Lapid Ungkap Netanyahu Pernah Janjikan Kejatuhan Iran kepada AS
POROS PERLAWANAN — Pemimpin oposisi Israel Yair Lapid mengungkap bahwa Perdana Menteri Benjamin Netanyahu pernah meyakinkan Amerika Serikat bahwa Republik Islam Iran akan runtuh. Menurut Lapid, narasi tersebut digunakan untuk mendorong dukungan Washington terhadap perang yang dilancarkan Israel. Pernyataan itu disampaikan dalam pidatonya di parlemen Israel sebagaimana dilaporkan Farsnews Agency pada Sabtu (20/6/2026).
Lapid menilai Netanyahu gagal mengelola perang sekaligus diplomasi yang menyertainya. Meski mengaku mendukung serangan terhadap Iran, mantan perdana menteri Israel itu menyatakan tidak dapat menerima cara pemerintahan Netanyahu menangani konflik tersebut.
“Seperti kebanyakan warga Israel, saya mendukung perang melawan Iran. Namun, mustahil mendukung cara perang itu dikelola,” kata Lapid.
Menurut Lapid, Netanyahu sebelumnya menjanjikan kemenangan bersejarah bagi Israel. Namun hasil yang muncul, menurutnya, justru berlawanan dengan ekspektasi yang dibangun pemerintah.
“Sebaliknya, kami menghadapi krisis dengan Amerika, Selat Hormuz tetap terbuka bagi Iran, dana mengalir kepada Korps Garda Revolusi Islam, rudal-rudal balistik diarahkan ke Israel, dan Hizbullah masih menjadi faktor penting dalam konflik,” ujarnya.
Dalam pidatonya, Lapid juga mengkritik kegagalan pemerintah Israel membangun dukungan internasional selama perang berlangsung. Menurut dia, Netanyahu bahkan tidak mampu menjelaskan tujuan dan arah perang tersebut kepada dunia.
Meski tetap membela tindakan militer Israel terhadap Iran, Lapid menilai pemerintah gagal menjalankan diplomasi yang efektif untuk memperoleh legitimasi internasional.
Kritik paling tajam disampaikan saat menyinggung peran Netanyahu dalam mendorong keterlibatan Amerika Serikat dalam perang.
“Bagaimana Anda bahkan gagal menjelaskan perang ini kepada dunia? Netanyahu meyakinkan Amerika dengan sebuah skenario bahwa rezim Iran akan runtuh,” katanya.
Lapid menuduh Netanyahu tidak menjelaskan berbagai risiko yang dapat muncul jika perang meluas. Risiko itu mencakup dampak terhadap pasar energi global, persoalan Selat Hormuz, situasi di Lebanon, serta ketidakjelasan strategi setelah perang.
“Dia tidak menjelaskan dampaknya terhadap pasar energi, tidak menjelaskan persoalan Selat Hormuz, tidak menjelaskan Lebanon, dan yang paling penting, dia sebenarnya tidak tahu bagaimana menjatuhkan rezim Iran. Ketika skenario itu tidak terwujud, dia kehilangan kepercayaan Amerika di tengah perang,” ujar Lapid.
Pernyataan tersebut menjadi salah satu kritik paling terbuka dari tokoh oposisi Israel terhadap strategi Netanyahu dalam menghadapi Iran dan mengelola hubungan dengan Amerika Serikat. Kritik itu juga mencerminkan menguatnya perdebatan di internal politik Israel mengenai hasil, biaya, dan konsekuensi perang terhadap Iran.
