Washington Post: Awalnya Trump Ingin Gulingkan Pemerintahan Iran, Kini Puas dengan Pembukaan Selat Hormuz
POROS PERLAWANAN — Harian Washington Post menilai kesepahaman awal antara Iran dan Amerika Serikat menunjukkan perubahan besar dalam tujuan Presiden Donald Trump terhadap Teheran. Jika sebelumnya Trump dikaitkan dengan upaya mendorong perubahan Pemerintahan di Iran, kesepahaman yang tercapai kini dinilai lebih berfokus pada pembukaan kembali Selat Hormuz dan penghentian perang yang mahal di Kawasan.
Menurut Fars News Agency pada Selasa 16 Juni, Washington Post menulis bahwa kesepahaman tersebut mengakhiri konflik berbiaya tinggi, namun kepemimpinan Iran tetap bertahan dan isu program nuklir ditunda ke perundingan berikutnya.
“Trump menginginkan runtuhnya Pemerintahan Iran. Namun pada akhirnya ia menerima pembukaan kembali Selat Hormuz. Kesepakatan ini mengakhiri perang yang mahal, tetapi kepemimpinan Iran tetap utuh dan isu nuklir ditunda untuk negosiasi di masa mendatang”, tulis Washington Post.
Media tersebut menyebut harapan munculnya pemberontakan internal terhadap Pemerintah Iran tidak pernah terwujud selama konflik berlangsung.
Washington Post juga menilai para pemimpin Iran dalam beberapa bulan terakhir berhasil menunjukkan kemampuan mereka menghadapi tekanan militer Amerika Serikat sekaligus mempertahankan sejumlah instrumen strategis yang dimiliki negara tersebut.
Menurut laporan itu, Iran memperlihatkan kemampuannya untuk menutup Selat Hormuz, mengganggu pasar energi global, serta menciptakan perpecahan yang semakin dalam antara Trump dan Perdana Menteri Israel, Benyamin Netanyahu.
Washington Post menulis bahwa perbedaan pandangan antara kedua pemimpin tersebut berkembang selama konflik dan menjadi salah satu faktor yang memengaruhi dinamika kebijakan Amerika Serikat terhadap Iran.
Media itu juga menyoroti perubahan sikap Trump terhadap isu perubahan Pemerintahan di Iran. Jika sebelumnya ia mendorong rakyat Iran untuk menentang para pemimpinnya, kini Trump dinilai lebih menekankan jalur negosiasi dengan Pemerintah yang berkuasa di Teheran.
“Pada Minggu, Trump mengatakan bahwa dirinya tidak pernah peduli terhadap perubahan rezim”, tulis Washington Post.
Sementara itu, peneliti senior Middle East Institute, Brian Katulis menilai bahwa jika kesepahaman berjalan sebagaimana dilaporkan, Iran tetap akan mempertahankan instrumen-instrumen utama yang selama ini menjadi sumber pengaruh regionalnya.
Menurut Katulis, rudal balistik, pesawat nirawak, serta jaringan sekutu Iran di Lebanon, Irak, dan Yaman akan tetap berada di bawah kendali Teheran meskipun sebagian kapasitasnya mengalami pelemahan akibat konflik.
“Trump pada dasarnya telah mundur dari posisinya,” kata Katulis.
Pandangan lain disampaikan mantan Duta Besar Amerika Serikat untuk Israel, Dan Shapiro. Menurutnya, Iran memiliki pengalaman panjang dalam memperpanjang proses negosiasi sambil berupaya memperoleh keuntungan tambahan selama perundingan berlangsung.
Shapiro juga menilai isu Selat Hormuz telah berubah dari sekadar instrumen tekanan teoritis menjadi alat pengaruh nyata yang berdampak langsung terhadap ekonomi global.
“Iran telah mengubah pengaruh teoritis itu menjadi alat tekanan yang nyata dan kuat yang membebani ekonomi dunia serta membuat Presiden Trump ketar-ketir,” ujarnya.
