Loading

Ketik untuk mencari

Asia Barat

Kapal UEA Hanya Boleh Melintasi Selat Hormuz Setelah Membayar Ganti Rugi

POROS PERLAWANAN — Uni Emirat Arab (UEA) selama perang terakhir disebut terlibat langsung dalam tindakan terhadap Iran, termasuk merusak sejumlah infrastruktur, membekukan aset para pedagang Iran, serta mengusir mereka dari wilayahnya. Karena itu, kapal-kapal UEA dinilai hanya boleh diizinkan melintasi Selat Hormuz setelah negara tersebut membayar ganti rugi kepada Iran.

Dalam artikel yang diterbitkan Farsnews Agency pada Sabtu (20/6/2026), disebutkan bahwa di antara seluruh negara di kawasan Teluk Persia, Uni Emirat Arab merupakan negara yang paling aktif menyelaraskan diri dengan Israel dan memperkuat hubungan dengan rezim tersebut melalui penandatanganan Perjanjian Abraham pada 2020.

UEA juga menjadi tuan rumah Pangkalan Udara Al Dhafra, salah satu fasilitas militer utama Amerika Serikat di kawasan.

Menurut artikel tersebut, pada hari-hari awal perang, Abu Dhabi mengusir warga Iran yang berada di UEA serta membatasi akses mereka terhadap aset yang bernilai miliaran dolar.

Fars juga menyebut bahwa pada pagi hari dimulainya gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat, UEA melakukan serangan terhadap fasilitas minyak Iran di Pulau Lavan.

Skala keterlibatan tersebut disebut cukup luas. Artikel itu mengutip laporan Wall Street Journal berjudul Peran Rahasia UEA dalam Perang Mencakup Puluhan Serangan terhadap Iran, yang menyebut bahwa Uni Emirat Arab melakukan puluhan serangan udara terhadap Iran sejak hari-hari pertama perang hingga sehari setelah pengumuman gencatan senjata pada April.

Menurut artikel tersebut, tindakan UEA mendorong Iran memperluas cakupan pengelolaan Selat Hormuz hingga ke Pelabuhan Fujairah. Pelabuhan itu selama ini digunakan UEA untuk mengekspor sekitar 1,5 juta barel minyak per hari melalui jalur pipa Habshan-Fujairah tanpa melewati Selat Hormuz.

Artikel tersebut menilai ancaman UEA terhadap Iran tidak hanya berada pada sektor militer dan keamanan, tetapi juga pada sektor keuangan. Selama bertahun-tahun, sebagian aktivitas perdagangan luar negeri dan transaksi keuangan Iran dilakukan melalui Dubai. Namun, menurut artikel itu, UEA turut meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Iran melalui gangguan terhadap sistem valuta asing dan pemberian informasi kepada Amerika Serikat.

Atas dasar itu, Fars menilai permusuhan Uni Emirat Arab terhadap Iran tidak berbeda dengan permusuhan yang ditunjukkan Israel. Karena itu, UEA dinilai memiliki posisi yang berbeda dibandingkan negara-negara Arab lain di kawasan Teluk Persia.

Artikel tersebut menyimpulkan bahwa ketika Selat Hormuz kembali dibuka, kebebasan pelayaran tidak semestinya berlaku bagi kapal-kapal Uni Emirat Arab.

Abu Dhabi, menurut artikel itu, harus mempertanggungjawabkan tindakan yang dianggap merugikan Iran dan membayar ganti rugi atas serangan yang dituduhkan kepadanya. Selain itu, UEA juga diminta menjelaskan hubungan eratnya dengan Israel karena, menurut artikel tersebut, Iran tidak dapat menerima kehadiran aktif Israel yang dinilai mengancam di wilayah perairan yang berbatasan langsung dengannya.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *