agresi Israel bukan sekadar simbolis, melainkan sebanding dengan tingkat tindakan tersebut.
Keberhasilan Hizbullah dalam menghentikan kemajuan sebuah satuan lapis baja yang terdiri dari 12 kendaraan militer dan menghancurkan empat tank dalam sebuah pertempuran pada hari Jumat memperkuat sebuah perimbangan jelas: “Setiap operasi darat Israel di masa depan dapat menjadi tindakan yang sangat mahal dan sangat berisiko.”
Perkembangan di medan pertempuran menunjukkan, Hizbullah adalah pihak yang menentukan ritme pertempuran dan telah mengubah desa-desa garis depan menjadi medan maut bagi kendaraan lapis baja Israel.
Sebaliknya, Militer Israel lebih banyak mengandalkan serangan udara dan artileri di sepanjang garis pertempuran serta jalur logistik dan dukungan di wilayah Nabatieh, Jibsheet, Sarifa, dan dataran tinggi Iqlim al-Tuffah. Artileri Israel terutama menggunakan peluru yang mengandung fosfor, yang sebagian besar menargetkan desa-desa garis depan untuk menciptakan perlindungan berupa api dan asap, sehingga memfasilitasi perlindungan dan kemajuan pasukan darat mereka.
