Loading

Ketik untuk mencari

Iran

Mearsheimer: Keletihan Mental dan Fisik Trump Cerminan Kondisi AS di Dunia Saat Ini

POROS PERLAWANAN – Pakar hubungan internasional terkemuka dari Universitas Chicago, John Mearsheimer, memberikan analisis tajam mengenai dinamika ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Menurutnya, Iran telah berhasil membalas setiap eskalasi militer yang dilakukan oleh pihak Amerika Serikat dengan tindakan yang lebih tegas, yang pada akhirnya menjebak Donald Trump dalam sebuah “kebuntuan strategis.”

Fars melaporkan, Mearsheimer menilai Trump kini terjepit di antara dua pilihan yang kontradiktif. Di satu sisi, demi menjaga citra dan wibawa, Trump kerap melontarkan ancaman keras, mulai dari serangan militer hingga penyitaan sumber daya energi Iran. Namun, di sisi lain, ia terus-menerus harus “melunak” dengan membuka pintu negosiasi dan gencatan senjata.

Berdasarkan analisis Mearsheimer, kebimbangan ini bukan sekadar masalah personal Trump, melainkan buah dari realitas lapangan. Setiap kali AS mencoba menaikkan eskalasi, Iran merespons dengan balasan yang setara, membuat Washington tidak mampu mendikte situasi melalui ancaman militer belaka.

Mearsheimer menepis klaim para tokoh neokonservatif AS yang mendorong perang sebagai solusi. Ia menilai pandangan tersebut sebagai “fantasi” yang jauh dari realita. Tidak seperti Irak, Iran adalah negara dengan geografi yang luas, populasi besar, dan memiliki kemampuan pertahanan regional yang solid.

“Jika AS memaksakan perang, mereka justru akan menghadapi konsekuensi ekonomi yang sangat berat, mirip dengan krisis minyak tahun 1970-an. Hal ini berpotensi menyeret ekonomi Barat ke jurang kehancuran. Pada akhirnya, tindakan agresif AS dinilai hanya akan berakhir pada penarikan mundur atau ‘gencatan senjata yang memalukan setelah menyadari keterbatasan kekuatan mereka,” kata Mearsheimer.

Berkaca pada perang Ukraina dan Asia Barat saat ini, Mearsheimer menyarankan agar Iran terus memperkuat kemampuan rudal balistik, rudal jelajah, dan drone-nya. Baginya, teknologi ini adalah instrumen krusial bagi Iran untuk menciptakan efek gentar dan meningkatkan posisi tawar di meja perundingan.

Mearsheimer menegaskan, Iran tidak memiliki ambisi untuk menjadi hegemon regional yang agresif. Sebaliknya, Teheran lebih berfokus pada stabilitas Kawasan agar dapat mengamankan posisi ekonomi dan keamanan nasionalnya. Penguasaan atas Selat Hormuz pun dianggap sebagai aset strategis yang memberikan keunggulan bagi Iran untuk menekan biaya agresi lawan.

Di akhir analisisnya, Mearsheimer juga menyoroti kondisi fisik dan mental Trump yang terlihat lelah. Menurutnya, kelelahan ini adalah cerminan dari beban berbagai krisis global yang harus dihadapi AS, yang secara perlahan mengikis posisi strategis Washington di panggung dunia.

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *